Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2015

Haru biru pekerjaanku-- Perjalanan 2015

Kerja yang paling enak adalah hobi yang dibayar. Kata orang begitu, tapi bagiku itu di luar dugaan.

Ceritanya sudah hampir 12 bulan aku mulai merasakan ‘lenggang’. Aku berupah tapi dari uang orang tua. 2 Bulan pertama dari bulan Januari sampai Februari, Aku isi dengan kegiatan yudisium dan wisuda. 

Ketika SKL (Surat Keterangan Lulus) sudah didapat, aku berusaha menjadi Tarzan yang terjun ke hutan. Kata orang Welcome to The Real Jungle, kamu harus berjuang demi mendapat pekerjaan dengan upah yang layak. 

Karena kamu S1 patok hargamu di atas UMR, begitu kata Ayah. Tapi entah kenapa masih ada pikiran dan hati yang mengganjal. Terlebih, tak ada bayangan sama sekali aku akan kerja di kantoran.

Aku mulai melamar di perusahaan ini itu, aku menjalaninya sejak sebelum wisuda. Mengikuti job fair, membuat CV dan tetek bengeknya hingga membeli baju yang pantas untuk menghadapi dunia kerja. 

Itu semua ku lakukan demi apa? Demi uang ternyata, demi menjawab pertanyaan tetangga ‘Kerja dimana sekarang?’, dan demi status sosial sebagai wanita karir.

Setelah wisuda bulan Maret ada panggilan pertama dari sebuah perusaan makanan di Surabaya, aku merasakan apa yang namanya interview awal. Gugup, membeku, kagok semua ku alami padahal cuma ditanya kegiatanmu sehari-hari apa?. Panggilan kerja pertama gagal, tak masalah aku masih santai menanggapinya.

Tak lama sekitar bulan April hingga Mei perusahaan kereta api memanggilku untuk mengikuti tes di Madiun, Tes Administrasi--Interview Awal--Psikotes--Kesehatan hingga Interview User. Rentetan itu ku ikuti hingga akhirnya gagal. Aku sedikit mengecewakan orang tua karena gagal di perusahaan BUMN. Ya, tau sendirilah bekerja di BUMN adalah pekerjaan termakmur untuk masa depan.

Bulan Juni dan Juli ku habiskan masa menghadiri Job Fair hampir setiap minggu aku datangi meski tak membuahkan hasil. Entah kenapa aku masih woles dan masih tak ada gambaran bahwa aku akan berada di kantoran.

Setelah itu sekitar bulan Agustus aku kembali dipanggil perusahaan untuk menjalankan interview, beberapa kali malah. Dari klinik kecantikan, pabrik sarung dan Industri pembuat spare part motor. Perusahaan dengan nama besar sering kali memanggilku tapi nyatanya masih gagal juga. Aku cuma senyum-senyum aja, menyerahpun tidak, sesekali bingung iya. Mungkin mulai merasakan 'tak nyaman' berada di rumah terus menerus.

Sejak itu aku mulai berpikir, mungkin aku harus mulai merubah pola kegiatan agar tidak monoton. Kenapa aku harus frustasi untuk getol mendapat pekerjaan kantoran jika memang jalannya tidak pernah di situ.

Terkadang feeling itu selalu kutepis, berasa membohongi diri sendiri bahwa sesungguhnya aku juga tak pernah ada bayangan untuk bekerja di perusahaan dengan nama besar. Jangan-jangan aku nanti punya perusahaan senidiri? sempat aku iseng berpikir demikian. 

Terlalu fokus mencari pekerjaan membuatku lupa untuk menggali potensi lain yang kumiliki. Menulis, Fotografi, Membuat kerajinan tangan. Iya, aku suka homemade. Aku suka mengumpulkan benda-benda kecil untuk dijadikan koleksi, bahkan mainan koin-koinan waktu SD masih ada. 

Bulan September, masih mengikuti job fair hingga aku hafal di luar kepala bagaimana sistemnya, tapi masih tak ada hasil. Mungkin aku butuh piknik. Ku buka lagi blog lamaku, menuliskan sebuah cerita yang telah lama tak pernah kutekuni lagi. Saat ku publish aku ingin sesuatu yang baru, Oh..ya aku publish saja di komunitas. 

Satu cerita yang ku publish di komunitas baruku justru lebih membuahkan hasil meski hasilnya bukan materi. Ceritaku banyak dinikmati banyak orang, tepatnya para pecinta K-Pop. Banyak pujian yang kudapat, hingga ada satu rasa yang telah lama hilang muncul kembali. Passion.

Aku jadi happy, seperti keluar dari belenggu. Aku merasa kabur dari dunia nyata melalui tulisan, melalui khayalan Korea yang mestinya sudah ku tinggalkan. Nyatanya aku tak pernah bisa move on, aku masih pulang kampung. 

Menjadi sang pemimpi, lalu muncul sebuah doa. Doa dari anak cerewet yang suka berkhayal. Berharap ada yang bisa mempercayai passionku untuk di bayar. Entah itu tulisan atau hasil fotoku.

Sepertinya tak mungkin, bodohnya lagi aku masih minder-mindernya untuk mempertontonkan tulisanku yang abal-abal. Pasti tak ada yang percaya.

Pertengahan September setelah ku update status di BBM perihal cerpenku, satu hal yang masih kuingat dan  cepat sekali Tuhan menjawab doaku. Ada satu tawaran berupa lowongan pekerjaan untuk menulis artikel. Aku hening. Merasa senang tapi juga aneh. 

Senang sebab Tuhan masih bercanda denganku, aneh karena tak percaya ternyata pekerjaan itu ada dan datang menghampiriku. Kupikir matang-matang tapi tak ada salahnya mencoba. Aku meng-iya-kan tawaran itu, namun lagi-lagi Tuhan selalu suka tarik ulur. Aku ditolak. 

Kesempatan selalu cepat datang dan juga cepat pergi. Aku diam saja, kubiarkan itu berlalu. Toh untuk menuju hobi yang dibayar bukan perkara mudah. Mengingat hobiku yang satu ini adalah menulis. Aku bisa jadi wartawan, aku bisa jadi penulis tapi masih belum ada tuntutan ke sana. 

Setengah otakku masih dipengaruhi oleh sistem-sistem kekal yang menyatakan bahwa harus bekerja menjadi buruh, bukan dibentuk untuk meyakini bekerja sesuai passion. Congrats-lah bagi yang bisa bekerja sesuai passion, seribu satu. Tapi sepertinya jauh dari pemikiranku.

Akhir September, telingaku kembali mendengar ada kesempatan emas dari seorang teman sekaligus rekan kerja bisnis online shopku. Dia menawarkan jika temannya membuka lowongan penulis. Ada rasa ragu tapi juga ingin mencoba lagi. Akhirnya dengan tekat yang kuat dan kepercayaan diri maksimal aku kirimkan melalui email contoh tulisanku. 

Judulnya kalau tidak salah 'Jangan Pernah Remehkan Galau, Dia Punya 6 Manfaat Yang Perlu Dipahami'. Kala itu, aku memang suka menulis tulisan yang bisa ku selipi acara curhat.

Beberapa hari kutunggu sambil memikirkan kemungkinan terburuk. Pertanyaan-pertanyaan sering kali timbul tenggelam. Apa sudah tepat keputusanku. Apa aku sudah menyerah untuk mencari pekerjaan yang diinginkan orang tua dan tetangga? Sebagai wanita karir yang bekerja dikantoran dengan ruangan ber-AC ?

Kalau memang jalanku adalah hobi yang dibayar, mungkin aku harus terjun dulu dari pada sekedar berangan-angan.

Mungkin hari sabtu, masih akhir bulan September, tulisanku terpilih dan aku harus bertanggung jawab. Aku diterima menjadi salah satu penulis freelance di web yang akupun tidak tau namanya. 

Setelah ba—bi—bu melalui proses komitmen dan briefing aku mendeklarasikan diriku sebagai pekerja freelance. Aku mendeadline diriku sendiri, dibulan pertama aku akan rehat mencari pekerjaan lain. Istilahnya aku harus menikmati dulu, mencari pengalaman bekerja untuk pertama kalinya. Meski bekerja di rumah, mengandalkan tethering dan leptop. 

See, ternyata bukan pekerjaan kantoran yang datang. Feelingku terbukti kali ini tapi itu tak menentukan apapun. Perjalananku masih panjang.

1 Oktober, hari ulang tahun sekaligus lahirnya Wovgo

Wovgo nama website yang aku naungi sekarang, sejak 1 Oktober 2015.



Aku terus berkata bahwa Tuhan bercanda padaku tiap bulannya, dan sekarang DIA memberiku kejutan kecil tepat di hari ulang tahunku sebuah pekerjaan. Antara bersyukur dan dag dig dug. Aku tak punya pengalaman apapun selain menyukai kata-kata, bahkan aku sudah jarang untuk membaca buku. 

Jalani saja pasti ada titik temu.

November 2015, mendekati akhir tahun. Ternyata aku bisa enjoy bekerja dengan cara seperti ini. Apa mungkin masih semangat-semangatnya atau entah bagaimana yang jelas aku dibawa menjelajah ke tempat-tempat yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. 

Menulis tema yang bermacam-macam. Sehari 3 artikel, jika ditotal bisa mencapai 50an lebih artikel per bulan. Itu adalah tantangan tersendiri. Ah..andai kedua orang tuaku bisa membacanya. Mungkin mereka merasakan apa yang aku rasakan. 

Aku cukup menjadi introvert ketika di rumah. Ekstrovert ketika dihadapan leptop dan bertemu teman-teman lama ataupun yang baru. Beberapa dari mereka mendeskripsikanku sebagai ‘Goddess of Ngecemes’. Tapi jika di rumah aku memilih diam seribu kata kalau disuruh mengungkapkan soal perasaanku yang sesungguhnya.

Pertengahan November, aku mulai goyah. Goyah karena tekanan dari keluarga yang masih menuntutku mencari pekerjaan. Mau tak mau aku kembali melamar di berbagai perusahaan. Aku mendapat panggilan dari perusahaan wafer dan biskuit lagi. Masih dengan embel-embel perusahaan besar dan aku melalui berbagai tes. Interview awal--Psikotes--Interview User hingga Tes praktik sosial media. Mengesankan, aku diiming-iming gaji 3 kali lipat lebih besar dari gaji freelanceku. 

Di momen-momen itu, rasanya kacau. Tuhan selalu bermain-main denganku. Memberi pilihan yang rumit. Yang bisa kulakukan adalah memikirkan kemungkinan yang terjadi. ‘Jika aku diterima’ dan ‘Jika aku tidak diterima’ hanya rencana sistematis yang membuatku tenang. 

Ketika menjalani tes, aku berkata bahwa aku bekerja di Wovgo, aku senang menjalani pekerjaanku sekarang dan berniat ingin tetap melanjutkan. Kasarannya, aku menawarkan diri agar perusahaan itu mau menerima kondisiku yang seperti ini dengan semua konsekuensi yang siap ku pertanggung jawabkan. 

Dititik itu jujur adalah cara terbaik. Ucapan itu keluar dengan polosnya. Tak lama, hasilnya adalah aku tidak diterima. 

Menanggapi hal itu, antara suka dan duka. Suka karena ternyata aku masih bisa utuh dengan pekerjaan yang merupakan passion, dukanya adalah aku tak membawa kabar baik bagi ke dua orang tuaku. Semua memang butuh pengorbanan.

Parahnya lagi, masih di bulan yang sama aku mendapat 3 panggilan sekaligus. 2 yang lainnya adalah salah satu media cetak dan perusahaan saham. Namun aku tidak pernah datang karena alasan bentrok jadwal tes perusahaan biskuit tadi.

Sekarang, kalau ditanya ke depannya seperti apa. Ini udah masuk bulan Desember loh. Mungkin aku harus menunggu kejutan lain dari Tuhan. Yang terpenting, aku harus komitmen pada diriku sendiri. Pelajaran yang sesungguhnya adalah fokus pada hal yang ingin dicapai. Tahun depan aku harus mencapai apa. 

Terbelesit keinginan untuk menyegerakan menikah mungkin itu bisa jadi resolusi di tahun 2016. Aku tidak pernah munafik, aku hanya seorang wanita yang punya impian besar tapi juga ingin kurintis sendiri.

 Bisa dibilang tidak bermain terlalu keras tapi juga butuh uang. Ingin mandiri tapi juga butuh pendamping masa depan.

Ah..sudahlah.

by : Indah

Jumat, 25 September 2015

Gadis Nostalgia



Sejak aku menulis ini kamu memang tak pernah hadir lagi.Tak pernah hadir lagi di hadapanku tapi aku selalu mengulang kesalahan yang sama. Menghadirkanmu dalam mimpiku setiap malam. Memaksa kenangan memakanku mentah-mentah. Aku memang gadis nostalgia yang selalu menoleh ke belakang tanpa arah. Waktuku hanya habis dibalik layar memandang kehangatan kita melalui foto reuni, menelisik setiap kegiatanmu melalui akun twitter. Tak hanya twitter, berusaha mencari-cari namamu di semua sosial media. Padahal jelas kamu hanya punya twitter. Kamu bukan pria yang mudah mengumbar apapun melalui sosial media. Entah kenapa aku terus memaksa jempolku untuk mengetik ejaan namamu. Nafasku mulai berangsur-angsur sesak.

Ejaan nama yang sudah terpatri menemaniku sebelum tidur. Malam adalah puncaknya, puncak di mana memori tentang kamu menguar seperti kepulan asap, pekat menyakitkan. Sepi, dingin dan gelap. Lalu kudengarkan lagu-lagu yang pernah menemani kegiatan kita, salah satu pemicu tetesan air mata. Sudah tau pedih tapi masih dilanjutkan. Mulai ku hadapi kenangan yang merayapi. Main sebentar dengan yang namanya ingatan. Mengingat bahwa kita pernah tak saling sapa. Memasang kuda-kuda saling mengadu pada pak guru bahwa kamu tidak pernah menyelesaikan tugas piket harian. Saling melirik dengan mata melolot, mengisyaratkan bahwa kita akan saling menjatuhkan pada ujian matematika. Begitu setiap hari. Namun suatu saat kamu diam, memandangku seolah penuh tanya.

Tiada henti aku marah-marah sambil meminta uang iuran kelas. Kamu menunggak banyak dan aku kerap muntab, tapi kamu diam. Cukup senyum yang kamu sematkan. Matamu terpancar begitu sendu tak bernafsu membalas bahkan mengadu. Aku semakin menjadi-jadi untuk memancing emosimu. Tanganmu malah menepuk-nepuk jidatku sambil berujar ‘marahlah semaumu’. Kamu jadi tak biasa. Bukan tak biasa tapi kamu mulai menyimpan rasa.

Tak pernah kusadari itu, hingga pada kondisi kamu mulai mendekatiku dan mengutarakan isi hatimu. Maaf saat itu aku terlampau bodoh memahami semua. Memahami bahwa kamu telah mencintaiku. Aku hanya gadis SMA yang tak pernah mengerti bahwa setiap pertengkaran kita adalah hal yang sangat berarti bagimu hingga kamu dititik penat. Penat untuk meladeniku marah-marah, dan memilih menyerah. Aku tak pernah mengerti pertengkaran merupakan caramu untuk mengorek informasi tentangku. Aku tak peka. Tapi aku juga tak salah, karena taktikmu pun membuatku buta rasa.

Andai semua dapat diulang. Aku masih hafal senyum manismu yang dulu, yang kini menjadi abu. Sekarang kita sudah dewasa, mampu menangkap setiap kode abstrak bernama cinta. Modus lain yang bisa kamu pelajari untuk dekat denganku lagi. Bukan lewat pertengkaran, ada bbm yang siap menemani kita bercanda. Aku hanya mengandaikan kita bersua lagi lewat aplikasi kemudian berangsur menjadi pertemuan. Ini hanya harapan, iya harapan yang susah diwujudkan. Karena kita sekarang sudah saling melupakan.Tolong jangan pernah ada kata rindu di ujung nafasku. Aku lelah, aku hanya ingin terbebas dalam perasaan masa lalu yang terus menggebu. 

Jika tak pernah menjadi masa depan maka segeralah tuntas berlalu jangan jadi masa lalu yang selalu mengadu.

by : Indah

Kamis, 03 September 2015

Last Kiss - Intro


Jelas, rasanya ada yang hilang. Kamu dengan sistematis menjalankan kesibukan dan aku dengan begitu berat berusaha kembali normal. Tanpa kamu sayang. Tanpa ucapan "morning love" atau sekedar emoticon kiss yang seakan-akan itu menjadi hal yang sangat mendalam. Tanpa senyumanmu yang penuh teka-teki, berusaha kupikir keras apa makna setiap seringai dari bibirmu. Aku hanya tertegun memandangmu sambil berujar dalam hati when you smiled and all i could think was 'Oh shit'.
 

Kamu pria spesial yang pernah mengisi relung hatiku. Berbeda dengan yang lain, mungkin benar seperti katamu. Perlu pasukan khusus untuk memahamimu yang bergolongan darah A, bertubuh bidang yang hangat ketika kupeluk. Masih ingat sayang? You have a good manner to treat me well...very smooth. Berjalan begitu mudah seperti kita sepasang kekasih. 10 detik pelukanmu membuatku lupa. Kita sama-sama lupa. Meluruhkan setiap kerinduan yang mengekang. Sederhananya, karena dalam dekap, beban seolah lenyap. Itu versi pandangan perasaan. Jika boleh kuperjelas paparan ilmiahnya, sentuhan orang yang kita sayangi dapat meningkatkan jumlah hemoglobin dalam darah sehingga menghasilkan rasa tenang dan pemulihan rasa sakit. Itu mengapa berpelukan membuat orang merasa lebih baik? Lucu ya? Aku sudah pandai mengikuti alur berfikir pria perfeksionis sepertimu. Hanya saja aku ingin terbawa perasaan saat ini, bolehlah  aku menuruti imajiku dengan beandai, when i'm with you, i feel safe from the things that hurt me inside.



Nyatanya tidak berhenti sampai disitu sayang..
Lagu Taylor Swift menggerus hatiku. Iya cinta, coba kamu putar yang berjudul Last Kiss.
Seperti merobek ingatan. Banyak dari liriknya yang begitu jujur.

I still remember the look on your face.
Lit through the darkness at 1:58.
The words that you whispered
For just us to know
*Hanya kita yang tau :')
You told me you loved me
So why did you go
Away

.....
That July ninth
The beat of your heart
It jumps through your shirt
I can still feel your arms

....
All that I know is
I don't know how to be something you missed
 
*Aku benar benar tak tahu caranya menjadi yang kamu rindukan, sayang :')
Never thought we'd have a last kiss
Never imagined we'd end like this
Your name, forever the name on my lips

....
I love how you walk with your hands in your pockets
How you kissed me when I was in the middle of saying something
There's not a day I don't miss those rude interruptions
 
*Tiada hari tak kurindukan gangguan tak sopanmu itu*
....
So I'll watch your life in pictures like I used to watch you sleep  
*Maka kan kulihat hidupmu dalam gambar seperti dulu kulihat kau terlelap*
And I feel you forget me like I used to feel you breathe
....
Just like our last kiss
Forever the name on my lips
Just like our last


Seperti ciuman terakhir kita. Terasa begitu nyata. Liriknya begitu sempurna menggambarkan awal dan akhir cerita kita. Tak perlu lagi kugambarkan betapa menyejukkan momen itu. Biarkan mengalir seperti rahasia kita sekarang. Aku masih melebih-lebihkanmu meski kamu tak pernah terlihat lagi. Meski kita tak pernah lagi bertemu atau saling kontak padahal jelas tertera masih ada nomormu tersimpan, masih ada sambungan dunia maya yang selalu mengingatkan, bahwa kita hanya butuh satu klik untuk mengatakan "sedang apa?". Herannya itu tak pernah terjadi, kita menahan diri tapi aku tak pernah mengerti menahan diri versimu seperti apa. Sedangkan yang kupahami adalah aku menahan diri agar tak terlihat begitu rindu. Tak tampak begitu kehilangan. Aku belajar menghargai kediammanmu dengan cara menahan. Apa kamu merasakan hal yang sama?

Aku percaya padamu sayang, hingga dititik aku akan melihatmu bersanding dengan wanita lain. Dengan wanita yang pasti bersamamu selamanya. Biarkan aku dengan penyakit Caraphernelia. Penyakit patah hati yang setiap kali seseorang rasakan ketika ditinggalkan pasangannya, menyebabkan kenangan yang menyakitkan. Lagi-lagi aku berbicara ilmiah agar kau lebih paham. Tapi aku yakin kamupun memiliki hati yang kamu yakini, tanpa harus berjalan beriringan dengan logika.

Aku hanya pemerhati setiap detail kecilmu dengan kacamata perasaan, hanya mampu berjuang melalui tulisan yang sangat panjang sedangkan kamu pria dengan segala teka-teki, membuat semua orang cemburu saat melihat kita berucumbu. Kamu berhasil membuat segalanya indah namun juga patah dalam satu kali hentakan.

Love you


by : Indah

Inspired by : 
50% mirror experience, 20% Pinteres, 10% Taylor Swift, 10% Logika, 5% Drama, 5%Toilet
Note : 
Ini intro menuju the real story of one shot, ibarat skripsi mungkin ini abstraknya *opo seh lak mesti author absurd, gak elegan blas*










Rabu, 01 Juli 2015

Wild Tales : We Can All Lose Control



Aku berusaha cerita tanpa adanya urutan skenario film Wild Tales .  Aku juga tidak akan berbicara soal kapan waktu tayang atau dari mana film ini berasal bisa dilihat di Google.

Wild Tales,  jika mendengar namanya  itu seperti salah satu fim yang menyangkut  hal-hal mengenai keliaran atau kekejian tapi secara garis besar, film ini merupakan gabungan 6 cerita yang menurutku tentang adanya “sebab-akibat”. Orang  menjadi tertekan karena keadaan lingkungan dan pada akhirnya kehilangan kendali atas dirinya.


Cerita pertama, mengisahkan adanya pembajakan pesawat oleh seorang pemuda (Pilot pesawat). Kenapa membajak pesawat? Karena dia dendam dengan semua orang yang pernah membuat masalah dengan dirinya. Orang – orang (penumpang pesawat) yang pernah menghancurkan kisah percintaannya hingga orang-orang yang menghancurkan karir kehidupannya. Dikumpulkan menjadi satu sebagai penumpang di salah satu pesawat boeing. Bagaimana caranya dia menyatukan seluruh penumpang? Di film itu tidak dijelaskan secara spesifik tapi apa yang membuat ketahuan bahwa seluruh penumpang baru menyadari kalau pesawat dibajak kemudian dijatuhkan oleh Pilot? Dialog acak. Dialog 2 orang  penumpang yang bercerita tentang satu nama yaitu nama pilot itu dan secara spontan lawan bicaranya merasa kenal dengan nama tersebut tapi dengan peran dan kepentingan yang berbeda. Serunya di sini. Ketika dialog itu terjadi, ada beberapa penumpang yang menguping pembicaraan dialog acak antar dua orang ini, kemudian menyadari bahwa orang yang dimaksudkan adalah orang yang sama yang juga pernah mengalami masalah berat dengan dirinya begitu juga dengan seluruh penumpang yang ada di Pesawat tapi dengan kasus yang berbeda-beda. Ketika mereka sadar bahwa mereka memang sengaja dipertemukan di Pesawat, di saat itulah nyawa seluruh penumpang beserta pilot tidak lagi terselamatkan.

Ini baru cerita pembuka dan menurutku luar biasa karena membuatku berpikir bahwa suatu saat akan ada kejadian seperti ini, karena “kendali seseorang  terhadap dirinya mempunyai batasan” begitu terasa di film ini. Tampak nyata.

Cerita kedua sampai lima, aku harap kalian harus menonton sendiri karena tidak akan berkesan jika aku terlalu banyak spoiler. Langsung ke cerita penutup yang paling favorit menurutku. Tentang cinta.



Pesta pernikahan antara Romina dan Ariel. Romina benar-benar bahagia dalam hidupnya karena menikah dengan pria idamannya Ariel. Pesta berlangsung meriah dan benar-benar membuat semua orang ikut berdansa untuk kebahagiaan kedua mempelai. Tak lama ketika acara dansa usai, Romina bergegas memenuhi panggilan salah seorang tamu yang ingin dikenalkan dengan teman-teman sejawatnya termasuk teman-teman Ariel yang di undang di pesta. Ketika Romina menjelaskan salah satu teman wanita Ariel yang bernama Lourdes, Romina melihat dari kejauhan betapa Ariel menyentuh Lourdes dengan sangat mesra dan lembut layaknya pasangan kekasih. Di situlah insting seorang Romina yang mencintai Ariel sepenuh hati berkata bahwa Lourdes adalah selingkuhan Ariel selama ini.

Romina menguatkan diri untuk membuktikan asumsinya dengan mengambil handphone dan mencoba menelpon salah satu normor yang diberi nama “guru gitar Ariel” nampaknya asumsi Romina benar. Tak lama, dering handphone itu diangkat oleh Lourdes yang sedang duduk sebagai tamu undangan di salah satu meja bundar. Dari jauh Romina tersentak, amarah tak tertandingi mengontrol jiwa dan hatinya. Hanya ada rasa sakit dan amarah. Cintanya tak lagi tampak, pernikahan indahnya tak lagi bahagia. Lourdes segera menutup telpon, dia tau bahwa ketahuan Romina. Senyum keruh tampak pada bibir Romina, dia mengajak dansa Ariel untuk pembuktian berikutnya bahwa benar Ariel selingkuh. Romina memberikan beberapa pertanyaan menyangkut siapa guru gitarnya?  Ariel berkilah dan berkilah hingga Romina menarik kesimpulan tidaklah mungkin di dunia ini banyak orang menjual handphone berbagai merk dan seorang guru menjual handphone bekas kepada Lourdes jika bukan guru itu adalah Lourdes sendiri. Ariel membeku, wajahnya membiru. Romina melontarkan pertanyaan terakhir di tengah-tengah dansanya apakah Ariel pernah bercinta dengannya? Ariel menjawab Iya dengan pasrah.

Seketika Romina tertunduk dan menangis sejadi-jadinya, luntur semua riasan di wajah dan rambutnya. Mahakacau. Berusaha menampik amarah yang ada di dada dan rasa panas yang tersangkut di kerongkongannya. Dia berlari ke atap gedung pernikahan hendak melompat lantas di cegah oleh seorang koki. Ditenangkanlah batin dan pikirannya. Bahwa kasus wanita diselingkuhi bukanlah dia saja. Sejenak Romina berpikir jernih, menatap koki tersebut dalam-dalam kemudian menciumnya dan bercinta dengannya di atap gedung. Alih-alih untuk menunjukkan bahwa aku juga pernah bercinta dan melampiaskan semuanya. Kita satu sama.

Ariel menyusul Romina setelahnya, sampai di atap gedung melihat secara langsung bagaimana Romina bercinta dengan sang koki. Dramatis. Romina menegadah, bangkit dari tubuh rebahnya, si koki terbelenggu bersalah. Romina menatap Ariel bukan seperti Romina yang dulu melainkan sudah menjadi iblis bagi Ariel. Murka wajahnya memaki Ariel, mengancam, mengutuk dan menyumpah seumur hidupnya hingga akan menyengsarakan sampai ajal menjemput. Tak berhenti sampai di situ, dia akan menguasai seluruh harta kekayaannya setelah Ariel meninggal. Betapa gelap hati Romina kala itu.

Gaun tile pengantinnya mengepak menghina Ariel. Sudah compang camping memang tapi Romina mampu berjalan kembali ke pesta, menyuruh sang DJ memainkan musik paling meriah. Dengan tampang seolah “baik baik saja” dia mengajak teman-temannya menari-nari berputar. Para undangan mulai menyadari hal yang aneh. Tubuh Romina tertuju pada Lourdes, dia berjalan ke arah Lourdes. Lourdes ketakutan merasa ada yang tidak beres. Diajaknya menari Lourdes, berputar-putar, pusing, mual, Romina meneriaki Lourdes “Kau harus tau bagaimana rasanya taman hiburan rollercoaster seketika ditutup!” sedetik itu, dihantamkannya Lourdes di cermin sebesar jendela jaman Belanda. Pecah, berdarah dan keduanya terluka.

Sampai sini, aku tidak akan bercerita lebih dalam kelanjutan dan akhir ceritanya. Dapat diambil pelajaran bahwa ketika wanita yang sensitif atau bahasa gaulnya “baper” akan ada masa dia tidak bisa lagi menahan sakitnya. Aku menonton film ini karena opini objektif dan subjektif. Objektifnya, film ini bisa diambil hikmah bahwa setiap apa yang kita perbuat menyakiti atau disakiti pasti akan ada hasil yang kita tuai di kemudian hari. Subjektifnya, salah satu kelemahanku menyangkut perasaan adalah membenci perselingkuhan dengan adanya film ini aku bisa menunjukkan pada orang yang saat ini ingin serius denganku maka seriuslah “percepat kata serius itu” dan aku berusaha menunjukkan gambaran nyata melalui film ini. Aku juga tidak pernah tau, film ini dibuat dengan skenario seperti itu dan aku secara acak memilih film di list movie-ku untuk kutonton dan kupilih WILD TALES.

By : indah
Source : Gambar jelas Google


Selasa, 02 Juni 2015

Ayah Rasa Mantan 2

Semakin ku pikir panjang akan apa yang terjadi semakin kencang dering handphoneku. Hallo?. Suaraku mendadak sedikit penasaran dan lebih dalam daripada biasanya. Semakin dalam aku mendengarkan, emosiku makin tak tertahan. Beliau mengucapkan beberapa kalimat yang membuatku tersulut. Intinya merasa marah dan kecewa denganku. Kenapa harus berhubungan dengan lelaki yang kurang beliau setujui? Masalahnya sepele hanya karena latar belakang keluarga yang dia pandang sebelah mata. Lelaki itu seorang wirausaha, sedangkan yang diharapkan beliau adalah dari kalangan pegawai alias karyawan tetap sebuah perusahaan. 
Panjang lebar dia berkata, sedikit kasar dan merendahkan iya! Responku akhirnya menantang juga. Melawan balik, memprotes yang tidak seharusnya aku lakukan akhirnya aku lakukan. Iya, melawan orang tua. Ayahku sendiri.

Mengapa? Karena menurutku sudah tidak jaman memandang orang dari satu sudut pandang. Hanya karena dia wirausaha dia juga berhak untuk sukses melalui jalannya. Terlebih lagi usaha tersebut menurutku menjanjikan daripada sekedar menjadi karyawan. Yang lebih mulia, lelakiku telah bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain yang membutuhkan pekerjaan daripada karyawan yang notabene ikut orang. Tidak adil jika ayah berkomentar panjang lebar tapi tidak tahu realita yang ada. Dunia ini lebih luas daripada yang dipikirkan, manusia harus lebih kreatif. Jangan mau termakan sistem dan stereotype.

Setelah sekitar 1 jam bertengkar hebat via telpon. Sambil menangis tersedu-sedu, aku menutup telpon itu. Tak perlu kuceritakan kalimat apa saja yang terlontar dan terbalas karena cukup menyakitkan untuk didengar. Menurutku biasa, pasalnya memang hubunganku dengan orang tua terkadang ada gap, beda pendapat yang teramat jauh. Mereka yang mendidikku teramat keras, menuntut sekolah seperti ini seperti itu, harus pintar, serius , sempurna bla bla bla sedangkan nyatanya aku jauh dari kata sempurna dan tidak pernah mendapat dukungan atas apa yang aku pilih. Sudah saatnya aku dengan pilihanku dan mereka harus menghargainya.  

1 jam setelah pertengkaran....
Akhir Mei...

Sohib sohib kosan datang untuk menenangkanku. Mereka justru seperti the real family yang mampu menenangkan disaat jiwaku melampaui batas. Berbagai nasehat kudengar, berbagai komentar kudengar. Meyakinkan bahwa aku bisa melewati ini. Memperpanjang jarak bukan akhir dari hubungan dengan lelakiku. Butuh rencana. Aku hanya meyakini ketika batu yang terus menerut ditetesi air akan berlubang begitu juga hati Beliau.

H-2 Kepindahanku...
Akhir Mei...

Kuperbanyak menenangkan diri, berdiskusi dengan lelakiku. Mendengar cerita dari teman teman yang memiliki masalah lebih besar. Umur 20 sekian merupakan masa transisi. Tak perlu lagi aku melihat teman teman yang tidak memikirkan soal pernikahan karena mereka ingin berkarir, tapi yang kulihat adalah kesempatanku ternyata tidak sama dengan mereka. Aku dihadapkan dengan sosok lelaki yang siap menikah dan itu yang harus aku hadapi, bukan lagi lelaki yang sepantaran denganku yang baru lulus dan masih hahahihi mencari pekerjaan bahkan sebagian dari mereka masih menganggur. Ketahuilah kondisiku berbeda, itulah yang membuatku merencanakan masa depan yang lebih pasti daripada yang lain.

H-1 kepindahanku...
Akhir Mei...

Kubangun rencana ku bongkar lagi, sedikit menangis banyak berpikir ulang dan ulang. Mulai terbiasa dengan ini. Memikirkan bagaimana cara menghadapi Beliau nantinya dan apa yang akan kulakukan di rumah. Rasa bingung merayapi tapi aku tetap yakin semua akan berjalan sesuai apa yang ada. Aku tidak sendiri, berdiskusi dengan Tuhan melegakanku. Waktunya Packing.

Siang hari, 31 Mei hari kepindahanku...

Mencoba untuk tidak bersedih dan tegar. Mengiklaskan semuanya dan legowo. Siang itu, jemputan langsung datang, 15 menit kuangkut barangku tanpa interaksi dengan Beliau. Sama sama tanpa interaksi. Ada yang berbeda, seperti Ayah rasa mantan. Iya. Ibarat kata bertemu mantan yang masih sayang. Tak ada kata, canggung, gengsi, tak ada yang berani memulai tapi masih saling ada. Ada untuk saling menyayangi. 

Kami sama sama gengsi untuk mengulik pertengkaran kemarin. Hingga sekarang 2 hari semenjak kepindahanku. Perang dingin. Rasanya seperti orang lain, cuek tak ingin bicara satu sama lain. Hampir 23 tahun kami erat dan dekat saling bercerita kini tak ada. Hilang, lenyap kenangan itu. 
Baru pertama kali aku dibuat begini oleh ayahku sendiri. Secara fisik, aku baik baik saja, benar benar sehat tapi secara hati terjungkir rasanya diperlakukan sedemikian rupa. Yang menguatkanku adalah pilihan, pilihan untuk tetap bertahan karena pada dasarnya kami sama sama keras. Dan tidak ada satu pun yang mau mengalah. Menset Ayah yang melihat dari satu sudut pandang sedangkan aku yang melihat dari beribu sudut pandang dan kami sama sama tak terkalahkan.

Entahlah, endingnya seperti apa. Kubiarkan diam aku juga akan diam hingga pada akhirnya rencana yang kususun sudah siap untuk dilepaskan. Benih yang aku tanam siap untuk dipanen. Maka disitulah kartuku akan kubuka semua bersama pilihanku di depan Ayahku yang serasa mantan. 

By : Indah

Ayah Rasa Mantan

Malam sebelum keberangkatan ke Malang..
Akhir Mei 2015..

Perasaan campur aduk. Karena ini terakhir kali aku ke Malang. Terakhir kali aku bertemu orang-orang yang aku sayang dan terakhir kali aku bisa memperluas jarak pandangku, bernafas di alam bebas sebelum pada akhirnya aku berkemas dan kembali ke penjara. Beliau sudah tau mengapa dan mestinya beliau sadar betapa rumah seperti penjara bagiku. Tak ada kemajuan di sana yang ada hanya aturan, teralis kamar yang mengekang, jarak pandang hanya 10meter saja. Bukan pula layak disebut dunia kecil yang nyaman tapi penjara yang pantas. Jadi tak berhaklah dia mempertahankan aku di rumah. Aku diam saja masih perang batin rasanya. 

Pagi sebelum berangkat...
Akhir Mei 2015...

Beliau datang dengan suara mengicau pikiranku. Bertanya statusku jika pergi dari rumah. Bekerja tidak, Mahasiswa apalagi! Jangan membuat beban!. Lantas kepentingan apa di sana?. Keluarlah kata kata kembali ke rumah, kamu harus kembali ke rumah. Berpindah, kerja ataupun tidak. Matanya yang tajam meneriakiku seketika.

Aku berpikir sejenak, di rumah aku malah jadi apa? Informasi apa di rumah soal pekerjaan? Tak ada teman sebaya, keluar rumahpun tak boleh. Aku baru lulus dan dituntut kerja secepatnya, apa tak melalui PROSES?. Hargailah sebuah PROSES! Laki laki ini benar benar keras kepalanya. Kolot hati dan jiwanya. Memandang dunia hanya satu sudut pandang sedangkan fungsi mata tidak hanya untuk melihat tapi juga cerminan untuk melihat dunia yang lebih luas.

Di sisi lain Beliau sudah mendengar bahwa aku memiliki calon yang ingin ku kenalkan tapi tidak untuk sekarang, aku masih menyusun rencana masa depan dulu sebelum benar-benar siap menikah setidaknya sampai tahun depan, pikirku waktu itu. Tapi yang ada beliau malah menyuruhku untuk menikah jika itu pilihanku dengan syarat harus mengurus Ibuku lalu Beliau akan bertolak ke Banyuwangi untuk menyendiri di sana.

Sinetron! Hidupku seperti sinetron! Aku masih diam tak bergeming. Air mata yang berbicara tapi tetapku diamkan saja segala gaya bicaranya mengalir melewati tekingaku. Bengkak rasanya.

Sore hari sejak pergi dari Rumah...
Akhir Mei

Perjalanan dari rumah ke Malang, lumayan menguras tenaga tapi lelah itu sirna ketika melihat kamar kosan yang sempurna. Duniaku kembali di kamar kos. Jauh dari Rumah, tanpa aturan tanpa kendali. Besi-besi yang merantai leher mencair. Jadilah diriku sendiri. Santai, tertawa terbahak-bahak. Hingga tawa itu mati seketika, ketika handphone ini bergetar, kuterima sms dari Beliau yang berisi tanggal kepindahanku sudah ditetapkan. Hari minggu akhir Mei. Aku tercekat. Kenapa maju, kesepakatan awal  kepindahan awal bulan Juni. Tak lama handphone berdering cukup kencang. Jantung makin deg degan. Akan ada kejadian, bau bangkai tercium juga.

To be continued.....

By : Indah