Senin, 08 April 2013

Time Machine (part 1) -- Introduce



Percayakah dengan adanya sebuah kebetulan? Ketika semua disetting dalam panggung drama yang Tuhan ciptakan tanpa kau ketahui. Semua tingkah laku bahkan semua rasa; amarah, ceria, senang, sedih, pertemanan, kebodohan, kekonyolan berputar seperti roda. Masa dimana semua akan menjadi kenangan, menjadi masa lalu yang tak mungkin terlupa. Iya, masa putih abu-abu; semacam susah ditinggalkan. Bahkan kejadian ini akan menjadi titik temu yang mengejutkan untuk perjalanan hidup Venus.

Seperti biasa para lady Venus enggan meninggalkan kegiatan yang bersifat mengobrol dan mengopi di cafe yang letaknya ditengah distrik Gangnam. Nuansa berunsurkan senja, cahaya matahari masih meruam disekitar tempat mereka berdiri sekarang. Salah satu dari mereka hanya bisa berteriak kesal karena sudah melewati antrian panjang kemacetan untuk sekedar memarkir mobil mereka, “Hyaa! Kenapa selalu saja mengantri”

“Sora-ya, Aku kira kau sudah terbiasa dengan segala keruwetan macam ini, ternyata masih berkoar juga” sahut Kang Paran dengan cengiran mautnya.

“Semoga para pelayan cafe bisa menurunkan aksi bad mood, Sora” timpal si gadis paling mungil Choi Ninri. Sekilas tampak  Kang Paran mengangguk-angguk sembari memelintir rambutnya dengan ujung jari-jarinya.

Tanpa banyak bicara lebih lanjut, lady Venus sudah berdiri didepan pintu seolah menunggu pintu café terbuka dengan sendirinya. Tak ayal, dengan segala kedramatisan, pintu itu terbuka lebar, memang tau betul siapa yang akan datang. 6 wanita yang digawangi oleh si cuek Kim Sora, beranggotakan Kang Paran, Choi Ninri, Jung Ji Eun, Park Hyurin, dan Song Nara ini bertampang entertaining berunsurkan disaster sparkling, menyilaukan mata setiap umat didalam café tersebut termasuk para pelayan café Shinhwa.

Dandanan ala glamor kontemporer selalu menghiasi masing-masing dari mereka. Pembawaan yang  lebih dewasa, dengan mini dress modern dipadu padankan dengan penggunaan kacamata hitam yang sesuai dengan karakter mereka dan sebagian lagi hanya memakai lensa kontak yang membuat penampilan mereka tampak lebih muda membuat  para pelayan dengan segala hormat menyambut mereka, berbeda dengan pelanggan yang lain. Venus bukan owner bukan juga pembeli, mereka hanya sekumpulan kecil wanita popular yang suka menjajah café Shinhwa, tak ingin disebut pelanggan setia.

Meja bundar bernomor 6 selalu menjadi pilihan Venus untuk berlama-lama disana hingga café tutup. Apa yang mereka cari? Siapa sebenarnya mereka dan untuk apa? Banyak pertanyaan yang muncul disetiap kedatangan mereka dihari itu dan jam itu ditiap minggunya. Komentar paling ganas adalah Venus merupakan fans fanatik pelayan café Shinhwa. Bagaimana tidak, sekarang mereka duduk dengan anggunnya. Pelayan mendatangi dengan ramah, mengelilingi mereka dengan sosok yang berwibawa.

Café Shinhwa terkenal dengan pelayan yang maha-welcome dan hanya 6 orang yang mengelolah café itu. Wajah mereka bukan seperti pelayan, sebagian pembeli mengira mereka adalah boyband gawanan SM Entertainment, dimana agensi itu adalah tempat semua artis Korsel bermuara. Sebagian lagi mengatakan bahwa mereka adalah model dengan lebel agensi western berkedok pelayan dan yang paling parah adalah mereka memang dilahirkan keren dan tampan kemudian bertemu pada titik kejenuhan menjadi orang yang paling digandrungi, lantas membuka café dengan profesi mereka saat ini, karena sosok mereka memang tak manusiawi.  Jelas saja, café mereka sangat lah ramai dan banyak penggemar.

Menu telah disodorkan pada masing-masing Venus. Diam sejenak, memandangi menu, kemudian menutupnya.

“Seperti biasa” Ji Eun menjentikkan jarinya. Pelayan hanya berdeham pelan lalu melenggang pergi kecuali pelayan dengan postur paling tinggi yang berada disamping Sora tampak menyerngit.
“Tidak ada menu tambahan, membosankan” ujar Sora selengekan.  Matanya sedikit melirik kearah pelayan disebelahnya. Ekspresinya sedikit menahan kesal lalu menghela panjang dan pergi. Sora dan yang lain tersenyum geli.

Sambil menunggu pesanan yang dikata Ji Eun “seperti biasa” tadi. Si tembem Nara sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, tak lupa tangannya yang sering mengayun-ayunkan kamera poket kecil miliknya pertanda photomoment dimulai. Snap..snap..snap. Suara jepretan membuat teman-teman yang lain mengerang “aah…belum sempat berpose nih” celetuk Ninri dengan tampang sedikit kecewa.

“Aku punya ini..ayo kita nostalgila” suara lantang dari Nara membingungkan semua member Venus. Sebuah amplop coklat tampak penuh digenggaman tangan Nara yang kecil. Matanya yang bulat tampak menyipit saat dia mulai membuat penasaran. Hyurin melepas kacamata hitamnya, membaca terbata-bata setiap tulisan yang tertera diamplop lalu tercengang, “O-ur Sto-ry. Woo…..”

Tawa Nara meledak saat melihat ekspresi kaget teman-temannya, “Ya, didalam sini cerita kita dimulai. Semua moment yang kita lalui, moment suka duka bahkan skandal; semuanya tak pernah absen dari mata lensaku. Moment SMA ”. Tangan Nara memutar-mutar, membuka ujung amplop lalu dituang semua isinya hingga berceceran di meja bundar itu.

“Sebanyak ini kah, foto foto kita?” mata Ninri berbinar-binar.
“Jinjja? Lihat, bukankah ini foto pertama kita ditahun pertama sekolah dan ini kali pertama juga saat, Nara memiliki kameranya?” Paran tercengang saat tangannya mulai gemas mengambil satu foto paling ramai, foto bertuliskan ‘oppa moment’ diantara foto-foto yang lain. Yang paling jadul dan paling menggelikan baginya. Gambar itu mulai memutari yang lain. Tampang mereka antara lucu dan menahan tawa. Secara otomatis semburat pipi merah ditunjukkan oleh  Hyurin yang notabene pamalu disegala suasana.

*Flashback beggining*

“Kenapa kita membolos hanya demi ini!”  Hyurin sibuk meraung lantaran menunggu Nara mempersiapkan tripod dan memasang kamera barunya.
“Tsk, dasar anak rajin” sinis Sora, “Paran-a bisa kau ambilkan minumku, disini mulai panas”. Paran yang sedari tadi menikmati musim panas dibelakang sekolah, hanya bertampang santai dan pasrah menerima suruhan dari Sora, “Oke..oke”.
“Ayo..ayo semua berbaris disini, ya! dibawah pohon akan terlihat bagus sekali. Kamera pertama harus diisi dengan foto pertama Venus. Yuhuuu…” Nara mengarahkan teman-temannya dengan sangat ahli.
“Aku ditengah…aku ditengah” Ninri tiba-tiba menghambur membelah sisi tengah barisan, “Kau lupa siapa leadernya”, tatapan Sora melayang, menghujam Ninri yang terlanjur girang,
“Mian..hehe” 
“Poniku tidak terbelahkan?” semua sibuk dengan dandanan masing-masing termasuk Ji Eun yang kali pertama membuka suara karena sejak tadi dia sibuk dengan kacanya dipojokan, “Aigo! Hyurin-a! Lepas kacamata itu, kau tampak cupu sekali. Ini foto pertama kita. Kenapa ekspresimu seperti itu?” menunjuk kearah  Hyurin yang kini tampak murung.
“Seperti biasa, dia anak dengan record tak pernah membolos, sekalinya bergabung dengan kita, image-nya terjun bebas..haha!” guyonan Sora membuat  Hyurin semakin terpuruk.
“Bagaimana jika ada penjaga yang tau kita membolos lalu dibawa keruang treatment itu memalukan”
“Sudahlah nikmati musim panasnya” sahut Paran tetap santai.

Nara melihat kemballi posisi layar, mengatur timer dengan sangat pas. Memencetnya kemudian berlari kearah teman-temannya sambil berteriak “10 detik lalu teriakkan OPPAAA~~”
“OPPA???” semua tercengang.

3…2…1 tak banyak waktu, sontak ditengah kebingungan ‘kenapa harus berkata oppa?’ Venus tetap eksis dijepretan bertagline OPPA~~pertama mereka. Pose mereka tampak berberbeda-beda sesuai karakteristik mereka. Si Pemalu  Hyurin dengan kacamata cupu dan senyum malunya, Ji Eun si master fashion, bertahtakan jepit rambut warna warni disetiap inci kunciran rambutnya, si penurut Paran memegang kipas pink kesayangannya, image ceria Ninri,  dengan senyuman paling meriah yang pernah ada, Nara si fotografer berpose ‘saranghae’ dan Sora dengan gaya paling menggoda yang pernah ada.

“Semenggoda ini kah aku dulu?” tanya Sora dengan wajah tak berdosa.
“Seantero sekolah juga tau kalau kau playgirl” celetuk Ji Eun, seketika Sora pura-pura tak mendengar.
“Lantas, apa yang terjadi setelah foto ini?”
“Ketahuan penjaga dan kita dihukum. Nara sempat mengambil gambar saat kita dihukum. Ini…” suasana menjadi hening akibat kebodohan masa lalu.
“Pesanan, untuk meja nomor 6” salah seorang pelayan bersuara parau membuyarkan sejenak ingatan mereka tentang masa SMA. Berbagai jenis minuman beraneka warna dan cake manis tersebar menarik dimeja. Para pelayan sedikit tergelak lalu mengulum senyum melihat tumpukan foto tertimbun didepan mereka. Penasaran. Tak ingin tau lebih lanjut mereka cepat-cepat pergi melayani pembeli yang siap diisi makanan dalam perutnya.
“Terima kasih selamat sibuk tetap semangat, Oppa~” kata-kata penyemangat datang dari Ninri seperti biasanya.
“Genit woo genit!!” semua member Venus menggoda Ninri. Ninri tersipu malu.

Beberapa dari mereka menyeruput minumannya, sebagian lagi mulai memakan cream cake sesuap dua suap. Nara menunjukkan foto berikutnya dengan sangat antusias “Skandal kita diawali dari ini, musuh bebuyutan, lawan tanding eksistensi kita, Shinhwa”

“OMG…benar-benar sama dengan nama cafe ini” Ji Eun menahan tawanya. Semua mulai melirik satu sama lain kemudian fokus kearah foto yang dipegang oleh Nara. Foto itu menggambarkan betapa eksisnya geng mereka yang berhadapan dengan geng lawannya. Cengiran menghina datang dari kedua leader dari masing-masing geng. Ditengah-tengah muncul sosok pemuda dengan tampang frustasi yang membentangkan tangannya seakan ingin melerai mereka.
****
            Ocean Art High School masih megah dengan bangunan bermodel tradisional Korea, memang dikemas seperti itu. Simpel dan sederhana namun melahirkan murid-murid yang berpotensi dalam bidang seni. Seni kerajinan tangan, menari, melukis, fotografi, bermusik semua kumpul menjadi satu. Terlepas dari bakat mereka dan sistem pendidikan yang menuntut mereka menggali kreatifitasnya , ketimpangan dari segi manner sekelompok murid masih dipertanyakan disekolah ini, menjadikan warna tersendiri bagi memori mereka kelak. Popularitas dan eksistensi.
            Shinhwa seperti mendarah daging diwilayah Ocean Art, bagaimana tidak, kelompok yang paling player dan big liar ini selalu menjadi sorotan utama pemberitaan sekolah. Dibawahi oleh Eric si Leader dengan image play and bad boy, Junjin sebagai center dari ke-charming-an Shinhwa tapi sama nakalnya dengan Eric, penyuka bullying dan terakhir ada Minwoo dengan segala style M nya yang narsistis. Lengkap sudah penderitaan Ocean Art. Tandingan yang pas untuk Shinhwa adalah Venus. Enam wanita lawan tiga pria bukan masalah besar tapi makin menambah kehancuran tersendiri.

“Lihat, Hyung…aku berhasil mengabadikan war moment mereka. Ayo ikut aku, pasti sangat seru!” Kim Dongwan si fotografer mading sekolah, penebar isu-isu dan fakta yang ada disekolah dengan senyuman paling manis seantero sekolah mulai mengompor lalu melompat kegirangan pada ketua OSIS, Shin Hyesung sembari menyodorkan hasil jepretan ter-hot yang ia dapat.
“Aigo~~ kenapa mesti mereka lagi sih..” kedua tangannya menepuk keras dikepala membuat poni depannya tampak bergoyang.

Disisi lain, perang dingin masih berlangsung. Lorong sekolah hanya berisi Shinhwa dan Venus, saling tatap dan saling diam. Auranya seperti ingin membunuh satu sama lain. Sangat klasik. Disebelah mereka terpampang mading dengan judul terskandal dari Eric ‘Eric Shinhwa kembali membully Van Gogh Ocean Art’. Tanpa isyarat, tanpa membaca sedikitpun, masih dalam keadaan termangu saling menatap. Sora angkat bicara.
“Aku pikir, apa hebatnya membully Andy. Selalu saja mengerjai orang-orang yang lemah. Apa kau merasa iri dengan bakat melukisnya seperti Van Gogh, jabrik?”

Junjin dan Minwoo sontak menahan tawa melihat ekspresi kesal Eric yang dikata jabrik, membuat Eric sempat menyikut perut Junjin. Eric membengis, tangannya mulai terangkat satu, jarinya menunjuk kearah mading disebelah berita skandalnya, mengetuk kacanya. Tubuhnya yang jangkung sedikit menunduk berusaha mendominasi tubuh Sora yang kini melangkah mundur.
“Baca yang jelas. High-light….Pasangan Kim Sora dan Anak Kepala Sekolah Go Publish. Dasar playgirl!”
“Pabo-ya!!!”

Geraman dari Venus seakan menggetarkan lorong sekolah. Cekcok mulut detik itu juga terjadi. Ninri sibuk menyemangati leadernya yang makin memanas bersama Eric. Minwoo hanya terdiam dan sesekali menjulurkan lidahnya kearah Ji Eun. Paran dan  Hyurin masih takut-takut untuk beradu mulut sehingga yang dilakukannya hanya minggir dan mulai membaca mading. Kilau flash makin membuat keadaan memanas karena tiba-tiba datang beruntun dari kamera Nara. Kericuhan makin memanas saat Dongwan dan Hyesung turut andil dalam pertengkaran tak penting mereka. Bersamaan dengan itu semua, Hyesung berusaha melerai dengan frustasinya.

“STOOP!!!! Selalu saja seperti anak kecil!” pekik Hyesung. Kondisi hening sesaat. Shinhwa dan Venus memandangi Hyesung dengan tatapan tajam. Heningan hanya berlangsung sedetik.
 “HYAA!!!” Eric dan Sora meneriaki Hyesung dengan kencang. Mereka berdua memicingkan matanya, Hyesung menelan ludah. Hanya bisa menghela nafas dan menggeleng tak karuan. Dongwan dan Nara tersenyum puas melihat hasil tangkapan terakhir foto mereka. Adu mulut masih tetap berlanjut. Pose yang pas untuk ‘war moment’ benar-benar terpampang jelas dikamera Nara.
“Muka Hyesung antik sekali disini, kasian haha” ujar Ji Eun menertawakan foto kenangan bertuliskan ‘Musuh bebuyutan’
“Sebenarnya apa sih yang membuat kita selalu bertengkar tidak jelas?” pertanyaan menohok Ninri membuat member lain tersentak.
“Eum…mungkin karena unsur gengsi dan ketakutan diri kita akan eksistensi yang menurun sehingga pada pencapaian aktualisasi diri…”
“ Hyurin-ya….berhentilah memakai teori absurd” Paran memotong ucapan  Hyurin dengan ekstrem sambil mengayun-ayunkan sendok cakenya.
“Aku jadi makin penasaran soal jaman SMA kita selanjutnya. Soal Andy, dan diam diam aku mengabadikan moment ini..” Nara mengambil foto berikutnya. Foto yang ia jepret bertuliskan ‘Rescue Andy’. Gelak tawa mereka membahana lagi. Tampang Kang Paran langsung bersemu merah, ia berusaha menutupinya dengan kipasnya tapi masih tembus pandang.
“Andy waktu itu terlihat memalukan” komentar Paran.

Apa kisah selanjutnya? Kenangan apa lagi yang akan diulas dalam bingkai foto yang mereka kumpulkan selama 3 tahun?

TBC
            

Minggu, 31 Maret 2013

FF MV version (Hurts---Shinhwa)



Sudah lama sekali nggak nulis FF hehe...sekalinya bikin malah dapet ide yang nggak nggak.
Bikin FF MV version itu loh mana ada sebenernya...tapi ya karena nggak puas aja lagu seenak itu nggak ada MVnya jadi aku bikin bikin sendiri sesuai imajinasi hahaha *author parah*
Perjuangannya mendetail waktu bikin ini, selain mengkhayal keras juga mikirin durasinya diitungin perdetik biar pas *nggak penting banget kan* belajar jadi DOP (Direct of Photograpy) juga kan :) lumayan...
Kalo kata Einstein Pengetahuan itu berawal dari imajinasi, kalo nggak salah si gitu haha :D

Semoga yang baca mengerti dan sepaham dengan saya...dan semoga transletnya nggak salah haha
Syarat baca ini harus mendengarkan lagunya sepenuuh hati dan itu harus MALAM HARI dengan TIMING GALAU!!!!!! REMEMBER TIMING GALAU!!!! :D

enjoy the show :)

Play the music please... Hurts --- SHINHWA



Adegan 1
Siluet gadis berambut pendek memakai gaun putih, lekuk punggungnya memantulkan bayangan hitam. Sosoknya hanya duduk menghadap danau yang kian menjingga. Menikmati warna orange senja. Lantas menghilang. Bernuansa sendu.

Adegan 2
[MinWoo]
Salmyeosi yeope nuwo
Ni eolgul gaseume saegyeo
Neo yeoksi himdeultende
Gonhi jamdeun eolgullo haengbokhan kkumeul kkuneun neo
I gently lie next to you and engrave your face in my heart, you must be suffering too. 
With a sleeping face, you're dreaming a happy dream

Minwoo sibuk dengan tanaman herbalnya. Mencangkul setiap inci tanah di taman buatannya, dengan ekspresi serius. Keringatnya mulai membasahi kaos warna coklat yang ia kenakan. Detik itu, cipratan tanah menghambur kearah tubuhnya. Gadis itu memain mainkan sekop disampingnya sembari tersenyum. Masih mengenakan gaun putih favorit Minwoo. Minwoo tak bisa menahan senyum tulusnya. Berusaha menyekop tanah, mencoba membalas permainan nakalnya. Lantas gadis itu lenyap. Senyumnya hilang....

Adegan 3
[DongHwan]
Useodo useojiji anha
Chueoge sarojaphil ttae
Achimi oji anhasseumyeon
Neol bonael su eopge
Even if I smile, I can't smile when I'm caught in our memories
I don't wish the morning to come, so I don't have to let you go
And it Hurts~ And it Hurts so bad

Seperti biasa Donghwan dengan kameranya sibuk memotret objek yang membuat senyumnya sangat mengembang. Membuat perasaannya melambung. Objek gadis bergaun putih dengan renda dibagian lengannya. Sedang berayun ayun disebuah ayunan kecil terbuat dari rotan pohon rindang yang menjuntai. Kibasan rok yang dibuat gadis itu semakin memanggil-manggil lensa Donghwan lantas membingkainya dalam bunyi klik. Satu jepretan terakhir gadis itu lenyap, ukiran senyumnya turut hilang, kameranya tak mampu menangkap aura gadis itu. Donghwan memeriksa layar kameranya, tak ada lagi gambar gadis itu lalu Donghwan membengis kesal.

Sialnya, berimbas pada pekerjaan sehari-harinya. Deadline pameran untuk tema “Wonderful Women” membuatnya frustasi. Model dihadapannya berubah menjadi gadisnya, gadis masa lalunya. Pedih, membuat Donghwan tak pernah konsen dengan blidznya. Seluruh Studio terbakar emosi Donghwan. Pencahayaan, kilauan flashnya, dress putih, membuatnya tak pulih sedikitpun dari rasa cintanya. Akhirnya Donghwan menghentikan pemotretan, Ia pergi meninggalkan studio…

Adegan 4
[HyeSung]
Uri maeumgwa ipsureun seoro dareun mareul haneunde
Apahaltende
And it Hurts~ And it Hurts so bad
[HyeSung] Yeongwonhi nae gaseumen neobakke eobseo wae moreuni
Neon wae moreuni
And it Hurts
Our heart and lips say different things, must be hurtful 
And it hurts, and it hurts so bad, forever in my heart 
You're the only one, why don't you know, why don't you know, and it hurts

Tangan mereka bergandengan. Gadis itu menuntun hyesung berjalan. Gadis cantik bergaun putih, dengan big belt orange yang merangkul pinggul menawannya. Mata Hyesung saat itu tertutup dengan selendang orange dari kekasihnya. Masih dengan nuansa serba putih. Mereka berhenti disebuah bangunan. Wajah centil gadis itu tak tahan melihat ekspresi penasaran Hyesung. Membuat tangan gadis itu segera menarik penutup matanya. Surprise... didepan mereka terdapat sebuah toko buku yang diidamkan Hyesung. Hadiah untuk hari jadi mereka, sebuah toko buku bertuliskan “Uri Story”. Cerita cinta dimulai dari sini semua kenangannya terselip disetiap rak rak buku yang mereka tata. Kegembiraan, suka dan duka merawat dan mengelola toko itu bersama. Hingga saat gadis itu kembali lenyap ditengah imaji Hyesung bersama tumpukan buku-buku yang kini ia tata sendiri.

Let it Hurt, let it Hurt, let it Hurt so bad Let it Hurt, let it Hurt, let it Hurt so bad

Adegan 5
 [JunJin]
Jebal dasineun yakhaejiji malja saenggakgwa mareun dareuge
Gaseume beonjin ingkeuwa nunmuri mareuge
Han jumui jaecheoreom jabeul su eomneun saecheoreom nal kkaetteuryeo geu sogeseo neol tteona bonaege
I tell myself, please don't weaken again, unlike my thoughts and words
So that the ink and tears that have spread in my heart dry up
You break me like a fist of ash, like an uncatchable bird
So I can let go of you within

Junjin menghentikan petikan gitarnya terdengar suara teriakan dari lantai bawah apartemennya. Mengharuskan pria berkemeja biru muda itu menengok kearah jendela. Gadis berperangai lembut itu menari berputar-putar untuknya dari bawah, seperti balerina memanggilnya dengan isyarat saranghae dari lekukan tangannya.
Junjin tersipu malu, segera turun untuk menyambutnya. Jantung tak kuat menahan detaknya yang gembira. Pintu terbuka, seperti tonjokan tepat diulu hatinya, yang ada bukan sosok kekasih yang didamba melainkan teman-teman bandnya. Menghambur memeluk Junjin dengan santai. Memukul lengan dan dada Junjin bercanda tanda persahabatan. Membiarkan teman-temannya naik ke lantai atas meninggalkan Junjin dengan senyum kakunya. Seperti terjerembab rasa galau yang membuncah bagi Junjin. Junjin menutup pintu dengan gebrakan keras.

Adegan 6
[MinWoo]
Chagapge gogael dollyeo
Hamburo deonjin maldeure nan
Jinsimi animyeonseo
Seoroui mameul jjijeonwa juwo dameul su eomneun mal
I turn my head coldly, in the words that I have thrown mindlessly while they weren't our honest feelings
Tear each others hearts, words that we cannot fetch back

Minwoo terlihat hampa, memasak tanpa perasaan. Membiarkan menu berderet dihadapannya. Masih jelas diingatan, gadis itu sering membawa sampanye untuk Minwoo hanya sekedar menyemangati nya sebagai chef direstoran bintang lima. Appronnya ia lempar dengan marah, mendarat ditepian wajan. Menyulut api, lantas menyambar tangan partner memasaknya. Protes sang manajer untuknya kala itu membuat Minwoo merasa bersalah. Meminta maaf kepada temannya adalah cara terbaik bagi Minwoo. Temannya tersenyum kemudian, menyodorkan sebotol sampanye untuknya. Seolah temannya sangat mengerti perasaan Minwoo akhir-akhir ini. Mimik Minwoo berubah menjadi senyum pasrah.

Adegan 7
[HyeSung]
Deo isang saranghaji anha
Geu saramgwa haengbokhaesseumyeon hae
Majimak butagiya Jebal geunyang gajwo~Woah~
I don't love you anymore, 
I hope you to be happy with that person It's my last favor, please just go

Andy terlampau keras dengan panahnya. Menarget titik yang harus ia tembak. Membuatnya langsung frustasi. Sasaran yang berbentuk bulatan bulatan membingungkan matanya. Setiap tembakan melenceng berinci-inci dari poin yang akan memenangkannya kelak dipertandingan. Yang membuatnya resah adalah sosok gadis yang menjelma menjadi sasaran tembaknya saat berlatih. Bercanda dengan panah mainan bersamanya adalah hal yang paling ia rindukan. Lamunan menyerupai nyata, mengantarkannya pada depresi akan gadis itu.
Gadis pembawa apel merah, tangannya terangkat diatas kepalanya siap dibidik panah Andy namun hanya luapan tawa yang mereka hamburkan. Kenangan demi kenangan membuat panah Andy diluar kendali.

And it Hurts~ And it Hurts so bad
([HyeSung] Oh~Woah~)

Adegan 8
[DongWan] Uri maeumgwa ipsureun seoro dareun mareul haneunde
([HyeSung] Oh yeah~) Apahaltende And it Hurts~
([HyeSung] Baby it Hurts) And it Hurts so bad ([HyeSung] So~bad)
[DongWan] Yeongwonhi nae gaseumen neobakke eobseo wae moreuni Neon wae moreuni And it Hurts
Our heart and lips say different things, must be hurtful
And it hurts, and it hurts so bad, forever in my heart
You're the only one, why don't you know, why don't you know, and it hurts

Tenaga Eric tak kunjung berhenti disini. Memukuli kantung pasir diatas ring sebagai bentuk rasa amarah yang membuncah. Obsesinya untuk menang kejuaraan boxing national ia tunjukkan dengan menempelkan stiker Boxing Champion disamsak yang ia pukuli. Keringatnya mengucur diseluruh tubuhnya. Kaos putih tanpa lengan merembes basah.
Seseorang melempar handuk kering kearahnya. Eric menoleh, tampaklah gadis berbalut baju sporty putih adidas bercelana pendek lengkap dengan deker orange. Mengangkat tinggi tinggi banner yang bertuliskan “Hwaiting!!! <3”
Eric tertawa lalu mendatanginya sambil mengusap keringatnya yang luruh, mengambil botol air minum dan mengguyurkan keatas kepalanya. Seketika diusapnya kembali wajahnya yang lelah, dilihatnya kembali gadis itu. Kosong…gadis itu tak pernah hadir lagi.

Adegan 9
[Eric]
Ije gyeouna baewosseo neol saranghaneun beop
Galpi jocha mot japgesseo neowa ibyeolhaneun beop
Modu byeonhaeganeun geose gildeullyeojyeo ganeun geot
Saneun geot Manheun geoseul da pogihae ganeun geot
Gaseum nopikkaji ssahin bamsae naerin nuneul chiwo
Utneun ppiero hwajangeul naneun jiwo
Bokgu halsu eomneun hyujitongeul biwo
Miro Wiro Nal geonjyeojugil gido
I finally learned it, how to love you
I don't even know where to start, on how to break up with you
Getting used to everything changing Living,
 Giving up many things
 I shovel all the snow that has piled up to my heart all night
 I take off the smiling clown make-up
 I empty the trash folder that can't retrieved back A maze,
 I pray that someone will scoop me up

Band Junjin tampil pertama, permainan gitar Junjin membahana di seantero konser band Indie Korea. Lagu ditutup dengan nada tinggi dari sang vokalis. Entah apa yang ada dipikiran Junjin. Ingatannya masih dipenuhi gadis itu, gadis yang selalu membawanya dalam impian indah yang ia bangun selama ini. Suara gadis itu berdengung di telinganya. Menyakitkan. Cuplikan bayanganya ada dimana-mana. Saat ia latihan, saat ia sendiri, saat ia bermain dengan gitarnya. Tak kuasa menahan, diangkatnya gitar Junjin, dengan segenap tenaga, ia membanting gitarnya ditengah-tengah panggung. Sekali dua kali bahkan berkali-kali. Sang vokalis tercengang melihat tingkah Junjin yang attractive. Setelahnya Junjin meninggalkan gitarnya yang hancur sama seperti rasanya.

Adegan 10
[DongWan] Achimi omyeon dalkomhan Kkumeseo kkaeseo tteonagetji
I dont want nobody else but you~*silent for a while*
When the morning comes,
I will probably wake up from this sweet dream and leave i don't want nobody else but you,….*silent for a while*

Eric menghajar lawan kelas beratnya, pukulan eric tak cukup kuat untuk menumbangkan lawannya. Pikiran Eric kacau, sorak sorai penonton membuatnya frustasi. Ia masih mencari cari sosok gadisnya ditengah penonton. Memecah konsentrasi, pukulan mendarat tepat diperutnya. Lawannya berhasil mengambil celah. Eric tumbang, wasit menghitung puncak detik kekalahannya, lawannya mencela.

Tak ingin menyerah ia berteriak dengan sakit “HYAAAA!!!!”.

[HyeSung] Bonaeya haneunde~
I need to let you go but

Tubuhnya bangkit mengeluarkan tenaga terakhir, menebas habis muka lawannya dengan serangan paling hebat dari kumpulan rasa sakit dihatinya. Suara dentang bel berbunyi, Eric menang.    

And it Hurts~
([MinWoo] Ah~) And it Hurts so bad
[HyeSung] Uri maeumgwa ipsureun seoro dareun mareul haneunde
Apahaltende And it Hurts~
Our heart and lips say different things, must be hurtful And it hurts, and it hurts so bad,

Adegan 11
([HyeSung] Hurts~Woah~) And it Hurts so bad
([DongWan] Baby it Hurts~)
[MinWoo] Yeongwonhi nae gaseumen neobakke eobseo wae moreuni
Neon wae moreuni
And it Hurts
Forever in my heart You're the only one, why don't you know, why don't you know, and it hurt
[Andy] Listen Amugeotdo anboyeo nunmuri chaollaseo
([HyeSung] And it Hurts) Eodibuteo jalmotdwaenneunji meori soge maemdorasseo
I can't see anything because of the tears that have filled up. What was the beginning of the cause,


Hingga saat pertandingan berlangsung, Andy berpegang pada keyakinan dan konsentrasi penuh atas titik yang harus ia bidik. Berusaha menepis bayangan gadis itu, gadis yang menenggelamkan isi hatinya. Dalam hitungan ketiga Andy menarik laras panahnya, memicingkan kedua alis tebalnya, membidik lalu melontarkan panah nya dengan rasa memaksa. Gadis itu muncul lagi, mengganggu Andy untuk kesekian kalinya. Masih membawa apel, Andy menarik nafas panjang, membidik tepat di jantung gadis itu. Senyum riang gadis itu menampar segala rasa sakit yang ia derita.  Panahnya terlempar sejauh yang ia perkirakan, tepat sasaran, tepat dibayangan jantung gadis lampaunya. Semacam melegakan, poin sempurna ia dapat. Mungkin itu panah terakhir yang membawa rasa sesak dalam diri Andy.

Adegan 12
 ([HyeSung ] And it Hurts)
[Andy] Mollasseo I was wrong nae yoksim ttaemae Now youre gone And I want you back Baby girl I want you back
I kept thinking about it I didn't know, I was wrong, because of my greed, now you're gone And I want you back baby girl, I want you back

Bayangan Hyesung dikaburkan oleh bel dimeja kasir. Sosok tangan lentik dari seorang pembeli terjulur dihadapannya, buku berjudul “We cant live in the Past” membuatnya mendesah sakit. Bibir Hyesung dipaksa untuk tersenyum pahit seketika.

 [HyeSung] We cant live in the past

Adegan 13
Foto terakhir yang ia pegang adalah foto favoritnya, Sepetak tembok khusus berwallpaper orange susu special untuk fotonya. Ia memasang gambar itu dengan wajah sendu khasnya, merelakan foto itu untuk ditawar seniman lain. Harapannya agar segera melupakan gadis berambut pendek yang sedang duduk menatap senja di danau. Foto itu akan segera hilang dari dalam hidupnya begitu juga gadis yang pernah mengisi hatinya.

THE END


by : indah


Senin, 25 Maret 2013

100 Puisi dan Sepenggal Cerita (Part 4)


Sayangnya berakhir tak asik. Meninggalkanku kah jawabnya. Sakit sangat sakit. Semua yang pernah kita lewati berujung pada jawaban kekecewaan yang menjelaga. Siapa yang salah siapa yang jahat?. Datang disaat yang salah dan kamu menyalahkanku. Apa yang kurasa tak pernah kumengerti bahkan selalu salah. Untuk apa mempermasalahkan ini semua ketika aku kelak akan menderita. Ketika nantinya hanya kebohongan akan perasaan. Aku akan berhenti dan menghentikan rasa (Cerita hampir berakhir)---Rasa

61. Diam diam sendu, kisah kelabu menyergap. Bertahta hampa syahdu melaga. Indah seraya mengingat memori kalbu #puisimalam

62. Putih abu-abu masih tentang kita. Tak memudar menjadi kepingan. Melebur membentangkan romansa SMA #puisimalam

63. Redupkan cahaya semu. Rindu kian mericuh. Siluet abu-abu tunjukkan bayang tentangmu #puisimalam

64. Langit enggan membiru, menyirat semburan abu-abu. Kaburkan pandangan tentang jingga yang menyeru #puisimalam

65. Kepala berputar penuhi kenangan tentangmu. Matikan setiap saraf otakku, jatuhku dalam warna kelabu perasaan #puisimalam

66. Putar waktuku untuk kehadiranmu. Masa lalu mengundang keindahan yang menghardik sakit hatiku #puisimalam

67. Putar kenangan tentangmu. Menyalakan api kerinduan. Membekukan segala rasa senyap berselimut malam #puisimalam

68. Sejak saat itu yang artinya sayang terlampau kelam. Mengharubiru menjadi tunggu. Sabar pasti menghasilkan buah rindu #puisimalam

69. Tetaplah disampingku, rindu napasmu yang mencemari ruang keluku. Hangat. Menghidupkan dunia kelabu #puisimalam

70. Aroma napas tubuhmu membuatku fana. Menyusup keparu-paru lantas sesak, racunkah yang kuhirup atau cinta yang pekat? #puisimalam

71. Hirup saat kau butuh lalu lepaskan. Tarik ulur napas tak teratur sama seperti rasamu padaku. Menjadi karbon kehampaan #puisimalam

72. Aku hanya jeda dalam napasmu. Bukan apa apa sebatas lompatan. Hembusan tanpa arti yang memberiku makna #puisimalam

73. Mengapa napas ini memburu? Mendekati sosok auramu. Jantung berhenti seketika, jatuh cintakah aku? #puisimalam

74. Kadang aku tak ingin tidur. Menjalani mimpi yang sekedar fantasi. Dibawa melambung lalu dilontarkan lantas mengayun sampe jatuh #puisimalam

75. Bundar bumi berputar bak roda. Langit melingkar hembuskan angin malam. Dingin menerjang mendekap sang bulan #puisimalam

76. Setiap malam, gelap meradang. Seluruh tubuhmu seakan dalam genggaman. Membayangkan keindahan dalam kenangan #puisimalam

77. Ketika alunan Venus meredam segala emosi, ketika suaranya menenangkan awal kemarahan. Dan biarkan mengalir seperti ini #Venuspoem

78. Cermin sang putri memantulakan sepi. Wajahnya keru rindu keajaiban si peri #puisiperi

79. Sakitnya melebihi apapun. Rasakan sayatan pedang tumpul dan cambukan pecut bergerigi menyalak keras dalam hati. Kapan sembuhnya? #puisimalam

80. Jika Venus adalah aku maka kamu Mars yang merah menyala. Segalanya cintanya berputar berjenis planet yang penuh misteri #Venuspoem

Kamis, 21 Maret 2013

The Named I love



“Apa yang kamu tulis untuk istri masa depanmu?” tanya Adam.
“Tidakkah itu rahasia?” protes Otto sambil menutup bolpoin dan  membentangkan sebuah kertas.
Sedikit gebrakan pada meja belajarnya.
“Teruntuk istriku tercinta. Karena aku sangat mencintaimu. Aku akan berusaha agar kita bisa hidup bahagia sampai akhir. Aku berharap kita bisa hidup bahagia selamanya. Terima kasih banyak ” Otto membaca suratnya sendiri sambil berekspresi aneh.
”Apa itu patut untuk disebut messages love?” goda teman berambut spike nya yang telah menghentikan acara meneken tulisannya juga, dimeja sebelah.
“Mari kita lihat punyamu. Aku ingin kamu selalu melakukan hal-hal yang terbaik bagimu. Karena sekarang kamu adalah prioritasku di atas segalanya. Marilah selalu hidup dengan bahagia. Sayang, aku mencintaimu. Menggelikan…” Otto tertawa, menerbangkan kertas-kertas konyol yang mereka berdua buat.
 Tangannya yang kasar menyambar sebuah gitar usang diatas kasurnya. Ia bangkit.
“Ok,saatnya bekerja. Aku harap kita mendapatkan keberuntungan hari ini”

Mereka berdua beranjak dari rumah kontrakan kecil di pemukiman sempit, meninggalkan kertas-kertas yang mereka anggap penting. Membawa dua buah peralatan berharga mereka, gitar akustik yang siap menggucang stasiun kereta. Dapat ditebak pekerjaan mereka adalah pengamen yang mempunyai derajat tinggi, tak maulah mereka disandingkan dengan pengamen biasa di emperan toko. Mereka bermusik dari hati, lagu-lagu mereka tak ada yang tak berarti, menciptakan lagu merupakan keseharian mereka.

Si Otto pemilik suara emas dan setiap lentik tangannya handal dalam bermain gitar  ,tak akan pernah berhenti untuk tersenyum kepada setiap orang yang akan ia hibur. Sama seperti partner seumur hidupnya. Si cemerlang Adam, dia berjanji akan terus menciptakan lagu untuk sobatnya dan bermain bersama hingga tak ada lagi orang yang mampu melihat mereka. Mereka yakin di setiap pagi menjelang, orang-orang juga akan ikut menanti mereka.

Sampailah mereka di stasiun tempat biasa mereka bermusik, tempat yang lembab, tembok yang berlumut dan dingin, hanya di temani tangga besi tua yang sayup-sayup terdengar suara berdecit kasar. Hari masih pagi sekali hanya sedikit orang yang lewat diawal.

“Hari apa ini? Kota sibuk setiap harinyakan?” seringai Otto.
“Entahlah, apa tema kita hari ini?” ujar Adam sambil menata beberapa bangku yang Ia ambil dari pos satpam.
“Jangan paksa aku berbuat buruk dengan tempat ini. Ceria saja seperti biasanya”.
“Okidoki”.

Otto memang enggan disuruh menyanyikan lagu sendu dengan alasannya yang konyol,“Suaraku terlalu menyayat hati, Adam” atau “Kenapa harus  aku, nanti nenek-nenek itu menangis” dan Adam hanya berusaha tertawa.

Untuk petikkan pertama sebagai pemanasan, gitar Otto terdengar mengalun sendu namun lambat laun hanya intro dan intro yang terus ia mainkan, bergemuruh keras lagu akustik yang menyenangkan. Adam berusaha menengahi lagu itu, mengikuti gerak jari-jari Otto, ekspresi sahabatnya yang menurutnya lumayan tampan ini membuatnya makin bersemangat. Tapi sayangnya pemilik alis tebal ini selalu tak serius meresapi permainannya.

“ Balonku ada lima..rupa rupa warnanya…” suara Otto melanglang buana ditengah kesunyian stasiun kereta.
“OTTO!! Haha seriuslah” hardik sohibnya yang kini memukul lengan si biang kerok. Permainan Otto terhenti seketika, “Kenapa aku mulai bosan ya?”.

Saat permainan mereka berhenti terdengar tapak kaki berlari kecil. Dua orang wanita sedang jogging bersama dan mengeluh capek bersama. Sosok itu duduk dianak tangga yang hendak mereka turuni. Pandangan kedua wanita berambut panjang itu mengarah pada dua orang pengamen di depannya. Mata keduanya tajam, menyisir gaya para pria didepannya yang sedikit compang camping namun manis itu. Sontak Otto dan Adam terkesiap dan segera menyanyikan lagu untuk mereka.

Baby you light up my world like nobody else

The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But when you smile at the ground it aint hard to tell
You don't know
Oh Oh
You don't know you're beautiful


Para gadis masih memperhatikan dua pemusik itu lalu mereka tersenyum geli, sepertinya menarik. Lantas mereka menghampiri Otto dan Adam.

“Al, bukankah suaranya keren?” si pirang Victoria mengerling sambil menunjuk kearah Otto.
“Iya, mereka berdua pandai memainkan alat musik” Aline balas menunjuk ke Adam.

Tanpa pikir panjang Adam hanya terdiam dan memainkan lagu berikutnya. Kali ini lebih melow dan dalam. 

Ingin sungguh aku bicara
Satu kali saja
Sebagai ungkapan kata… perasaanmu padaku
Telah cukup lama kudiam…
Didalam keheningan ini
Kubekukan di bibirku
Tak berdayanya tubuhku
Dan ternyata cinta yang menguatkan aku
Dan ternyata cinta… (tulus mendekap jiwaku)

Otto ikut bernyanyi. Victoria dan Aline semakin ingin berlama-lama berdiri didepan  mereka, akhirnya Aline sadar harus berbuat apa, dia merogoh kantongnya mencari uang kecil tapi kesempatan itu dihalangi oleh Victoria yang sedari tadi tak berkedip mamandang Otto. Victoria berbisik pada adik yang terlahir beda 5 menit itu, “Aku yakin mereka tidak butuh uang”. Disaat lantunan lagu mereka berakhir Victoria masih tak berkedip.

“Sudah lama kalian berada disini?” tanya Victoria.
“Ehm..,setiap saat” jawab Otto sedikit gugup.
“Aku yakin kalian disini sangat lelah, ini ada hadiah kecil buat kalian” Victoria dan Aline memberi saputangan pada Otto dan Adam lalu melanjutkan joggingnya begitu saja.
“Kamu sudah tidak merasa bosan?” mendadak Adam menepuk pundak Otto yang masih melempar pandangan pada dua gadis tadi. Mendadak pula raut wajahnya seperti melambung, hembusan dadanya mencengkram kuat petikan gitar lalu suara emasnya kembali bersahutan diseantero stasiun.


Membuat diriku sungguh-sungguh

Tak berhenti mengejar pesonanya
kan ku berikan yang terbaik
tuk membuktikan cinta kepadanya

Dia dia dia cinta yang ku tunggu tunggu tunggu
Dia dia dia lengkapi hidupku

*****
Disisi lain Victoria dan Aline saling pandang dan memikirkan kejadian tadi.
“Kamu nekat!” kata Aline dengan sedikit penekanan.
“Aku butuh hiburan. Lagi pula dia terlihat cukup baik” diam-diam Victoria mengulum senyum.
“Jangan sampai Andy tau” mata lentik Aline seakan menghujam kakaknya.
“Oh..ayolah aku tidak sejauh itu. Aku bisa merasakan ketulusan mereka saat bernyanyi. Dirimu juga merasakannyakan? Mata coklat pria itu…, jangan buat hidupmu terkekang bersama Eric. Jujur saja apa yang kau rasakan”.

Aline mengumpat keras ketika pembicaraan sudah menyangkut perasaan. Diam-diam gadis mungil itu bersemu merah.

Victoria dan Aline kembali ke istananya yang megah. Tentu saja, mereka adalah saudara kembar dengan berbagai karakter yang berbeda-beda. Dua orang tuan putri anak seorang pengusaha tenar di kalangan berbagai Negara tetangga, dengan segmentasi yang bukan Indonesia ini, sangat terhormat ditambah tempelan manner yang berbobot. Numpang tinggal di Indonesiapun hanya sebatas skenario agar terlihat tidak terlalu mencolok, sedangkan ayahnya yang sering berseluncur ke Negara-negara lain mewajibkan anak kembar itu harus menikah muda.
Mereka tinggal bersama dua orang laki-laki yang akan siap mendampingi hingga akhir hayat . Andy dan Eric  adalah laki-laki dari sekian yang terpilih menjadi tunangan mereka. Laki-laki dari keluarga terpandang juga, bibit bebet bobot mereka terpenuhi diatas normal. Tak ada kata-kata tak sempurna didalamnya.

“Kami pulang!” teriak mereka berdua dengan nada yang sedikit absurd dari biasanya.
“Selamat datang. Makanan sudah disiapkan” sambut pelayan mereka.
“Terima kasih, Tuan muda sudah datang?” celetuk Victoria sambil berjalan ke dalam rumah tiga lantai itu.
“Masih dalam perjalanan…”

Eric dan Andy bekerja di suatu perusahaan milik mereka sendiri. Menjadi direktur bersama dan membangun serta mengolah perusahaan mereka sendiri dari nol. Menjadi partner dari perusahaan ayah si kembar memberikan peluang menjadi menantu nantinya. Terdengar pintu utama terbuka saat si kembar mulai memanjakan mulutnya dengan semangkuk sereal didepan TV. Sambutan hangat terdengar dari arah luar.

“Kalian berdua bangun pagi sekali hari ini? Tak biasanya” senyum khas dari sosok tinggi kekar memukau dunia. Andy nimbrung tepat disamping Victoria dan menyambar mangkuk sereal. Enggan menjawab sambutan sayang Andy justru Aline yang memprotes, “Kami selalu bangun pagi akhir-akhir ini!”.
“Saat tak ada kami apa yang kalian rencanakan?” goda Eric yang sudah berdiri di didepan TV tepat.
Nothing” menjawab dengan kompak sambil saling pandang.

*****
What’s your feel today?”  Adam menulis diarynya dengan semangat seperti biasa. Kebiasaan yang tak bisa tertunda setiap harinya dan mau tak mau Otto ikut-ikutan terpengaruh didalamnya.
“Keuntungan kita hari ini tidak ada tapi kita mendapat sesuatu” Otto menulis diselembar kertas dan diberikan kepada Adam. Adam menempel kertas milik Otto di buku diary anehnya. Sekilas bola mata Adam menangkap pesan yang disemburatkan dari tulisan Otto.

“Jangan berharap kepada mereka!”
“Siapa tau mereka akan datang kembali, Aku belum sempat menanyakan namanya. Mereka memang cantik” Otto melamun sembari memainkan sepotong saputangan merah jambu milik Victoria.
“Aku tidak akan berharap pada siapapun jika aku menjadi dirimu”  Adam memang berpengalaman dalam urusan perasaan, dia bisa melihat sesuatu yang terlihat salah dari awal.


To be Continued......