Sabtu, 09 November 2013
Kamis, 07 November 2013
Bukan Penjual Bunga (Poem)
Ini bunga biasa yang sering merajalela
Mendekat dikehidupan sehari hari kita
Ada yang lupa akan pesonanya
Berakhir pada tajamnya tangan manusia
Ada anggrek tumbuh dipekarangan
Pekarangan rumah dekat pasar
Sengit wangi pasar menutupi lekuk tubuhnya
Tubuh anggrek ungu pudar
Diinjak-injak tukang jagal ikan
Bentuk lemahnya bunga tak bernama
Bergerumbul menjadi satu
Menantang angin biru dan kupu-kupu
Bersembunyi dibalik sinar menggebu
Saya bukan penjual bunga
yang ragu akan kata ambigu
cuma penjual foto dari melayu
yang menunggu datangnya kupu-kupu
Namanya Laras
Memegang bunga meranggas
Ekspresinya lepas
Lantaran dia seorang ampas
by : Indah
Minggu, 08 September 2013
Surat Cinta Anak IPS
Sosok Adam Smith si bapak ekonomi tidak pernah merasakan pertumbuhan cinta kita yang begitu cepat seperti pertumbuhan industri dunia.
Jika kebalikan dari ekonomi mikro adalah ekonomi makro maka ilmu itu dapat kuterapkan pada hatiku yang tiba-tiba menyeluruh dan meluas untuk siap diisi oleh senyumanmu.
Tanpa ada rumus penawaran maka rumus permintaan akan kulakukan untuk memintamu menjadi pendamping hatiku.
Oh..bukannya kamu pandai menghitung?
Iya, tanpa kalkulatorpun angka angka pada neraca saldo dapat beranak pinak seperti rasa sayangku padamu setiap harinya.
Akan ada denyutan jantung naik turun seperti kurs dolar yang tak stabil saat aku dan kamu dipertemukan menjadi KITA.
KITA akan menjadi SALING untuk segalanya, melengkapi dan rekat seperti kedua sisi mata uang koin.
Aku dan Kamu bukan fatamorgana yang hanya ilusi tapi nyata.
Meski rawan pasang surut diterjang ombak malam namun kepercayaanku padamu tidak akan mengakibatkan abrasi yang berkala.
Kebersamaan kita lebih dari sejarah yang terukir alam semesta.
Lebih lama, mendalam dan jangan sampai memudar ditelan jaman.
Bisa kita jadikan biografi untuk cerita indah kita.
Mimpi kita nyata meninggalkan artefak berwujud dunia.
Saat disisimu sudah seperti gempa vulkanik dari dalam hatiku.
Atmosfir sayang kita tidak kenal istilah membesar tapi berlapis-lapis bagaikan langit.
Ada gerak turbulensi saat mata kita menatap kemudian menjadi gaya yang absolut.
Rasaku lebih dalam dari zona abysal sekalipun, tiada banding dengan dalamnya lautan.
Jangan sampai ini semua berevaporasi kemudian hilang ataupun berkurang sayang :)
by : Indah
Minggu, 01 September 2013
Klasik
Aku gadis mungil bernama
Alice, 13 tahun, aku seorang penulis kecil dengan celotehan tentang rasa.
Mengamati setiap gerak gerik yang dilakukan orang dewasa. Kutintakan setiap
emosi yang pernah dialami orang orang disekitarku. Kumpulan emosi ini akan
kujadikan referensi untukku, di masa yang memang aku sudah berhak untuk
merasakannya.
Contohnya
marah, dalam noteku pernah tercatat :
Ada
tanduk diatas kepalanya…
Atmosfirnya
menyala dan suhu tiba-tiba naik beberapa derajat. Aku merasakannya.
Dad,
menyalurkan kekuatannya yang terdasyat lalu membuang guci ke arah luar.
Aku rasa,
ada hantaman keras dilubuknya tak terrekam oleh mataku. Menohok dan sakit.
Bukan
Mommy yang memukul tapi memang tak terlihat didalam dadanya yang bidang.
Itu
amarahnya yang menyelimuti Dad saat itu…
Aku
pernah mengalami emosi itu saat Vinicia menyembunyikan kotak musik kesayanganku
lalu mengklaim sebagai miliknya. Itu menyedot seluruh aliran darahku lalu naik
kekepala bagian atas. Panas sekali, ingin kugigit lehernya.
Kemudian
sedih :
Suhunya
terlampau dingin dan sesak.
Teman
sekelasku disekolah mendadak menjadi pekat auranya.
Matanya
berair kemudian mencair
Penyesalan.
Tubuhnya seperti diayun-ayun naik turun. Dia seperti ingin muntah, atau lebih.
Miss Eli
tengah menghukumnya didepan kelas karena tertangkap mencontek tugasku.
Namun rasanya berbeda jauh
dengan level kesedihan yang kurasakan. Lebih gelap dan terlampau kandas. Datang
kepengadilan hanya untuk melihat beberapa belah pihak adu mulut. Sidang
perceraian. Apa dewasa harus seperti ini? Aku jadi kebal, lama lama akan kebas
dan tak merasakan apapun.
Beratnya setengah mati
melebihi Jonathan yang dihukum didepan kelas, lebih dari Cecil yang merengek
meminta chocoball ke Mommynya bahkan Eric yang patah kaki karena jatuh dari
tangga lantai 2 sekolah tapi aku tidak pernah menangis dengan keputusan kedua
orang yang mengaku telah dewasa itu, hanya mencerna lalu menulisnya satu
persatu dengan istilah istilah kusendiri. Kembaranku, Vinicia tak henti hentinya
terisak.
Lalu datang emosi baru yang
boleh kusebut sebagai Conjuring ini, saat umurku beranjak 15 tahun :
If you’re
not the one then why does my soul feel glad today?
If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call
If you are not mine would I have the strength to stand at all
If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call
If you are not mine would I have the strength to stand at all
I’ll
never know what the future brings
But I know you’re here with me now
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with….
But I know you’re here with me now
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with….
I don’t
want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?
And I
hope you are the one I share my life with…
And I wish that you could be the one I die with…
And I pray in you’re the one I build my home with…
I hope I love you all my life
And I wish that you could be the one I die with…
And I pray in you’re the one I build my home with…
I hope I love you all my life
‘Cause I
miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
Biarkan aku tertawa lepas
setelah menulis ini dibalik struk belanjaanku dengan Vinicia.
Lagu ini mewakili emosi
‘ajaib’ yang kurasakan pada loper koran yang tiap harinya dengan baik hati
melempar koran kearah Juden. AJAIB-nya Juden tak mampu menyalak, makin kalut
saat tangan pemuda mulai memanjakan telinganya yang tajam dan moncongnya yang ganas.
Herderku kalah telak dengan permainan pemuda itu.
Kenapa rasa Conjuringku
tertambat pada loper koran? Iya, hanya cinta monyet untuk umur 15 tahun
mungkin. Menyenangkan menikmati usiamu. Bahkan aku tak pernah sadar saat aku
mulai menorehkannya pada kata-kata dan berakhir seperti ini. Aku tak pernah
memimpikannya.
Saat aku berada dimasa
depan nantinya. Diumur 17, 20, 25 akan ada cerita yang lebih mendalam.
Celotehan pada note yang lebih vulgar mungkin tapi bukan kekanak-kanakan. Atau
cinta monyetku bukan lagi kepada pemuda loper koran itu. Seru!
Semua ini menjadi bukti
akan ukuran kedewasaan bahkan kumpulan perasaan yang kuraba menggunakan pena.
Kuakui hal yang berbau cinta adalah emosi yang paling kuat diantara yang lain
yang mampu membuatmu limbung. Alasan KLASIK.
by : Indah
Jumat, 16 Agustus 2013
Cara Menik(mati)mu
Ini
mungkin terlihat membingungkan. Ini mungkin terlihat sangat pecundang hanya
saja aku tak ingin terlalu mengumbar. Cukup mati dengan candamu, cukup mati
dengan suaramu yang selalu menggema di saraf-saraf otakku. Mengertilah, aku bukan
gadis romantis yang berputar-putar dengan ungkapan sayang terhadapmu. Andai
saja kamu tau seberapa mati gayanya aku saat berbincang denganmu atau hanya
sekedar memulai pembicaraan. Jatuh cinta diam diam.
Aku
bukan gadis yang pandai membolak-balikkan, kata-kata cinta yang spesifik “Aku
mencintaimu, Percayalah!” bukan itu keahlianku tapi aku sembunyi dalam kiasan
dan dunia bayangan yang tak perlu kau tau seberapa vulgar aku berimajinasi
tentangmu. Modalku hanya tersenyum dan menahan nafas sejenak dengan begitu aku
tidak perlu mati kutu didepanmu. Bergelut dengan lompatan-lompatan impian gila
yang susah dikendalikan.
Bukan
untuk sembarang hati aku melakukan itu. Tak perlu alasan. Hanya perasaan untuk
dirasakan. Susah dimatikan. Belajarlah untuk peka bahwa aku memiliki caraku
sendiri untuk menikmatimu. Sepele tidak ada yang lebih, cukup duduk bersama
dengan memandangi langit yang sama. Aku meminta itu hanya itu, lantas biarkan
aku menganalisis setiap adegan dan gerak gerikmu sedetail mungkin. Desahan
nafas, aroma tubuh yang kuhirup, ujaran kata ‘hmm..’ kemudian ‘apa?’ bahkan
‘iya’ dan ‘tidak’. Bagaimana dengan sentuhan? Skinship?. Kekehan tawamu saja
sudah bisa membunuhku apa jadinya jika tangan hangatmu itu sekedar menggandeng
tanganku. Aku akan menggali lubang kuburku sendiri.
Keledai
itu bodoh. Aku pernah menjadi keledai saat melihatmu dari jauh. Kamu sibuk
menggauli segala aktivitasmu. Sesekali aku tersenyum heran, ada sepasang bola
mata yang mengarahkan tatapannya padamu. Berkedip kadang-kadang untuk membuat
mata ini cukup berair. Kemudian sering kali membuat suara-suara aneh hanya
ingin menarik perhatian. Sadar? Merasa? Yang paling tolol adalah saat berdiri
seperti mayat hidup disela-sela kursi, aku tak kunjung duduk di singgasana
nyaman itu. Untuk apa? Mendengar dan memastikan bahwa itu langkah kakimu yang
mendekat, ada gelombang suara khas dari pita suaramu yang tak menusiawi itu.
Lalu kamu lewat, seketika aku pura pura buta. Durasinya terhitung 5 detik
kemudian berlalu. Apa yang kurasakan? Error.
Aku harus
meminta maaf diawal. Maafkan aku mungkin bagimu adalah hal yang membosankan
tapi terkesan mendalam bagiku. Berlebihan? Kukira tidak. Hanya aku tak cukup
berani mengumbar kemanjaan didepan umum. Pilihanku hanya diam dan merumitkan
diri sendiri. Kembali pada bilik bilik kata bersayap.
Tak pernah jelas caranya aku menikmatimu
yang jelas kamu sudah berhasil membuatku terbunuh oleh bahasa kehidupanmu.
Selamat bertandang ke pemakamanku, kamu si pembunuh rindu.
By :
Indah
Senin, 05 Agustus 2013
Langganan:
Postingan (Atom)



















