Sabtu, 03 Oktober 2015

Last Kiss - Lucky


Poster by Laykim @ Indo Fanfictions Arts

Chapter sebelumnya >> Last Kiss 1 >> Last Kiss 2
 

Summary :
“Maaf. Aku berhak menutup rasa cinta dengan alasan takut terluka lagi. Takut membuat pintu hatiku rusak kembali”
****
“Hahahahaaaa….. sejak kapan kau masuk dan menjadi seorang angkatan. Pantas kau hitam sekarang. Ingat, waktu jaman kita sekolah? Kau tak pernah se-laki-laki ini” Tawaku lepas. Kai hanya memberikan senyum malunya saat itu.

Tuhan, aku mohon hentikan pertemuan-pertemuan lain yang hanya membuatku terluka.

****

Hari ini aku bangun terlampau siang. Benar-benar siang. Jam 11 siang. Untung hari libur, senyumku senang. Aku beranjak dari tempat tidur merapikan hal-hal yang perlu dirapikan. Kepalaku sedikit pening kebanyakan tidur. Sebotol air sisa jalan-jalanku bersama Kai terpampang di meja sebelah kasurku kemudian kuteguk. Kai? Terurai semua ingatan betapa kemarin aku melakukan perjalanan meriah bersamanya.

Kuletakkan botol minum itu, mataku tertuju pada kartu undangan yang sudah terlipat-lipat.

Loh..ini undangan milik Sehun, kenapa masih disini? Seingatku 3 bulan yang lalu sudah ku kemas dalam tong sampah. Sekarang kembali lagi. Ah..sudahlah.

Kuhembuskan nafasku lega, kupandangi undangan itu lekat-lekat memastikan kembali bahwa hatiku baik-baik saja. Hatiku sudah mulai menata kepingan lara. Setelah Sehun menikah dengan Na Eun segalanya menjadi sepi. Aku menyadari bahwa jalan hidupku seperti ini. Ada saat aku harus berhenti, berhenti untuk memaki pada Tuhan. Berhenti meminta diturunkannya pangeran untuk mengobati hatiku yang gersang. Benar. Aku harus bangkit tapi tidak untuk memulai lagi, tidak untuk mengingat Kris, Sehun ataupun yang lainnya.

Tuhan sedang seadil-adilnya, aku terlalu banyak memaksa perasaan.

Kutenangkan diriku sejenak, merelakan semua yang tak pernah mudah tapi harus kulakukan. Telponku berdering.

“Hallo? Kai?”

Suara Kai tampak kecil.

“Hallo? Putus-putus….via Line saja”

Tuttt….

Aku hening. Ada apa dengan Kai?

Line....

Pop up Line muncul begitu saja. Kuperhatikan dengan seksama, tertulis dalam layarku sebuah nama Anti Baekhyun. Ah…Kakak. Aku mendesah malas. Dia mengirimiku emot kiss kiss tidak jelas.

Aku sudah di depan rumahmu lohh~~ :* :*

Kenapa harus ku sebut anti Baekhyun karena aku benar-benar anti dengan kakak laki-lakiku yang satu ini. Dia overreacting.

Aku berjalan keluar kamar dengan malas-malasan. Ku lempar handphoneku ke kasur berseprei pink. Handphone itu mental, mungkin terlau keras kulempar. Dia terbang tinggi-tinggi hampir sedadaku lalu kutangkap sekenanya. Line muncul lagi. Kini dari Kai.

Kapan kita bisa bertemu lagi?


Sebelum kubalas Line milik Kai, pintu depan sudah menggedor-nggedor. Ohh men..sudah terlanjur ter- Read

“Iyaa kak! Aku datang…” Teriakku sambil melempar hapeku kembali.

Kakak teroverku kembali dari hutan. Dia memelukku erat, antara menyeruduk atau memeluk aku tak tahu, yang kurasakan adalah perasaan mahalega. Kakak kembali dan aku tetap sentimen terhadapnya.

“Rinduuuuuu”. Wajah kakak tenggelam dalam dekapan. Karena dalam dekapan semua beban terasa lenyap. “Hei, kau tadi memanggilku kak? Senangnya….” Dia semakin memelukku erat.

“Jangan gila, Baek. Itu hanya dalam mimpimu saja” Balasku singkat sok sinis.

“Ahh..kau ini, bagaimana? Apa ada yang berubah dalam hidupmu?”

“Tentu saja! Tunggu, yang mestinya bertanya adalah aku. Kau tau betapa ibu khawatir tentang dirimu. Kau memberi kabar seminggu sekali dan itu tidak pasti. Aku tau kau seorang dokter yang entah dinas dihutan antah berantah mana aku tak tau. Setidaknya beri kami penjelasan dimana kau berada. Bukan sekedar transfer uang, bukan sekedar Skype!”.

Aku sedikit tersengal. Iya, si Baekhyun ini berprofesi sebagai dokter. Salah satu dokter di Rumah Sakit terkenal di Korea. Dulu kami sekeluarga tak pernah takut kehilangan Baekhyun tapi sejak dia ditempatkan di daerah terpencil kami mulai jauh. Aku sayang padanya sekaligus merasa jauh dan beginilah kami sekarang. Menjalin komunikasi melalui layar Skype. Aku sinis karena dia benar-benar menyebalkan.

Kini, wajahnya tampak sayu, bajunya bau pohon pinus. Menggotong tas ransel yang tak tau isinya apa. Dia benar-benar seperti Tarzan tapi masih Baekhyun itu. Baekhyun yang masih hangat meskipun aku menggerutu, Baekhyun yang masih manis-manis meskipun aku tak pernah menyebutnya kakak. Tak pernah kupanggil kakak, entahlah karena itu seperti ada gap antara kami berdua ketika kami saling memanggil kakak adik.

Aku tak tega cerewet lagi dihadapannya tapi tetap saja bibirku tak pernah bersabar menghadapi dia. “Kau sudah menghubungi Ibu kalau datang ke sini?”

“Sudah”

“Apa katanya?”

“Tidak ada yang perlu dicemaskan”

Dia bergitu santai dalam menjawab. Seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Kau kakak yang paling kusayang sekaligus yang paling membuatku meradang. Aku dibuat bertanya-tanya kenapa aku harus dipertemukan dengan berbagai macam pria yang membuatku gelap gulita. Tidak juga Kris, Sehun dan sekarang Baekhyun. Hhhh….keluhku panjang.

“Hei aku lapar” ucapnya spontan.

“Tinggallah di sini semalam, besok segera hengkang dan berpulang sana ke rumah Ibu dan Ayah!”

“Hahahaha….aku sudah video call….” Lagi lagi video call, aku menggerutu “Aku bilang aku tinggal di rumah K-I-M S-A-N-N-Y sampai aku dipindah tugaskan di dekat rumah seperti dulu”

Dia benar-benar mengejekku.

“Oh…nice!!! Untuk yang dipindah tugaskan dan Shit!! Untuk yang tinggal di rumahku” Ekspresiku campur aduk seketika.

****

Aktivitas di mulai lagi. Ada yang aneh dengan Baekhyun sebelum aku berangkat ke kantor. Dia menatapku, tersenyum-senyum polos sambil mengenakan piyama garis-garis. Rambut acak gaul itu membuatku muak melihatnya. Ah,,mungkin perasaanku saja. Kemudian kuhembuskan perasaan setengah lega mengingat bahwa kakakku kembali tanpa masalah. Semalaman aku dan Baek mulai membicarakan hal-hal yang semestinya dibicarakan sebagai kakak adik, mulai dari pekerjaanku sekarang, rencana Baek kedepannya seperti apa, hingga kisah percintaan kami. Baek sudah punya kekasih dan nyatanya dia tak pernah cerita sedikitpun. Tapi itu semua setimpal, karena aku juga tak berbagi apapun sampai malam kemarin. Baekhyun hanya tertawa mendengar kisah tragisku ditinggal Kris kemudian Sehun. Baek dengan lagaknya sok tampan itu berkata bahwa aku seharusnya sudah dititik lelah.

‘…maka rapikan saja hatimu, tidak usah menunggu yang baru’

Ku telaah kembali perkataan Baek malam itu, mungkin Baek ada benarnya. Sesekali bolehlah aku menuruti perintahnya.

Ada suara berdering di hapeku. Hape? Ah…belum kubalas pesan Kai sejak kemarin. Aku lupa. Dengan segera kutekan hapeku pelan-pelan, membuka kuncinya dengan sekali usapan. Memilih aplikasi Line lalu mencari-cari nama Kai di tumpukan spam spam yang….tidak…je-las.
Mataku melotot melihat pesan Kai sudah terbalas rapi dan manja-manja. Dibajak.

“B-A-E-K-H-Y-U-N!!!!!!!” teriakanku mungkin sudah menguar seantero kantor.

****

“Apa ini maksudnya, Baek!!???” Kujambak rambutnya jengkel, dia nyengir kesakitan.

“Aa…aaa…kau ini pulang-pulang…seharusnya mengucapkan ‘aku pulaangg’ bukan berderap menghampiriku lalu…aaa…aa ” Semakin dia cerewet semakin keras genggamanku. “ampuuun….”

Kini aku terduduk kesal. Masih mengenakan setelan kerja, ku sodorkan handphoneku padanya, memaksa tatapan Baekhyun tertuju pada layar. Dia seakan-akan menuruti perintahku dan mulai manggut-manggut membaca setiap chatnya dengan Kai menggunakan akunku.

Kai : Kapan kita bisa bertemu lagi?

Kim Sanny : Maaf, Kai aku baru membalas chatmu malam-malam. Aku dikejutkan dengan kedatangan kakak tercinta siang tadi…^^

Kai : Oh, tak apa. Baekhyun maksudmu? Sudah lama aku tak pernah melihat dia, terakhir kali aku bertemu dia, waktu kita perpisahan SMA bukan?

Kim Sanny : Ahh..kau masih ingat yaaa…aku jadi terharu loh.

Kai : Sepertinya ada yang aneh denganmu.

Kim Sanny : Ah tentu saja tidak. Itu hanya perasaanmu saja khekhe…

Kai : Jadi bagaimana soal tawaranku?

Kim Sanny : Tawaran apa?

Kai : Aku ingin kita bisa bertemu lagi setelah aku bebas tugas Negara. Mungkin aku juga bisa bertemu Baekhyun lagi.

Kim Sanny : Hei bocah, jika kau ingin bertemu dengan Sanny,  kau harus memanggilku kakak…*smirk


“Kau masih tidak mau mengaku bahwa ini semua adalah ulahmu, Baek?” Kujewer telinganya sekarang “Berhentilah untuk kekanak-kanakan..” Sudah tak berdaya lagi aku memakinya kecuali mataku ini sudah sibuk berputar lelah.

Kai mengaduh lagi, ada raut wajah merah dipipinya. Samar, antara malu dan jahil, “Aku hanya tidak sanggup membiarkan handphone itu mengagur itu saja” Baek masih berkilah “Jadi sekarang kau dan Kai….”

“Kami hanya teman biasa!” Kutegaskan dengan sekali hentakan.

“Kai..Kai yang pernah jatuh cinta padamu itu, dan kau sempat menolaknya kan?” Baek berusaha mengingat masa lalu “…tadi menyebut-nyebut tugas Negara? Dia ikut militer?”

Aku dengan menyerah mulai menceritakan sedikit kisahku soal Kai. Benar adanya, bahwa Kai sempat mengutarakan perasannya padaku tapi itu dulu waktu aku masih duduk dibangku sekolah menengah. Aku lupa-lupa ingat, terlontar begitu saja dari mulutnya. Waktu itu pesta prom sekaligus perpisahan. Aku tak membawa siapapun waktu prom jadi aku membawa Baekhyun. Itu hal paling bodoh yang pernah kulakukan. Baek justru sibuk bercanda dengan gadis-gadis lain. Di saat itu pula, insiden antara aku dan Kai terjadi. Ada alasan kenapa aku tak bisa menerimanya saat itu, aku masih ingin focus kuliah. Ya, pikiran anak SMA. Dengan kesabaran,
Kai hanya tersenyum seolah memahamiku dan sekarang dengan senyumnya juga dia hadir mendatangiku.

Masih ku ingat bagaimana tampilannya waktu itu, dia datang sendirian juga waktu Prom. Memakai kaus sweter abu-abu ketika yang lain memakai jas. Potongan rambut yang cupu. Wajahnya masih tegas seperti preman sekolah tapi aku tau dia masih bisa lembut padaku. Padahal aku sudah dingin-dinginnya. Kami tak pernah bicara apapun waktu disekolah, kecuali saat aku minta uang iuran sekolah. Aku bendahara kelas. Dia tidak pernah menjadi pria yang ribet untuk urusan hidupnya waktu itu. Dia bukan pria terpintar tapi juga bukan pria paling bawah. Cukup diam tapi lebih-lebih dalam memperhatikan.

“Kenapa ceritamu jadi sendu?” Ujar Baek.

Aku hanya terdiam, memandang Baek penuh kejujuran. Bibirku menyunggingkan senyuman yang tak pernah setulus ini.

“Tidak, Baek” Aku kembali tersadar.

“Tidak apa?” Baekhyun mengulikku lebih dalam.

“Aku tidak akan jatuh dilubang yang sama” Kalimat yang jelas terlontar menandakan aku kembali tegas pada diriku.

Setelah kejadian bajak membajak, aku meminta maaf pada Kai atas ulah
Baekhyun melalui chat kemudian kami juga sepakat untuk bertemu lagi. Ada setitik bahagia dalam diriku.

****

Seperti yang telah kusampaikan, aku dan Kai kembali bertemu setelah bebas tugas. Dia menjemputku di rumah. Dengan pakaian rapi dia masih terlihat seperti anak baik-baik. Berbeda dengan 2 pria masa laluku. Sehun dengan paras selengekan dan Kris dengan model metropolitan. Ups..kenapa aku harus sibuk membandingkan mereka dengan Kai. Kemungkinan Kai bisa lebih baik dari pada mereka. Ah..kenapa aku jadi membela dia sekarang.

Kini Kai harus berhadapan dengan Baek. Mereka terlihat beramah-tamah di meja dapur. Aku mengambilkan minum untuk mereka berdua. Baek tampak suka sekali bicara. Seperti meneliti sesuatu dari Kai.

“Jadi kau sekarang seorang tentara militer? Ah..pasti menyenangkan bisa traveling kemana-mana. Aku jadi iri” Goda Baek.

“Tidak, biasa saja. Aku tidak sampai pergi ke luar Korea. Hanya berputar disini saja, sesekali mengawal pejabat penting” Kai menjawab dengan sopannya. Sosok pria dewasa.

“Ya…aku mengerti. Kau pasti cukup terkenal dikalangan gadis-gadis ya? Mengaku sajalah…hehe” Baekhyun masih tetap menggoda.

Si troublemaker ini membuatku malu, “Baek, jaga bicaramu ya”. Lirikku pada Baek, sembari sibuk memilih kumpulan flat shoes dari dalam lemari.

Kai mengulum senyum kemudian menjawabnya ramah, “Tidak banyak gadis yang ku kenal. Sekelilingku Pria”

Yup benar! Masuk akal Kai menjawab. Baek mencoba mengganti pertayaan dengan pertanyaan yang lebih bodoh.

“Kau sudah pernah naik tank? Menembak orang? Kau punya senapan? Kau bisa membawaku naik helicopter seperti film Fifty Side of Grey tidak? Berapa isi peluru dalam sebuah pistol kecil?”

Aku hanya tidak habis pikir dengan Baekhyun. Aku hanya menggelengkan kepala, pipiku tergambar jelas bahwa aku malu dibuatnya. Tanganku menarik lengan Kai yang sedang meneguk segelas teh yang baru saja kubuat “Ayo cepat kita segera pergi” tarikku tergesah-gesah. Kai meletakkan cangkirnya lalu mengikutiku dari belakang. Baekhyun tertegun, masih menelan bulat-bulat pertanyaannya yang terlalu konyol.

“Mungkin kita akan berbincang lagi suatu saat, Baek” Kai terkekeh pelan.

“Heiii, panggil aku kakak!” teriak Baek dari arah dapur.

“Lain kali saja ya” Kai menyahut begitu hangat.

Entahlah kenapa Kai begitu ramah. Aku dicerca rasa curiga, sekaligus rasa takut terlalu larut dalam perasaan suka. Mmm..tapi kalau boleh kukatakan, dia satu-satunya pria yang bertemu dengan anggota keluargaku. Ya walupun itu Baekhyun, tapi dia tetap anggota keluargaku.  Aku kembali tersenyum tipis. Meliriknya sekilas dan memandang parasnya yang keras. Kai mengendarai mobil dengan cukup handal seperti biasanya. Menyalakan radio diperjalanan selalu menjadi hobinya. Ada lagu Lucky milik EXO di antara kita.
…….
We’re so lucky, it’s such a relief
Nothing is for certain in this world
On a day that I wore nice clothes
I met you, I was lucky
It’s because I did good in the past

“Aku suka lagu ini, Kau suka EXO?” Cobaku memulai percakapan.

“Tidak, aku menyukai lagunya tapi tidak dengan penyanyinya” Jawabnya tegas tapi dengan ritme yang lembut.

“Karena EXO kumpulan laki-laki? Atau para gadis banyak menyukai mereka?”
“Tidak juga, hanya saja aku terlalu geli melihatnya”

Aku menyerngit, dia benar-benar aneh “ah kau tak memahami ku sebagai wanita Kai”

“Benar kah?”

“Tentu saja” singkatku.

Disudut mata Kai ada sedikit rasa tergelitik, memandangku seolah-olah berkata ‘Lihat saja nanti’. Dia merasa tertantang kah?
I can call your name and I can hold your hand
Is the falling sunlight only shining on me? Can I be this happy?

So lucky, my love
So lucky to have you
So lucky to be your love, i am. Hmm…..

Sekarang aku dan Kai meluncur ke….

“Kemana kita akan pergi?” Tanya ku penasaran.

“Hehe, sejak kita pergi dan sampai ditengah perjalanan, kau baru menanyakan kemana kita pergi?  Kai balik bertanya.

“Apa itu aneh?” Aku merasa timingku tidak tepat. Bukan tidak tepat, hanya saja aku seakan percaya padanya bahwa aku benar-benar oh entahlah…maksudku…ya sudahlah mengalir saja. Intinya aku tidak bisa bicara apapun. Kim Sanny otakmu sedang kacau. Setiap perkataan kecil Kai terlalu kau resapi. Iya, aku penasaran dengan tutur bicaranya yang meragukan tapi juga santai, ramah dan menyenangkan. Hyaaa! Aku hanya membenci aura pria ini!

Kau suka film action?”

“Lumayan”

“Kita akan mencoba main film action” Aku masih bingung.

“Maksudnya?”

“Kita akan main Paintball War!”

Tawa Kai begitu lebar memperlihatkan gigi-giginya yang putih. Seketika mobil yang kutampangi belari begitu kencang.

Because you’re my first, because this song is about you
I’m smiling like this, so only you can see, are you looking at me right now?
I have a new dream, it’s to be one a better man
Because your eyes that look at me make me run once again more than anything else
So lucky, my love
So lucky to have you
So lucky to be your love, I am. hmm
****
Mobil yang kutumpangi dengan Kai berhenti diperempatan lampu merah. Mataku tertuju pada satu titik, tapi tak bisa kuhindari aku benar-benar melihatnya dalam sekejab pandanganku. Sekelebat kulihat ada sosok bayangan, sosok bayangan yang begitu ku kenal. Seperti mengintaiku dalam sebuah kaca mobil di sebelahku. Aku hanya berharap bahwa aku salah lihat, itu bukan Kris.

TBC^^

Jumat, 25 September 2015

Gadis Nostalgia



Sejak aku menulis ini kamu memang tak pernah hadir lagi.Tak pernah hadir lagi di hadapanku tapi aku selalu mengulang kesalahan yang sama. Menghadirkanmu dalam mimpiku setiap malam. Memaksa kenangan memakanku mentah-mentah. Aku memang gadis nostalgia yang selalu menoleh ke belakang tanpa arah. Waktuku hanya habis dibalik layar memandang kehangatan kita melalui foto reuni, menelisik setiap kegiatanmu melalui akun twitter. Tak hanya twitter, berusaha mencari-cari namamu di semua sosial media. Padahal jelas kamu hanya punya twitter. Kamu bukan pria yang mudah mengumbar apapun melalui sosial media. Entah kenapa aku terus memaksa jempolku untuk mengetik ejaan namamu. Nafasku mulai berangsur-angsur sesak.

Ejaan nama yang sudah terpatri menemaniku sebelum tidur. Malam adalah puncaknya, puncak di mana memori tentang kamu menguar seperti kepulan asap, pekat menyakitkan. Sepi, dingin dan gelap. Lalu kudengarkan lagu-lagu yang pernah menemani kegiatan kita, salah satu pemicu tetesan air mata. Sudah tau pedih tapi masih dilanjutkan. Mulai ku hadapi kenangan yang merayapi. Main sebentar dengan yang namanya ingatan. Mengingat bahwa kita pernah tak saling sapa. Memasang kuda-kuda saling mengadu pada pak guru bahwa kamu tidak pernah menyelesaikan tugas piket harian. Saling melirik dengan mata melolot, mengisyaratkan bahwa kita akan saling menjatuhkan pada ujian matematika. Begitu setiap hari. Namun suatu saat kamu diam, memandangku seolah penuh tanya.

Tiada henti aku marah-marah sambil meminta uang iuran kelas. Kamu menunggak banyak dan aku kerap muntab, tapi kamu diam. Cukup senyum yang kamu sematkan. Matamu terpancar begitu sendu tak bernafsu membalas bahkan mengadu. Aku semakin menjadi-jadi untuk memancing emosimu. Tanganmu malah menepuk-nepuk jidatku sambil berujar ‘marahlah semaumu’. Kamu jadi tak biasa. Bukan tak biasa tapi kamu mulai menyimpan rasa.

Tak pernah kusadari itu, hingga pada kondisi kamu mulai mendekatiku dan mengutarakan isi hatimu. Maaf saat itu aku terlampau bodoh memahami semua. Memahami bahwa kamu telah mencintaiku. Aku hanya gadis SMA yang tak pernah mengerti bahwa setiap pertengkaran kita adalah hal yang sangat berarti bagimu hingga kamu dititik penat. Penat untuk meladeniku marah-marah, dan memilih menyerah. Aku tak pernah mengerti pertengkaran merupakan caramu untuk mengorek informasi tentangku. Aku tak peka. Tapi aku juga tak salah, karena taktikmu pun membuatku buta rasa.

Andai semua dapat diulang. Aku masih hafal senyum manismu yang dulu, yang kini menjadi abu. Sekarang kita sudah dewasa, mampu menangkap setiap kode abstrak bernama cinta. Modus lain yang bisa kamu pelajari untuk dekat denganku lagi. Bukan lewat pertengkaran, ada bbm yang siap menemani kita bercanda. Aku hanya mengandaikan kita bersua lagi lewat aplikasi kemudian berangsur menjadi pertemuan. Ini hanya harapan, iya harapan yang susah diwujudkan. Karena kita sekarang sudah saling melupakan.Tolong jangan pernah ada kata rindu di ujung nafasku. Aku lelah, aku hanya ingin terbebas dalam perasaan masa lalu yang terus menggebu. 

Jika tak pernah menjadi masa depan maka segeralah tuntas berlalu jangan jadi masa lalu yang selalu mengadu.

by : Indah

Senin, 21 September 2015

Last Kiss - Wedding Dress

  Poster by Laykim @ Indo Fanfictions Arts

Chapter sebelumnya >> Last Kiss 1

Pria bermuka pucat itu menunjuk dadanya. Memamerkan kedua alis tipisnya yang naik turun “Maaf, sepertinya kau harus ganti meja karena ini sudah di reservasi atas nama Sehun!”  

Sejenak kupandangi dia dengan tatapan sinis tapi entah mengapa berangsur pulih ketika kuamati alisnya yang naik turun kembali normal. Kemudian ceritaku, pertengkaran antara Kim Sanny dan Sehun dimulai.
Sudah kubilang kan, selalu ada cerita yang terus berulang entah itu orang baru atau orang lama. Cerita soal cinta.

****


Setelah dengan Kris, aku melanjutkan hidupku dengan-Nya. Bukan dengan yang maha kuasa tapi Sehun. Pria baru dengan kisah yang baru.

Penyakit lama Sehun kembali, bukan Sehun namanya jika kamera tak selalu dilehernya. Penampilan acak kadut seenak dirinya. Asal jepret sekenanya tapi tak pernah meleset. Seharusnya dia yang menjadi model tak perlu dia berprofesi menjadi fotografer, apalagi fotografer makanan. Iya, 6 bulan lalu kami bertemu di sebuah café dekat rumah Kris. Jangan ingat soal Kris bukan momen yang pas untuk diingat kembali. Singkatnya, aku sudah lupa mengapa sekarang aku dan Sehun bisa seakrab ini. Aku hanya ingat, Sehun pernah beradu mulut perihal meja yang telah ia pesan, dia bersikeras untuk mempertahankan mejanya itu hanya karena untuk mendapat angle yang pas bagi lensa kameranya. Alih-alih mengusirku dari meja itu , dia hanya tersadar bahwa aku cukup pantas untuk dijadikan objek tambahan pendamping objek utama dia yaitu makanan yang kupesan. Sedikit sakit aku hanya sebagai sampingan, dari situ lah kami mulai berkenalan dan bercerita ini itu hingga sekarang.

“Dimana? Pulang kantor jam berapa?” Suaranya yang berat menguar ditelingaku.

“Kenapa? Ada café baru?” Singkatku.

“Iya, Jam 8 malam ya?”

“Oke”

Kalau ada maunya selalu seperti ini. Kesalku melalui handphone yang sekarang berbunyi tut panjang. Ku kemas barangku, persiapan pulang kantor. Jika kalian mengikuti kisahku sebelumnya kalian pasti sudah paham apa profesiku. Iya, writer. Save draft dan ayo makan-makan bersama Sehun. Senyumku selebar buah semangka yang siap digigit, sangat lebar. Kenapa senyumku begitu lebar setiap kali bertemu dengannya. Lagi-lagi aku harus bergelut dengan adegan-adegan yang mengganggu perasaanku.

Waktu berlalu cepat. Jam 6 kemudian jam 7. Bercermin. Sudah siap menunggu sosok Sehun. Pria dengan wajah kekanak-kanakkan. Berbeda dengan Kris. Tak ada unsur ketegasan dalam dirinya. Lembut dan segalanya begitu cepat. Gerak gerik dan cara bicaranya. Aku suka bermain dengannya, sangat suka hingga lupa waktu. Hampir setiap minggu sekali, dia menjelajah café-café baru, menjajakan beberapa hasil fotonya ke….aku tidak pernah tau sistem bisnis fotografinya seperti apa, yang ku tau wajahku selalu menampang disetiap lembar bingkai fotonya bersama makanan dan minuman yang penataannya mengandung estatika.

Teeettt….suara bel rumahku berbunyi. Tepatnya rumah yang kusewa selama aku bekerja. Sehun sudah berangsur masuk begitu saja, wajahnya tak lepas dari aura cerah.

Welcomeeee” Mengayun-ayunkan kamera uniknya itu.

“Aku yang seharusnya bilang begitu” Ramahku padanya. Aku selalu saja mengijinkan sikapnya yang tak pernah sopan.

“Betapa dirimu sudah sangat sempurna bersanding dengan steak daging yang siap kau santap. Rambut kuncir kuda dipadukan dengan kostum yang…”Sehun berhenti sejenak, menganalisis sesuatu yang tampak seolah-olah salah dimatanya, “sangat sangat biasa. Kenapa tak coba pakai mini dress yang sedikit elegan..jangan terlalu simpel aahh terlalu casual”. Dia mendesah.

“Kau berani bayar aku berapa?” 

“Bayar dengan cinta” Ujarnya genit sembari mengguncangkan tubuhku yang terlewat mungil dihadapannya.

Ahh..sudahlah. aku menggerutu dalam diam.

Bola mataku berputar. Berusaha mengabaikan ocehannya, hanya berusaha tapi tetap saja seruannya membuatku senang. Aku terlalu takut untuk mengakui bahwa aku jatuh cinta lagi. Aku sudah melupakan Kris begitu singkat. Kemudian aku diberi pria baru, tak ingin terlibat lebih jauh tapi dia dengan sangat mulus masuk-masuk ke celah yang lebih dalam dari pada Kris. Aku harus cuek.

****

“Minggu depan aku harus mengajakmu ke suatu tempat”

“Kemana?”

“Survei restoran lagi, untuk ini…” Sehun mengeluarkan sesuatu di sakunya, sebuah kotak mungil yang sangat manis berwarna keemasan. Aku langsung menyadari apa isinya. Kotak cincin itu terbuka sekarang, rasanya aku kesemutan. Kupegang dengan erat sementara Sehun fokus pada kemudi mobilnya. Tak perlu ku gambarkan betapa indahnya cincin itu. Terasa begitu kecil tapi menawan, tipis tapi menyakitkan. Ada cahaya berpendar dibalik ukirannya. Ukiran nama Na Eun. Ini alasan kenapa aku harus menjadi cuek, tak lagi mempertanyakan dan mengusahakan apapun. Kita sebatas rekan. 

“Kapan kalian akan meresmikan?”

“Entahlah 1 bulan lagi mungkin, Na Eun terlalu sibuk…” Ada nada kecewa dalam diri Sehun, teramat sangat berat untuk melanjutkan hubungannya. Hatiku cukup berteriak, maka putuslah sekarang!

“Kau sudah bicara banyak hal soal Na Eun, hubungan kalian hanya terpisah jarak. Sudah hampir 4 tahun kalian lalui apa yang perlu kau cemaskan?” Sanny kau harus tegar, jangan menjadi jahat seperti Kris. Jika iya maka kau sama saja dengan Kris.

Perlu ku lukiskan sosok Na Eun begitu cerdas, wanita sempurna tapi kaku. Kaku untuk bersenang-senang seperti Sehun. Dia tipe wanita karir yang sangat detail akan masa depan. Serius tapi hangat, dewasa tapi penuntut. Mungkin satu kata untuk Na Eun, pemimpin. Tampak kontras dengan Sehun. Anehnya hubungan mereka sudah 4 tahun. 2 bulan sekali mereka bertemu. Aku pernah bertemu dengan nya sekali, kami langsung akrab. Dia percaya padaku seketika, senyumnya masih ku ingat. Senyum keibuan yang membuat Sehun tak pernah bisa tinggal diam mengusahakan hubungan mereka. Begitu juga denganku yang tak pernah tega mengakui bahwa aku mulai menyukai kekasihmu.

“Jika cincin ini tak pernah sampai di jarinya, aku tak pernah tau siapa penggantinya. Mau kah kau…”

“Maka sampaikanlah! Antarkan! Nikahi dia. Done! Hyaaa…kau membuatku frustasi” Aku harus memotong Sehun cepat-cepat sebelum dia mulai membuatku hilang akal. Dia hanya tertawa.

Sampai di restoran yang dituju, aku mulai tenang. Di hadapkan dengan berbagai macam orang yang kelaparan. Kami mulai memesan makanan sesuai kebutuhan kamera Sehun. Selagi menunggu steak yang diidam-idamkan, dia masih mengoceh soal ‘kekurangan’ Na Eun. Betapa Na Eun tak pernah mengerti kesenangan Sehun selama ini. Na Eun tak bisa diajak bersenang-senang, dinner time, photo shoot, melihat konser….

“Setidaknya kami menikmati waktu nonton seperti pasangan lain, nyatanya tak pernah ku dapatkan hingga aku bertemu denganmu, Sanny”

Na Eun. Na Eun dan Na Eun. Aku mulai muak.

“Sepertinya dia tak pernah memikirkanku lagi, menganggap semuanya mengalir. Pria juga butuh kepastian” Dia mulai mendramatisir.

Muncul raut wajah sendu di sudut matanya. Hatiku teriris. Andai saja tak pernah ada Na Eun saat kita bertemu. Aku bisa membuatmu lebih bahagia tapi tidak dengan hatimu sayang. Tidak dengan kebutuhanmu. Semakin kau mengumbar soal Na Eun semakin terkoyak hatiku, semakin aku tau betapa kau mencintainya. Alih-alih membenci tapi kau hanya frustasi, ada rindu terselip dalam dadamu. Kau lampiaskan padaku, yang hanya seperti bayangan. Mencintaimu dari belakang.

“Maka dewasalah, pastikan semuanya baik-baik saja. Ketika pria tak mampu menunggu jangan berharap untuk mencari pengganti sebagai solusinya, tapi kejar dia. Aku hanya meyakini Na Eun di sana juga mengharapkan kedatanganmu membawa cincin itu. Kalian sama sama bimbang” Responku membuat dia terbelalak.

Sejenak Sehun diam, memandangku seperti asing. Menelaah setiap kalimat yang kulontarkan. Aku mendadak takut ketahuan bahwa semua yang kuucapkan tadi hanyalah sia-sia. Nyatanya, masih tersimpan kebohongan dalam diriku.

Steak yang dia pesan datang, masih panas. Asapnya mengepul. 

“Aku lapar, selesaikan jepretanmu lalu kita menyantapnya dan pulang” Aku membujuknya, membuatnya sedikit teralihkan “Minggu depan tak hanya restoran romantis untuk Na Eun tapi kita bisa ke rumah gaun untuk memberikannya sedikit kejutan. Aku punya banyak link untuk memilihkan gaun mana yang tepat untuk upacara pernikahan kalian” Aku menawarnya lagi, memaksakan hal-hal yang membuatku semakin terkoyak.

Sehun mengangguk pasrah, seketika handphoneku berdering.

“Hallo? Hei…apa kabar? Kau sudah lama tak menghubungiku. Mungkin sejak 5 tahun yang lalu” Senyum ku berdesir renyah tepat di depan Sehun yang sibuk menuang saus barbeque di atas steakku. Kutangkap lirikan matanya sesekali ke arahku saat aku merespon panggilan telpon.

“Iyaaa…tentu saja. Oh ya? Mungkin kita harus bertemu untuk saling bercerita” Aku berlama-lama.

“Siapa?” Sehun dengan tatapan penasaran bertanya setelah kuakhiri telponku.

“Teman lama, masa lalu…ah jangan diingat”

“Kris?”

“Bukan”

“Dia tidak pernah menghubungimu lagi?” Kini Sehun seolah-olah menyibukkan diri dengan settingan kameranya.

“Tidak, ehmm…sekitar 1 bulan yang lalu. Dia menanyakan kabarku, kukatakan aku baik baik dan aku tidak merespon dia kembali” Aku mengulum senyum masam "..yang tadi itu Kai, teman sekolahku dulu"

Sehun menatap mataku begitu dalam, memikirkan sesuatu.

“Cemburu?”

“Iya”

Rasanya seperti melambung.

****

Aku hanya menyadari bahwa hidup terus berputar, I’m still 23 dan akan banyak kisah yang harus kujelajahi sebelum menemukan satu yang paling tepat di antara sekian macam drama percintaan. Itu hanya pikiran logika, tapi logikaku selalu dikalahkan oleh perasaan yang terlalu menggebu. Kutampar wajahku pelan-pelan. Sadarlah, Sehun akan segera menikah dan kau tak mungkin menghalanginya, dengan mengedepankan egomu untuk merebut wanita yang keibuan seperti Na Eun. Meskipun Sehun mulai membuka hatinya padaku. Aku mulai mengacak-acak rambutku geram di depan cermin setinggi 2 meter dalam kamarku, kemudian melompat kaget saat Sehun menerjang masuk seperti rumahnya sendiri.

“Kau harus belajar memahami apa itu ‘mengetuk pintu’ boy!” 

Ada yang menunda kedatangan kami ke rumah gaun. Baru terlaksana 1 bulan kemudian. Bukan ada yang menunda tapi akulah yang tak pernah mampu membawanya ke rumah itu. Maaf Na Eun aku egois. Benar, aku mencintai kekasihmu. Selama 1 bulan kemarin, tiap minggunya aku hanya berputar-putar menikmati kesenangan sementara, hatiku tak pernah bisa kukendalikan. Kami hanya saling mengulur-ulur perasaan. Mendalami hal yang tak seharusnya. Aku yang selalu menyokong Sehun, menikmati keinginannya. Tapi percayalah Na Eun dia masih membutuhkanmu. Aku akan mundur.

“Kenapa kau sebut rumah gaun?” tanya Sehun penasaran.

“Karena ini tempat yang membahagiakan untuk para wanita. Wanita mana yang tak bahagia jika pria idamannya, menggandengnya masuk ke ruangan penuh dengan gaun pernikahan” 

Hanya aku wanita satu-satunya yang tak bahagia melihat realita ini.

Saat itu, entah apa yang merasuki Sehun. Dia tidak seperti biasanya. Ada yang masih menyelimuti pikiran dan hatinya. Kami berkelana mencari gaun yang cocok untuk Na Eun. Sejenak mengubur perasaan masing-masing. Kupilah-pilah kain-kain yang menjuntai itu, renda, warna cream, payet, bordir, mengembang, mataku tak bisa menahan ada rasa aneh yang menciut. Tak ada satu kata yang pas kecuali SAKRAL. Pernikahan adalah hal yang sakral. Semakin aku memegang banda-benda berunsur cinta semakin aku geram. Aku harus dipaksa melihatnya tak pernah bersanding denganku. Setiap hari diberondong pertanyaan ‘kenapa Tuhan tak pernah adil’. Air mataku menetes.
Kris lalu Sehun.

Ada yang mendekapku dari belakang. Sehun seolah merasakan kepedihanku. Tubuhnya begitu hangat seolah-olah kita pasangan yang akan menikah kemudian bertengkar perkara gaun pernikahan, lucu sekali. 

“Aku tidak akan mempercepat pernikahan jika akan ada yang merasa kehilangan”

Detik itu juga aku terhenyak, bibirku ingin berkata jujur bahwa akulah wanita yang harus kau nikahi bukan dia “Kau bicara apa?” tapi nyatanya tak pernah sama.

Mungkin ini yang namanya tak berjodoh. Ketika hati kecilmu mampu memberontak bahwa yang kau lakukan selama ini adalah salah dan berangsur-angsur menyakitimu, maka di titik itulah kau harus berhenti mengikuti egomu. Ego yang selalu membuatmu terlena. Memaksakan yang seharusnya tak dipaksakan. 

“Kau harus menikahi Na Eun secepatnya” Ada ketegasan dalam diriku. Kali ini aku memang harus melepasnya.

****

Di sebuah ruangan kami dipertemukan tanpa Na Eun. Iya, hanya kami berdua. Dia mengenakan tuxedo putih, sangat tampan. Aku hanya bagian terkecil dalam hidupnya, duri yang mengganjal pada hubungan 4, 5 tahunnya dengan Na Eun. Pipiku memerah, menatapnya seperti aku hampir tak kuasa. Gemetar.

Ku peluk Sehun dengan sangat mantap “Akhirnya kau sudah menikahi, Na Eun” Air mataku menderu seketika. Menyaksikan setiap prosesi pernikahan. Merekam senyuman Na Eun kala itu, manis sekali. Lebih dari itu, Na Eun beruntung mendapatkannya, pria seperti Sehun. Ciuman tanda resmi menikah mengakhiri rasaku. Sehun dan Na Eun berciuman tepat di depan mataku.

“Kau yang memberiku jalan untuk menikah dengan Na Eun”

“Iya, memang itu seharusnya, seperti dulu ku bilang segala kebutuhanmu terpenuhi dengan Na Eun. Bukan hanya kasih sayang tapi segalanya. Kau harus berusaha menekan egomu, kau sudah menikah sekarang” Semakin erat dekapanku, tangisanku pula semakin menjadi-jadi.

“Andai saat itu kau memberiku celah, aku mungkin akan memperjuangkanmu” terselip rasa perih pada suara Sehun.

“Hei, memang sejak awal kita tak pernah berjodoh. Kita rekan bukan” Kuusap air mataku. Ku tepuk pundak pria ini. Mendengar kalimatnya aku tak pernah sanggup. Berusaha membesarkan hatiku. Menghentikan nafsu untuk memilikimu. “Jika kita bersama dengan segala kesamaan kita, jalan-jalan, bersenang-senang, suatu saat kita akan bosan. Sedangkan kau dan Na Eun kalian akan berjalan inline dengan perbedaan kalian”.

Aku mencintaimu tapi tak harus bersama denganmu. Inilah kenyataannya. Lagi-lagi aku harus mengorbankan perasaanku “Kita masih bisa menjelajah café-café itu, tenanglah ini bukan akhir dari segalanya, kau tau di mana aku tinggal, kau bisa menghubungiku sewaktu-waktu, aku bisa bercerita padamu apapun. Na Eun tak pernah gusar. Aku yakin itu”

Ekspresi Sehun mulai melunak, mengiklaskan segalanya. Aku yakin pria seperti dia akan segera pulih. Lalu kutinggalkan dia dalam keadaan senyum terpaksa. Mendatangi Na Eun yang masih memegang buket bunga mawar. Menyapaku tampak elegan berbalut busana putih polos dengan sentuhan payet keemasan dibeberapa bagian. Aku berbisik padanya satu kalimat “Jangan pernah kau tinggalkan dia atau kau akan menyesal”

“Aku tau kau bisa diandalkan, Sanny” 

Mata Na Eun berangsur sendu, seakan memahami perasaanku. Kami sama-sama wanita, yang memberi kasih sayang. Lantas kami saling berlinang air mata dalam satu kali pelukan panjang.

****

Aku membaca kembali setiap tulisan yang tertera pada satu kolom penuh gambar renda-renda. Manis sekali. Aku tersenyum memandang undangan itu. Terpampang jelas ada nama Sehun dan Na Eun. Sekejap, Kai menekan tombol on pada radio mobilnya. 

Never should've let you go
Never found myself at home
…….
You were like my beating heart
That I, I can't control
Even though weve grown apart
My brain cant seem to let you go


Thinking back to the old times
When you kept me up late at night
We use to mess around
Laugh and play, fuss and fight
……..
I guess its too late, Im dancing this dance alone
This chapters done, the story goes on


Kenapa harus lagu ini, Wedding Dress milik Taeyang ya. Membuat suasana makin keruh.

Can't believe that you are not with me
'Cause you should be my lady
All I want is to set your heart free

But if you believe that you belong with him


Promise me, you wont let anyone hurt you

Remember, I will always be here for you
Even if it kills me to see you

In that wedding dress

Oh see you in that wedding dress


Meskipun lagu ini menggambarkan si prialah yang ditinggal menikah tapi rasanya sama. Sama sama pedih.

“Terima kasih ya sudah cukup lelah mengantarku hingga pesta pernikahan. Tak pernah menyangka kita bisa bertemu kembali tapi dipesta pernikahan seperti ini hehe” Aku tersenyum pada Kai.

“Make upmu benar-benar kacau, setelah ditinggal menikah” Kai dengan suara terdalamnya seolah-olah memahami bahwa perasaanku nyatanya sidah kandas.

“Sudahlah, kita bahas hal lainnya. Apa rasanya setelah wajib militer?”

Ckiiitttt…. Mendadak Kai mengerem mobilnya. Ku tengok jendela. Ada taman di sebelahku. Sepi, pepohonan begitu rindang. Sinar matahari sore masih asyik untuk diajak bermain. Tangan Kai meraih gagang pintu mobilnya. Dia turun dalam diam. Berputar mengelilingi mobilnya, membuka pintuku. Menyuruhku keluar.

“Ada apa? Kau ingin jalan-jalan di taman?”

“Aku memang bagian dalam kemiliteran sekarang” Dia meraih tanganku, melempar undangan yang sepertinya membuatnya muak ke bangku belakang. Kami mulai melangkah di trotoar taman, mencari tempat duduk yang nyaman.

“Hahahahaaaa….. sejak kapan kau masuk dan menjadi seorang angkatan. Pantas kau hitam sekarang. Ingat, waktu jaman kita sekolah? Kau tak pernah se-laki-laki ini” Tawaku lepas. Kai hanya memberikan senyum malunya saat itu.

Tuhan, aku mohon hentikan pertemuan-pertemuan lain yang hanya membuatku terluka.

by : Indah

Inspirated by : 50% drama, 20% friend, 10% EXO, 10% Taeyang, 10% Toilet

Note : Jangan sampe gue ditinggal nikah beneran >.< ini cuma cerita ya allah*