Sabtu, 15 Juni 2013

Kiss & Hug [Part 1]

Fanfiction : EXO
Cast         : Song Hyuki (OOC), Chanyeol, Luhan dan Kris
Genre       : Romance
Rated       : M

Enjoy the show :)

Penat. Rasanya seperti sampah. Ujian macam apa yang kukerjakan tadi, sambil menggerutu tak jelas kujejalkan kertas-kertas yang membuat kepalaku runyam kedalam tas. Melihat jam, sudah menunjukkan waktu makan siang. Menunggu anak konyol dengan muka masam ditepian trotoar kampus. Cuacanya sedang cerah tapi kenapa aku malah mendapat nilai jelek. Tumben.
Tak sabar menunggu anak konyol itu, kuberdayakan ponselku. Kugeser kuncinya, tapping menaping dimulai. Dia sering kali online Line. Iya. Line. Baru kutekan applikasinya sudah muncul saja chatku dengannya. Luhan.

Oppa…lapar~~~ cepatlah datang *aegyo*
Senyum senyum sendiri. Menggodanya adalah hal yang sesekali kulakukan. Send. Kupilih stiker yang paling cocok untuk penambahan aksen imut di chat. Sibukku memilih stiker,tiba-tiba jari telunjuk yang tak tau asal muasalnya menyerobot pilihan stiker kelinciku. Menunjuk ke arah teddy bear yang mong. Sontak aku menoleh. Ada yang menempel dibahuku. Membuatku oleng. Kepala Luhan bersandar asik disana, tersungging senyum nakalnya. Senyum yang mematikanku.

“Hya! Aku sudah menunggu lama. Aku lapar dan aku mendapat nilai jelek” Manjaku padanya.
“Nae arraseo” Jambulnya yang merah mengangguk-angguk, menyeretku pada sebuah bangku. Mengisyaratkan untuk duduk “Aku punya sesuatu untukmu, Jjajjang!!” Mengeluarkan dua lembaran kertas seperti tiket. Kubaca tulisannya ternyata voucher makan. Wajahku seketika sumringah kegirangan. Tangan Luhan menggenggamku erat melompat-lompat dipinggir trotoar seperti duo bodoh.

“Selain mendapat diskon makan, temanku dari jauh akan performent disana. Akan ku kenalkan kau padanya”
“Sippo~~” Teriakku lantang.

Kebodohan kami masih berlanjut. Pria berwajah imut itu mengambil iphonenya. Kebiasaan narsis selalu jadi yang pertama. Tangan kirinya sibuk mencocokkan cameranya “Momen mengasikkan harus diabadikan” Ujarnya. Aku dengan posisi disebelahnya berusaha menyamai tinggi bahunya. Dirapatkan tubuhku dengan tangan kanannya. Kugigit voucher makan bertuliskan ‘XOXO Resto’ diskon 50%. 1..2..3. Snap!.

Sekali dua kali berkali-kali dengan pose absurd yang berbeda-beda. Ujung-ujungnya menjadi pusat perhatian. Banyak komentar mengenai kami sebagai pasangan paling serasi di kampus. Banyak orang yang iri hati mengenai kami. Tapi kami tak pernah ambil pusing. Karena inilah kami apa adanya. 5 tahun bersama, mengukir cerita. Aku, Song Hyuki dan Luhan oppa.

“Hyuki-ya kyeopta” Memperlihatkan fotonya. Luhan apa yang membuatmu setampan ini dengan balutan kaos belel biru dongker bawahan jins sobek-sebek ke kampus. Aku hanya menggeleng.
“Kau juga tampan seperti biasanya” Balasku.

Photoshot yang barusan dilakukan adalah selingan penunda lapar. Kini kami mulai duduk didalam bis menuju Resto berdiskon tadi. Sepertinya aku sudah lupa bagaimana rasanya galau soal nilai ujian, bagaimana susahnya belajar jika ada Luhan. Kami berasal dari sekolah yang sama dari SMA hingga mahasiswa sekalipun. Sampai tak tahu hubungan kita ini seperti apa, pacar, anak kembar atau kakak adik sekalipun. Yang jelas oppa selalu melindungi ku begitu pula aku yang selalu membelanya.
Karena kondisi mulai hening, aku mengeluarkan permen membaginya dengan Luhan. Sama sama suntuk karena perjalanan yang lumayan panjang.

“Seperti apa temanmu itu? Apa aku pernah bertemu sebelumnya?” Aku buka suara.
Pria tinggi itu memperhatikanku sejenak kemudian menggeleng.
“Seperti apa dia? Laki-laki atau perempuan?”
Sekarang bibirnya yang tipis digigitnya, jari-jarinya memelintir rambutku yang terurai. Bersikap acuh tak ingin menjawab. Ku tatap matanya curiga, seketika kukuncir rambutku. Isengnya anak ini.
“Pemuda tinggi, lebih tinggi dariku. Bertelinga lebar, matanya juga lebar. Dia seorang gitaris. His name is Chanyeol. Dia sahabatku waktu kecil dan baru bisa bertemu sekarang” Dia merentangkan tangannya lebar-lebar.

Aku menghela nafas panjang, pasti predikat keimutan Chanyeol sejenis dengan Luhan. Gadis beruntung sepertiku ini patutnya dibunuh oleh fans fans mereka. Kesadaranku menjadi klimaks ketika masih ada wanita yang lebih cantik dariku yang bisa menjadi sandingan Luhan tapi apa yang membuat bocah ini memilihku. Iya karena aku yang menjadi diriku, menjawab dengan jujur ketika aku harus mengakui ketampanannya, kepintarannya mencari perhatian bahkan perasaan sekalipun bahwa aku dan dia hanya sebatas sahabat. 

“Aku ada kabar terbaru, aku diterima kerja part time mengajar bahasa inggris. Kau tau dimana?” Mataku berkedip kepadanya. “ Dirumah Pak rektor kampus kita dan aku mengajar anaknya”
“Huwooo..daebak!! anaknya masih SMA?”
“Entahlah sepertinya begitu”
“Kapan mulai mengajar?”
“Besok malam, tiap hari Senin, Rabu dan Sabtu” Aku menyebutkan satu-satu.
“Hajima~~ jangan weekend lantas kapan kita jalan jalan bersama” Tubuhnya sontak mendekapku. Merengek seperti anak usia 5 tahun. Seluruh penumpang di bis memperhatikan sesuatu yang mereka anggap mesra. Lenganku terayun-ayun keatas. “Mianhae..mianhae” Aku tertunduk malu. “Setelah mengajar kau boleh menjemputku dirumah rector kemudian kita main sepuasnya” Bisikku pelan.

Jambulnya yang kaku menggelitik leherku. “Sampai!!!” Soraknya seoalah-olah tak mendengarku bicara. Kepalanya hampir menghantamku detik itu. Untung tubuhku cukup gemulai untuk menangkisnya. Kepukul langsung kepalanya. Dia terkekeh meluluhkan rasa jengkelku.
Kami keluar dengan selamat. Tepat diturunkan di gerbang Resto XOXO. Bangunannya terkesan tua, dengan desain yang artistic. Neon-neon berwarna kuning kecoklatan terpasang berurutan di atap atapnya. Lucu. Temboknya putih gading ada ukiran simple diujung-ujungnya. Bisa dibayangkan seperti bangunan Belanda. Sangat formal.
Dengan perasaan aneh kami melangkah maju. Mata kami berkeliling melihat nuansa resto itu. Sepi tak ada pengunjung. Tatapan kami bertemu.

“Kita naik bis dengan benar kan?” Tanyanya ragu.
“Mana ku tau. Kau yang tau jalan” Kutunjuk hidung mancungnya. Disambarnya jari telunjukku dengan cepat.“Kata Chanyeol. Resto ini fullcolor. Full color darimana yang ada kita bisa cepat tua disini. Ayo kita masuk”

Terkadang aku tak pernah mengerti sikap autisnya. Umurnya yang lebih tua 2 tahun denganku tertutup sikap childish dan perangai awet mudanya. Sabar.
Kami masuk tanpa permisi tanpa sambutan dari pelayan yang biasanya menawari kami ‘Selamat datang di resto kami, ada menu special untuk pasangan yang sedang kasmaran’ sambil menunjukkan sederetan giginya. Tumben.

“Uwoooohh….” Kedua mulut kami membentuk huruf O lebar. Shock melihat apa yang disebut full color.
“Dreamland!”
“Neverland!”

Secara bersamaan dan lepas kendali kata-kata itu meluncur. Tertata rapi cangkir berukuran jumbo ditempatnya. Dua hingga empat orang bisa masuk didalamnya. Warna warni. Ada etalase berjalan disebuah mini bar didepan cangkir-cangkir itu. Terhidang macam-macam cake dan menu makanan berat. Nuansa anak-anaknya terasa. Stiker-stiker lucu tertempel didinding-dindingnya. Diujung ruangan tampak panggung mini untuk pemusik Resto XOXO. Temanya memang XOXO - Kiss and Hug. Penuh boneka dan penuh cinta. Sayangnya tak ada pengunjung kecuali kami. Ada satu tante-tante dibalik etalase, wajahnya datar seperti orang mati.

Don’t judge the book from the cover” Lugas Luhan.
“Luhan, anyeong!!”

Kubalik tubuhku mendengar sahutan keras diikuti punggung Luhan. Ia berbalik terlalu berlebihan tas ranselnya menabrakku cukup keras “aghk..” Dari wajahnya melukiskan kesenangan yang luar biasa. Iya memahami panggilan itu. Panggilan yang ditunggu-tunggu. Muncul pemuda yang masuk tanpa permisi sama seperti kami. Luhan melompat, menghambur ke sumber suara. Mendatangi pemuda yang membopong sebuah gitar.

“CHANYEOL-a!!!”

Makhluk sejenis dewa berpelukan. Aku mendesah berpura-pura tak merasakan auranya. Keduanya seperti sepasang telettubies Lala dan Po. Luhan menghampiriku kemudian menarikku “Chagiya~~” Seketika kujewer telinganya, dia meringis kesakitan. “Hehe. Park Chanyeol ini Song Hyuki. Song Hyuki ini Park Chanyeol” Kedua tangannya menepuk-nepuk bahu kami bersamaan. Kening Chanyeol mengkerut.

“Gadismu kah?” Mata Chanyeol yang sebesar biji salak menyorotku tajam. Suaranya berat dan parau memanipulasi kontur wajahnya yang kecil dan bulat.
“A..aniya. Kami sahabat baik” Sergahku.
“Semoga kita bisa menjadi sahabat yang baik pula” Timpal Luhan.
“Tapi kalian berdua memakai baju couple sama sama birunya” Chanyeol masih penasaran. Tolong hentikan semua ini batinku. Aku hanya merasa beruntung.
“Kita triple!” Telunjuk Luhan menodong dirinya sendiri, bergerak kearahku kemudian ke sahabatnya itu kemudian kami tertawa lantang. “Ahaaa~~~”

Selanjutnya kami disuguhi dengan menu makanan yang lezat. Pancake, Kentang goreng dan Bubble tea favorit Luhan tersedia disini. Betapa melebihi bayi dia sekarang. Menggodaku dengan sedotan pink, meniup niup poni tebalku saat aku sedang mencoba mengakrabkan diri dengan sosok bayi yang lain. Chanyeol. Bedanya dia lebih tidak autis dalam kondisi tertentu.

“Apa yang membuatmu berteman dengan dia?” Kurampas sedotan pink dari gigitan Luhan tanpa memandangnya. Akhirnya ia mendengarkan kami berbincang.
“Dia teman kecil yang meracuniku tentang dunia. Kemudian kita sempat terpisah waktu SMP karena aku harus pindah dan baru sekarang dengan statusnya yang mahasiswa ini kita dipertemukan lagi. Ah..rasanya….” Membenamkan wajahnya yang lucu kedalam topi putihnya, kemudian membukanya lagi memasang secara paksa ke kepala Luhan.” Rindu”
“Jika rindu maka nyanyikan sebuah lagu. Gitar dan stand mic diujung sana berkoar-koar memanggilmu oppa~oppa” Sambar Luhan dibalik topi rekannya.

Chanyeol mengangguk cepat, mengambil topinya kembali, memakainya dalam keadaan terbalik. Bangkit lalu berjalan dengan cepat ketempat yang dimaksud Luhan sebelumnya. Memeriksa stand mic itu dengan pasti. “Check it” Suaranya yang serak membahana di seluruh Resto. Hanya kami bertiga yang mendengarnya menjadi empat bersama tante-tante datar dibalik etalase.
Tampak wajahnya begitu merindukan teman lamanya. Tatapan penuh perhatian. Kadang-kadang pandangan kita juga bertemu. Dibuka tas panggulnya yang berisi gitar akustik. Sejenak aku tertarik dengan benda coklat yang bisa berdenting itu. Cemerlang dan mengkilat. Sedikit setelan pada gitarnya lalu dipetiknya dengan posisi senyaman mungkin. Duduk dikursi. Mic perlahan Ia turunkan. Petikan pertama mengudara. “Lisen to me. Yes you!” Applouse dari Luhan menderu “Wuhuuu”.
Special for you Don’t Go

Petikan dan suara Chanyeol yang berat begitu sinkron dengan perasaan sendunya sekarang. Aku melihatnya dengan tatapan mengaduh haru. Luhan yang seperti lem, anggapanku cuma aku yang dia miliki, Cuma aku yang berhak merindukannya tapi kini muncul pria ini pria dengan ability yang lebih dari aku yang hanya sekedar penikmat bulliannya, pendengar masalah hatinya kala kacau. I am totally jealous.
Anak ini memang tak bisa diam selalu overacting dan hiperaktif. Dengan ketabahanku, ku biarkan dia berkelana sendiri menghampiri temannya yang sedang mellow itu. Merebut stand micnya. Mengkode sahabatnya untuk menyanyikan lagu yang menyenangkan. Mereka bernyanyi bersama. Menghibur. Tuhan tolong hentikan waktu, aku wanita biasa yang punya perasaan meleleh saat melihat dua pemuda manis manis bermanner seperti itu. Aku hanya membeku.

“Ah, aku harus pergi. Nuna kau pulang sendirian ya?” Celetuknya menggunakan mic sehingga suaranya mengaum.
“Nae? Tapi…Nuna??”
“Aku bisa mengantarnya pulang” Sahut Chanyeol merebut mic dalam genggaman Luhan sambil menunjukkan sederetan giginya yang putih. Luhan sudah beranjak dari sisi Chanyeol. Menerobos keheningan resto dengan ketergesahannya.
“Jam 4 aku harus menemani Ibuku belanja. Mianhae. Chanyeol-a kau masih ingat dimana rumahku kan. Jam 7 aku sudah berada dirumah. Mampir ya kita mengobrol soal apapun disana” Melambai kearah rekannya yang sekarang merapikan gitarnya kembali. “Jaga chagiyaku dengan selamat”
Telingaku geli mendengar kata sayang darinya. Tolong jangan memancing para fansmu untuk membunuhku ditengah jalan nantinya.
*****
“Sudah berapa lama mengenalnya? Tampaknya kalian sudah seperti ini” Kedua jemari Chanyeol bertautan.
“Sejak SMA” Jawabku singkat.
“Aku merasa bersalah ketika aku meninggalkannya begitu saja. Aku kira aku telah kehilangan senyumnya. Dia sulit berteman dengan siapapun” Si telinga lebar itu mendecak ragu. “Aku bahkan heran tiba-tiba dia bilang akan memperkenalkanku pada gadis yang istimewa dan ternyata kau. Apa Luhan sekarang sudah punya kekasih?”
“Dia tipikal orang yang berteman dengan orang yang apa adanya. Dia punya banyak fans disekolah bahkan kampus. Perangainya yang lucu, hiperaktif dan kekanak-kanakan itu yang membuatnya menjadi center. Kami sering terkena isu negatif tapi dia malah membiarkan semuanya berlalu. Dia terlalu nyaman denganku begitu pula aku” Aku mendiskripsikan betapa serunya sahabatku itu. “Saking akrabnya aku dengan oppa. Dia pernah berkata, dia harus melihatku memiliki pasangan dulu baru dia dengan ikhlas melepaskanku lalu mencari kekasih. Aku pikir itu hanya candaannya saja”

Mata kami bertemu, sekilas dia tampak termangu. Sambil membopong gitarnya kami berjalan berdua ditengah senja. Kami memutuskan untuk berjalan sembari menikmati sore meski perjalanan kami dua kali lipat jauhnya. Ada rasa damai ketika sudah terjebak dalam percakapan yang membawamu ketempat lain. Bibir Chanyeol kini tersenyum manis.

“Hal yang sama yang pernah diucapkannya padaku sebelum aku pergi. Kau harus ingat setiap kata kata manis yang ia lontarkan, dibaliknya pasti ada maksud tersembunyi” Tegasnya. “Tapi baguslah dia memilikimu sekarang. Sahabat yang bisa dipercaya. Dia tidak pernah salah pilih sebelumnya. Dia akan sangat cerdas menebak isi hati dan pikiran orang yang baru dia kenal, orang itu berhati buruk atau tidak. Kurasa…” Chanyeol menyipitkan sebelah matanya, mengekerku dengan kamera yang ia buat sendiri dari tautan jari-jarinya. “ Kau sahabat yang apa adanya hehe”
“Sudahlah tak perlu menggodaku” Wajahku semburat kemerahan.

Jika benar ini bukan sekedar keberuntunganku berteman dengan orang-orang seperti mereka maka akan ada cerita dan konflik yang menghadangku nantinya. Bukan sekarang tapi kedepannya.

1 jam berjalan 1 kali beristirahat sekedar membeli juice jeruk. Cukup melelahkan. Bercanda perihal apapun yang bisa ditertawakan. Mengobrol apapun yang bisa diobral. Mulai dari perihal kampus, Luhan hingga keluarga. Chanyeol begitu terbuka akan beberapa hal termasuk soal sekolah musiknya, cita cita sebagai gitaris dan penyanyi handal. Sampai kami lupa waktu “Aku mendukungmu jika kau mewujudkannya. Hya..rumahku kelewatan. Maaf telah membuatmu berjalan sejauh ini. Rumah Luhan sekitar 4 blok dari sini sebaiknya kau pesan taksi”
“Aniya aku terbiasa berjalan” Matanya bias akan sinar cahaya bulan. Tunggu. Astaga memang bulan tepat diatasnya. Aku mendongak mataku silau. Ternyata cahaya lampu. Sebelum mataku terpapar cahaya neon lebih tajam ada bayangan gelap tepat diatasku. Tangan Chanyeol yang lebar melindungi mata lelahku. Ah..pria ini gelagatnya sama saja dengan Luhan. Selesai sudah.

“Ada yang salah?” Ujarnya santai.
“Ya. Mataku tak bisa melihat bulan”
Telapak tangannya dingin dan sedikit kebas. Mungkin sering bermain gitar atau dia adalah sosok orang yang suka bekerja keras.
“Kau melihat bulan yang salah” Tandas si jangkung itu. Diajaknya aku ketengah jalanan sepi. Dibawahnya ada kubangan air. Aku memiringkan kepalaku. Kebingungan. Airnya kebetulan tenang. Mukanya setipe dengan Luhan ketika melihat sesuatu yang menurutnya menarik. Aku mengiyakannya saja karena dia sudah telanjur melompat-lompat ceria. Sambil memegang topinya agar tidak terjatuh dia menyuruhku menunduk. Kuturuti saja perbuatan yang pasti adalah perbuatan mahakonyol.

Pantulan wajah kami tepat dipinggir kubangan. Siluetnya bergoyang-goyang akibat angin yang terhempas tak teratur. Sesekali permukaannya kejatuhan daun dari atas pohon membuat genangannya bergerak. Saat benar-benar tenang ada bintik kecil sebesar bola pingpong  muncul dipermukaan air. Bulan yang kucari. Bukan neon didepan rumah. Aku tertawa geli dia makin sumringah. Apa apaan ini, aku sudah kebal dengan Luhan sekarang disodorkan Luhan Luhan yang lain yang sama romantisnya. Nafasku sesak lama-lama berteman dengan mereka.

Saat aku tersipu sendiri, diam-diam Chanyeol memperhatikanku. Memperhatikan pipi chubbyku yang berdimple, lentiknya bulu mataku, tipisnya bibir merah jambuku. Rambutku yang terurai panjang tertiup angin sepertinya telah menyihirnya masuk kedalam blackhole. Tolong jangan sekarang, jangan secepat itu hatiku belum sepenuhnya bergetar.


TBC…

Maaf dan Terima Kasih

Aku sedang duduk ditaman bermain yang dulu pernah kita mainkan. Kita candakan berdua. Berisi dua buah ayunan, sekotak pasir putih dengan serangkaian ember dan sekop, perusutan yang tampak menakutkan diwaktu kita masih kecil dan sebuah jungkat jungkit yang kini sudah berkarat dimakan usia. Aku menunggumu. Menunggu kehadiranmu untuk pertama kali. Pasti dibalik ini semua ada permulaan cerita kita bukan? Teman lama yang bertemu kembali. Nyatanya tidak, hanya perasaanku saja.

Kita pernah berhubungan bukan sekedar teman bukan juga pacar tapi selingkuhan. Ah..menohok jika disebut selingkuhan. Mungkin teman yang melebihi batas lebih sopan. Hubungan pertemanan kita pernah ditenggelamkan waktu, dibenamkan angan yang mengusik kedalaman persahabatan kita. Sampai pada akhirnya kau menghilang dengan kenyataan bahwa ada perasaan tersembunyi yang kurang kutangkap sinyalnya. Perasaanmu padaku, gelombang gelombang ganas yang mematikan hatimu susah untuk kutangkap. Aku mungkin kurang peka, tapi aku berdarah O. Katanya orang berdarah O itu sensitive tapi aku tidak seperti itu. Aku hanya terlalu asik bercanda tak menggubris kode-kode perhatian yang kau umbar didepan mataku dulu.

Hasilnya adalah ini keterlambatan. Penantian ditaman bermain setelah 2 bulan lebih statusku yang menjadi bual-bualan dan hujatan. Wanita simpanan. Lebih menyenangkan jika jaman diundur dan dikembalikan menjadi aku dan kamu berstatus teman.

30 menit berlalu. Kau datang dengan motor yang tak pernah kuingat sebelumnya. Berperangai biasa-biasa saja, ada rasa hambar dikedua bola matamu. Aku menyapa dan kau membalasnya. Kita bercakap soal angin, cuaca,  cita-cita dan kehidupan. Sulit untuk memulai pembicaraan inti, tapi hatiku sudah tertata sebelumnya. Memang ini rencananya. Rencana untuk berhenti mencintaimu. Menyetop perasaan yang menguar saat kau sudah lelah mempertahankanku lagi lalu pilihannya adalah bersanding dengan kekasihmu.

Alasannya jelas, karena aku merasa terlambat mencintamu. Salahmu juga sebenarnya tak pernah ungkapkan keluh kesah rasa sayangmu dulu yang ngilu. Curangnya lagi kau hanya sendirian memendam sakitnya sedangkan aku bersenang-senang dengan kesenangan yang kugapai dan kupamerkan bahwa aku sering mendapat pacar baru tak mementingkan hancurnya hatimu. Hingga saat itu aku baru paham bahwa aku adalah cinta pertamamu. Kata itu meluncur begitu saja dari bibirmu dari bibir yang kenyataannya sudah memiliki cinta kedua setelahku. Apa-apaan? Dan bodohnya lagi aku dengan akses polos dan congkak mengiyakan segala keputusan ‘mari berselingkuh’ kita.

Mendung tipis ikut menemani, tak sanggup lagi aku berlama-lama takut hujannya turun lebih cepat dari dugaan. Momen yang tepat saat kita hening sejenak. Lalu kumulai alurnya, menyampaikan unek-unek yang menyubal kerongkongan.

“Sudah sampai sini saja bermainnya. Aku lelah” Seperti serudukan keras tepat didadanya tampak dari wajahnya yang pucat. Namun matanya dan helaan nafasnya menunjukkan ia mengerti maksudku.
“Kenapa?”
“Maaf, dulu, saat hatimu untukku masih ada disini” Jari telunjukku menyentuh dadanya perlahan “I hurt you so deeply. Terima kasih, bahkan sampai sekarang, bahkan sampai kau memiliki cinta kedua, kau masih berada disampingku” Ucapku lambat-lambat. “ Aku mencintaimu meski hatiku terlambat merasakannya dan yang terakhir Aku akan merindukanmu karena sekarang aku akan melepasmu”

Lonjakan denyut jantungku membekap seluruh area pernafasan. Sesak sekali. Mungkin aku sering melihat drama jadi sesaknya berhasil kututupi dengan untaian senyum memaksa yang pernah ada. Tapi tetap saja air mata ini susah dibendung karena bukan terbuat dari beton dan besi seperti bendungan sungai.


Tahu aku dengan kegagalan aktingku, dia memelukku dalam diam dalam kesunyian dikala senja. Ah..sakitnya. Lama sekali ia memelukku antara tak tega dan tak ingin meninggalkan. Sendu kunikmati galaunya. Membakar kalbu. Yang ada diingatanku kala itu, aku memukul kepalanya mencoba tertawa ceria, membiarkan segala emosi meranggas tangisku. Meninggalkannya didepan ayunan. Ayunan yang pernah kita perebutkan meski ada dua ayunan sekalipun. Warnanya biru dan merah jambu sekarang berubah menjadi keabu-abuan. Kotak pasir yang membawaku pada tangisan keras karena sepatuku pernah kau tenggelam disana. Memori laknat itu menari-nari dikepingan hatiku yang melebur.

By : Indah

Jumat, 14 Juni 2013

Time Machine Part 7 -- [Happy Ending]

“Sudah jangan galau, boleh mengingat masa lalu tapi masa lalu yang menyenangkan” Nara berusaha mencairkan suasana sendu.
“Wine ini sepertinya membuatku sedikit mabuk. Lanjutkan ceritanya, kita habiskan sampai tengah malam.” Sora menaruh botol wine kosong ditengah tumpukan foto-foto terakhir kemudian menyantap potongan biscuit coklat milik Paran tepat disebelahnya.
“Hyaa…” Raungan Paran tampak tak iklas berbagi biscuit.

Kesenduan berubah menjadi kehangatan kembali. Semua wanita dengan wajah penostalgia ini ternyata masih menjadi pemerhati yang baik. Mulai kisah malu-malu Paran dengan cinta pertamanya, Ninri dengan pemetik gitarnya, Hadiah syal untuk Ji Eun yang tiba-tiba menghilang, cerita setan tampan yang menghentak hati Hyurin hingga cerita mahagalau Sora. Inilah ciri khas wanita dengan segala cuap cuap yang tak pernah habis.
Tak usah dibayangakan berapa lama mereka duduk, berapa banyak mereka memesan makanan dan minuman kemudian berapa kali harus kekamar mandi sekedar untuk pipis dan bermake-up. Yang paling sadis adalah seberapa parah kebisingan yang mereka timbulkan didalam cafe yang tak seberapa besar itu hingga malam, hingga café itu tutup.  Para pelayanpun serasa tak pernah berkomentar ataupun keberatan dengan kedatangan mereka. Intim.

Ada sesuatu yang mengetuk hati Nara saat jemarinya sudah menyentuh sebuah foto yang semestinya menjadi rahasia tersendiri.  Sedikit tersenyum kearah teman-temannya. Rasa penasaran bermunculan di atas kepala para sahabatnya.

“Eum..kali ini aku tidak ingin bernostalgia. Aku ingin me..eum..melakukan pengakuan dosa. Ya sepertinya ini saat yang tepat” Suaranya sedikit memaksakan keceriaannya.
“Apa itu?” Tanya Hyurin dengan wajah ingin tau.

Foto yang ia genggam diputarnya perlahan, kedua alisnya saling bertautan seperti gemas tapi juga takut-takut untuk mengejutkan para Venus yang dikerubungi rasa penasaran. “Mianhae~”
Sebuah foto berformat fotobox Nara dan sosok laki-laki yang awalnya terlihat asing hingga rekan-rekannya memutuskan untuk berdiri dari kursi kemudian berangsur menghambur kedepan, mendorong meja yang penuh dengan makanan. Membuat suara gelas-gelas berdenting dan bergeser. Fix! penglihatan mereka tidak pernah salah, Dongwan dengan rahangnya yang keras tertawa lepas. Selepas itu, yang ada hanya tatapan Ziinging~ dari kawan-kawannya dan yang paling tajam adalah Sora.

“A..a..aku akan menjelaskannya segera” Gugup Nara.
“Selama ini kau menutupi semua ini?” Sahut Ji Eun.
“Bagaimana mungkin disaat kita sibuk bermain api dengan cecunguk cecunguk itu, kau sibuk dengan Dongwan?” Celetuk Ninri.
“Bagaiamana kau bisa menyembunyikan ini semua selama dua tahun?” Pertanyaan menghujam yang lain datang dari Hyurin.
“Ooo..aku tau asal semua foto ini, sekarang” Paran menambahi.
“Ya...ya itu hal yang berbeda” Nara mencari alasan.
“Rasanya berbeda saat kau merasa kasmaran kan?” Sindir Sora membekukan mulut gadis sembrono itu.

Bervariasi pertanyaan dan sindiran menumpas segala kegalauan yang ada diam-diam mereka bercanda dalam aib yang dibangun Nara. Gadis itu memucat kemudian menarik nafas. Memandangi foto kenangan. Tersenyum manis. Kemudian mengawasi satu persatu temannya yang kini sudah kembali di singgasana zona nyamannya masing masing masih menahan rasa curiga dan kekesalan tapi tidak untuk Paran dengan pose imutnya.

“Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan hubunganku dengannya saat itu. Kalian sibuk dengan urusan permusuhan dua kubu sedangkan aku dan dia hanya sebatas saling bertukar informasi” Menjelaskan dengan santai. “Kalian tidak pernah curiga kenapa hanya aku yang tak pernah bertengkar dengan Shinhwa”
Ada rasa mengganjal saat mendengar penjelasan Nara yang sedikit meragukan “Dalam kondisi apa kau bisa jatuh hati padanya? Jelas jelas Dongwan…”
“Dongwan oppa bukan anggota Shinhwa” penekanan dari bibir Nara mematahkan argumen Ninri. Seketika memahami.
“Uuu..dia bahkan masih menyebutnya Oppa” Paran dengan lugunya mengompor keadaan. Kondisi dipenuhi dengan berbagai alasan dan keterangan yang membuat Venus focus dengan argument masing-masing. Ada yang menggerutu ada yang pasrah bahkan mengomel-ngomel sendiri merasa tak adil dan segala ocehan mereka meracau seperti pasar.
“Kan aku sudah bilang mianhae hal itu diluar prediksi. Aku putus dengannya setelah lulus SMA kemudian…”
“Permisi, Café Shinhwa akan tutup 15 menit lagi” Suara tak asing datang memecah suasana tepat ditelinga Nara, Paran, Ninri, Ji Eun dan Hyurin secara bersamaan. Tangan mereka sibuk memeluk  Venus dari belakang kecuali Sora membuat dia mengaduh. Kepalanya hanya menggeleng menanti sumber tangan yang lain memeluknya dari belakang tapi tak kunjung terjulur. Kepalanya mendongak.
“Apa? Kau mau dipeluk dari belakang?” Eric menyambar dengan kejam disebelah Sora yang berharap. Wajah Sora memerah.
“Kau ini suami macam apa, antar aku pulang sekarang” Desah Sora jengkel.
“Sudah selesai bermain-main dengan masa lalu?”
“Ya”

Senyum Eric mengembang. Tubuhnya yang tinggi tertunduk sekarang. Menatap mata Sora lekat-lekat. Tangannya terjulur disela-sela kakinya. High heels pink yang ia kenakan dilepasnya perlahan. Sora hanya termenung melihat tingkah aneh suaminya itu. Sekarang Eric memutar tubuhnya, menunjukkan bagian punggungnya yang luas. Dia berdecak “Ayo naik”

“Cieeee……” Semua menghuru-hara <~ (ini apa ya allah T.T Eric so sweet…*daaash!!*)

Mereka dengan segala kebodohan yang pernah dilakukan semasa SMA. Pelayan yang diam diam memperhatikan pembicaraan mereka, pelayan dengan celemek putih yang berlalu lalang seolah mengacuhkan para wanita dengan karakter yang berbeda. Kisah ke-fate-an mereka yang absurd hingga menjadi ini. Menjadi Café Shinhwa dengan owner suami-suami Venus sekarang. Kisah-kisah nostalgia tampak seperti kenangan terpendam namun dimasa depan adalah sebuah jawaban yang indah bagi Venus dan Shinhwa.
“Siapa yang tertinggal dibelakang, pasangan itu harus mengunci pintu Café. Siap?” Seru Eric.
Semua dengan permainan konyol mereka diakhir malam. Shinhwa dengan posisi membopong istri-istrinya di punggung. Berbaris sejajar. Konyol.

“START!!!” Aba-aba meluncur dari bibir Junjin. Menghempaslah mereka. Berlari kencang dengan kebahagiaan masa sekarang.

Hanya pasangan Dongwan dan Nara yang berpura-pura. Berpura-pura bermain. Menatap ke lima pasangan berlari kencang. Saling menjatuhkan sama lain. Menerobos pintu kemudian terjatuh bersamaan. Tertawa lantang. Hanya mereka berdua yang tertinggal. Saling melihat satu sama lain kemudian keduanya tertuju pada meja bundar yang masih tetap diam dengan segerumun sampah dan tak lupa potongan foto-foto sisa yang tertelungkup disitu. Apa yang ada dibaliknya?

Dibaliknya semua foto itu satu persatu. Pesta pernikahan Venus dan Shinhwa. Ji Eun dengan balutan wedding dress putih menggandeng Minwoo yang bergeming malu-malu. Paran dan Andy dengan pose bbuing bbuing mereka tertangkap candid camera memakai pakaian khas tradisional Korea. Ninri menyampirkan tangan kanannya dileher Junjin yang sedang asik memegang gitar. Hyurin dengan gayanya yang khas anak rajin. Memegang buku sebagai pengganti buket bunganya bersama Hyesung disebuah perpustakaan kota.

Sora dengan pose yang paling manis bersanding dengan Eric disebuah taman bermain. Yang terakhir adalah Dongwan menggendong Nara sambil memegang kamera kesayangannya dibawah pohon rindang. Foto mereka tampak biasa yang membuatnya tampak indah dan manis adalah balutan gaun-gaun putih bernuansa cream dan orange ditambah Tuxedo kehitaman milik mempelai pria yang begitu anggun, yang mereka desain sendiri untuk foto prawed dan pesta pernikahan mereka. Nara menata satu persatu foto itu. Membungkusnya dengan rapi dalam sekantong amplop coklat. Jangan sampai ini hilang….ungkapnya dalam hati.

“Takdir mereka berakhir sampai sini ya?” Dongwan angkat bicara.
“Hehe iya. Ketika takdir mereka dipertemukan oleh sebuah pick gitar, syal bahkan cerita galau masa lalu lantas apa yang mempersatukan kita?” Tanya Nara dalam keheningan.
Sambil menengok ke arah gerombolan huru hara diluar Café. Mata Dongwan menerawang jauh kedepan. Melambai pada orang-orang yang kini memberi isyarat untuk segera mengunci Café.
“Kamera? Kurasa tidak. Tapi Kisah mereka, pengalaman mereka yang telah mempertemukan kita. Tanpa sadar kita selalu ada disisi mereka, dalam kondisi senang sedih sekalipun. Kita selalu ada disisi mereka” Senyum Dongwan.
THE END


 Author Writing Message :
Semoga tidak mengecewakan :)
Saya sudah melambaikan tangan wkwkwk
Semoga persahabatan kita kayak dicerita ini dan bertemu jodoh sengganteng mereka amin :p

Kamis, 13 Juni 2013

Time Machine Part 6 -- [Blue Feeling]

“Perjalanan nostalgia kita akan berakhir sebentar lagi, tinggal dua orang sebagai cerita penutupan” Ninri mengayun-ayunkan kepalanya ceria. Yang lain hanya bertepuk-tepuk sambil menatap ekspresi kosong Sora.

Tak pernah tau rasanya waktu diputar dan berputar. Seolah hanya cahaya yang mempermainkan kedua mata. Dari cahaya kekuningan, putih transparan lantas menjadi senja. Begitu yang dirasakan lalu lalang orang dan pelayan didalam café. Orang datang membeli sesuatu kemudian berlalu, entah berapa pengunjung datang dan pergi namun cuma satu meja itu saja, satu meja dengan segala cerita, imajinasi dan canda yang tak pernah pergi. Dan sekarang datanglah sang malam. Pengunjung mulai habis.

“Hm?” Sora tertegun kemudian tersadar “Oh..sekarang giliranku. Entah kenapa ada nuansa aneh disekelilingku. Mungkin waktu sudah mulai malam” Cengirnya.

Lima foto sudah hilang dari atas meja, dengan sedikit waspada wanita berkulit langsat itu mulai berdeham kemudian mengambil salah satu dari yang paling bawah dan paling terselip. Memperlihatkannya terlebih dahulu kepada keenam rekannya.

“Owhh…..”
Tak satu orang pun berkomentar panjang. Ia penasaran lalu melihatnya sendiri. Wajahnya melukiskan sesuatu yang absurd, entah karena sedih atau malah bahagia. Satu kondisi dimana Sora mendapat ‘blue feeling’, marah sejadi-jadinya dan air mata tumpah.

“Hya, kau yang mengambil foto ini” Menunjuk Nara dengan gayanya yang khas preman membuat gadis mungil itu tersenyum geli.

Sedikit bingung untuk memulai ceritanya, matanya mulai berputar melihat suasana temaram. Menghela nafas sejenak. Menaikkan poninya. Berpura-pura menghitung para pelayan yang tanpa interaksi. Bola matanya tertuju pada salah satu pelayan dengan tubuh tegap berhidung paling mancung diantara yang lain, sekan menarik perhatiannya, menyunggingkan senyum kepada pelayan yang tak menatapnya. Seperti menarik saja bagi Sora ketika melihat pelayan itu disibukkan dengan botol-botol wine didepannya.

Rekannya mulai mengantisipasi gerakan Sora yang tiba-tiba berdiri dari kursinya. Berjalan kearah pelayan dibalik meja bar. Membiarkan mereka bercakap satu menit, pria itu mengangguk, menaikkan kedua alis tebalnya lalu menggeleng perlahan. Memikirkan sesuatu. Sora memainkan rambut berkembangnya, memutar gelas-gelas kaca tepat didepannya. Sedikit menggoda. Diakhiri dengan kata sepakat. Tapi begitulah Sora dengan ciri adaptasi dan persuasi yang baik. Tak lama tangan kanannya kembali bersama sebotol wine. Sora si biang modus.

*****
“Emm..mianhae” Suaranya berdengung ditelinga sosok tegar, Sora. Bibirnya menciut, tas Puma kesayangan yang Ia jinjing dihempaskan begitu saja di tengah lorong. Botol minumnya keluar dari sisinya.
“Wae? Kenapa kau harus kembali?” Ada rasa penasaran dalam diri Sora. Pria dengan balutan seragam dengan warna berbeda itu mulai melangkah mundur. Bergegas mengambil ancang-ancang terkena hujatan dari gadisnya.
“Aku menyesal meninggalkan dan menyakitimu yang dulu sangat tulus… “
“Arraseo..” Sora bergegas memotong pembicaraan dengan angkuhnya. Matanya menatap sendu mata Key yang mulai kebingungan mencari alasan. Ia sudah tegar menghadapi hal macam ini, hal-hal menyakitkan yang pernah ia tempuh seperti bergonta ganti pasangan, menyakiti seenaknya tapi ia melakukannya karena hal ini. Karena alasan masa lalu yang membuatnya menjadi liar. Membeku dan menghancur seperti abu. Hatinya. Seperti tinjuan keras di ulu hatinya.

Diwaktu itu juga, mereka tidak hanya berdua tapi bertiga. Istilah tembokpun bisa mendengar telah terjadi diposisi Eric. Seperti adegan –adegan difilm romantis, ketika orang yang menarik perhatianmu sedang berdiri membelakangi pintu dan kau dibaliknya. Entah sejak kapan si rapper itu berada disitu, yang jelas sekarang dia hanya memandangi cermin-cermin yang memantulkan dirinya dengan mata kosong sambil menguping pembicaraan mereka.

“Kau tau, aku mengalami perubahan setelah pengkhianatan yang kau lakukan. Masaku sekarang bukan lagi gadis baik-baik dan lugu dengan segala kelembutan yang kupunya. Hampir tiga tahun aku memperlakukan laki-laki seperti anjing pesuruh” Pancaran matanya penuh rasa sakit. “Bagaimana caraku membangun itu semua? Kau tau? Dengan membencimu aku menjadi kuat, dengan tidak lagi mencintaimu aku menjadi menang dan dengan tidak memaafkanmu aku menjadi seperti sekarang. Kim Sora!”

Seperti dihujam pedang, segala maaf dan kegentle-an Key menjadi ampas. Sora layaknya mayat berhenti bernafas, berusaha menahan air mata. Sesak. Laki-laki didepannya adalah laki-laki pertama yang mengenalkan dia tentang cinta dan pengkhianatan. Pria pertama yang menjadi kekasihnya, yang paling ia sayang, kesedihan yang ia rasakan seakan melayang, kesenangan yang menjelma menjadi kayangan saat bersama Key.

Ketegangan yang mereka alami dirasakan juga oleh Eric. Dari yang hanya sekedar duduk hingga tubuhnya yang sekarang hampir terhentak. Meresapi setiap kata yang dihunuskan Sora kepada Key. Dia kehabisan kata.
“Sekarang, apa pembelaanmu?” Sinis gadis itu.
“K..kau sudah berubah. Kemana Kim Sora dengan senyum lebarnya? Perilaku childish yang suka mencari perhatian? Pelukan hangat yang sering aku dapatkan, mimpi yang sering ia ungkapkan”
She is gone. Get lost with her amazing dream. Apa yang kita bangun dulu adalah bualan belaka sekarang. Semuanya tampak seperti debu bagiku. Dan kau hanya halangan kecil yang akan hilang terbawa angin” Senyuman menghina perlahan ia sematkan. “Mianhae, Key oppa…”

Wajah Sora yang tajam perlahan mencair dengan segala kepura-puraan akan perasaan yang masih tersisa. Rasanya ingin memaafkan dan menerimanya kembali. Namun perasaan tersayatnya masih tak ingin berhenti. Masih meronta ingin disembuhkan dengan kejahatan manis sebagai playgirl untuk saat ini. Ada amarah yang benar-benar ingin ia hamburkan keluar, hampir tak tahan dan bengah dengan segala yang menyangkut hati.
Segera ia meraup tas dan botol minumnya. Merampas segala kemarahan dan kesedihannya sementara. Tubuhnya berbalik meninggalkan Key yang memucat. Pintu menjebam didepan wajahnya yang tampan.

“Hya!! Apa yang kau lakukan disini?!” Sontak Sora terlonjak, melihat Eric yang juga terbelalak dengan topi Wolf dibibirnya. Congkak.
“A..aku se..sedang dance practice” Terbata-bata. Gelagatnya mulai konyol setengah ketakutan saat atmosfir berubah menjadi membeku. Mata Sora tak bisa lagi diajak bercanda “Mianhae” Tambah Eric.

Keheningan membuat studio makin aneh. Seakan tanda untuk Eric membuka pembicaraan. Kini Sora mulai menaruh barang-barangnya diujung ruang, menyiapkan dance practicenya sendiri. Memilih-milih kaset yang akan ia putar. Mencoba menyembunyikan perasaannya yang gundah dalam kebisuan.

“Uhm..ehem. Hei bicaralah seperti orang bodoh saja tidak mau bicara. Jika ada masalah bicaralah”
Kepala Sora menegok sekelas kearah Eric. Ada yang semakin membakar emosinya. Diredamnya perlahan. Untuk saat ini membiarkan Sora sendirian adalah hal yang terbaik namun pria nakal itu tak kunjung menghentikan keisengannya. Tak bermaksud memperburuk keadaan hanya saja percakapan kecil mungkin membantu.
“Hei..Sora-ya! Jika diajak orang bicara sopanlah sedikit hargai..isk dasar wanita”

Eric lepas bicara. Sora mendongak kali ini. Kekesalannya membuncah. Menatap wajahnya lekat-lekat, mengerjab lalu mendesah kasar. Langkah kakinya menguat selangkah demi selangkah, mendekati Eric. Didepan matanya yang ada hanya samsak, setiap laki-laki hanyalah samsak. Tangannya mulai menggenggam erat ujung kaosnya, melepasnya kuat-kuat. Dibuangnya ke lantai. Bibir Eric menganga, memerah melihat musuhnya hanya memakai potongan tanktop dan celana pendek. Jadi seperti ini Sora saat latihan. Mata Sora memerah.

“Apa yang kau lihat? Apa yang kau mau dariku? Kenapa kau dilahirkan? Kenapa kita selalu dipertemukan pada saat yang tidak tepat? Bagaimana kau dengan mudahnya menjahili kehidupanku? HAH?? Kenapa kau yang muncul? KENAPA?!!”

Kemarahan itu membuat Eric melemah, baru pertama ia bertemu dengan wanita kasar sekaligus kuat dalam memendam emosinya, dalam bersandiwara, menciptakan scenario untuk panggung hatinya. Luruh sudah jantungnya, merasakan perasaan simpati yang dalam. Tak bermaksud membunuh perasaannya perlahan. Dia tau segala yang membuat Sora seperti ini. Karena pengkhianatan dari orang yang pernah ia cintai dengan tulus.

“Aku membenci, membenci setiap lekuk tubuh laki-laki pengkhianat sepertimu, Laki-laki yang sering bermulut manis, pengecut. Laki-laki yang setiap saat menyibukkan hari-harinya menjahiliku….” Bibir Sora mulai bergetar. Tak ingin mengakui air ini adalah setetes air matanya. Air mata bukan untuk keisengan Eric tapi untuk kekesalan yang lain. Perasaan menolak untuk menerima kembali masa lalunya. Ia masih mengoceh, mengeluarkan segala unek-unek dihatinya. “Laki-laki bernama ERIC MUN bahkan antek-anteknya sekalipun……” Eric terhempas sesaat. Sora kehabisan nafasnya.

Apa yang perlu dilakukan Eric sekarang? Semarah apapun wanita, pelukan adalah cara terbaik yang harus dilakukan.

“Biasanya wanita itu akan menangis sangat kencang, tapi mengapa cuma kau wanita yang menangis hanya setetes. Aneh.” Eric memelukknya erat. Suara paraunya memecah kemarahan. Sora menikmati pelukan itu sebagai sebuah kebodohan.

Sepinya semakin terasa ketika mereka berdua sama-sama termenung, memahami satu sama lain dalam dekapan mencekam yang pernah mereka lakukan. Eric dengan segala rasa bersalahnya , Sora dengan segala hatinya yang sesak.

Pintu studio tiba-tiba terbuka, sosok Nara muncul, masih dengan kameranya yang selalu menggantung dilehernya. Memanggil Sora dengan suaranya yang tinggi. “Soraaaa…..ya~” kemudian nadanya merendah saat melihat adegan yang tak biasa antara dua orang berperangai keras itu. Snap! Lensanya cepat-cepat beradu. Sebelum rekannya menjerit membodohkannya secepat kilat Nara pergi.
“Nara-ya! Kembali kau…!!!”
*****
“Apa yang kau rasakan setelahnya? Kau menyukai Eric kah setelah itu?” pertanyaan godaan mulai muncul dari kepolosan Hyurin sebagai ajang balas dendam.
“Hehe..berakhir dengan personality talentnnya yang waktu itu makin membuatku antara muak dan lumayan mencairkan susana” Sora meletakkan botol winenya yang tinggal setengah. Hampir habis ia tenggak sendirian.
“Jangan bilang dia melakukan performent rap distudio?” Tebak Ji Eun dengan perasaan kaget, tak berusaha melerai sahabatnya yang sedikit mabuk.
“Haha. Jjang!”
*****
Saneun geot Manheun geoseul da pogihae ganeun geot…….. Bokgu halsu eomneun hyujitngeul biwo. Miro Wiro Nal geonjyeojugil gido

Lagu yang ia nyanyikan berhenti dengan pose wajah meyakinkan dan paling keren untuk menghibur Sora yang bad mood. Tapi tetap saja tidak mengubah suasana pertengkaran menjadi persahabatan anatara dua kubu. Yang ada semua barang Eric; tas dan jaketnya diberikan begitu saja.

“Out! Kau bukan dancer jadi pergilah. Cukup sehari ini aku berbaik hati selebihnya jangan harap” datar Sora.
“Hash..baru pertama kali juga aku melihat wanita yang sangat sombong dan tak tau berterima kasih setelelah mendapat pelukan” sekilas Eric mendecak untuk menggoda Sora yang sekarang muncul semburat kemerahan di pipinya yang pucat.
“Pelukanmu itu untuk gadis gadis yang tidak punya akal sehat” Mata Sora mulai melotot dan mengepalkan tinjunya. Eric keluar dengan tampang paling manyun yang pernah ia lihat.
Holding your heart, Sora….berfikirlah kau  masih punya akal sehat.
*****

  

Kamis, 06 Juni 2013

Time Machine [Part 5] -- Labyrinth Shock

Terkadang cinta sejatimu itu tinggal sejengkal, berjarak 1 meter dari pandangan tapi kita tak mampu menangkap dengan mata telanjang.

Mata Hyurin menatap kosong perkata didepannya. Membaca kalimat terakhir dari novel yang ia genggam. Rasa kantuk menyerang, sudah dua jam ia mengganggurkan diri diperpus. Mengeluarkan pikiran jenuh soal kematangan konsep open house untuk besok. Perihal pameran Paper craft.

“Seharian ini tidak bertemu para Venus, pasti sibuk dengan urusan masing-masing padahal sudah siang begini. Ah membosankan” cibir gadis itu ditengah kesendirian.

Nuansa perpus memang enak untuk tidur. Sunyi. Kelembaban dari buku-buku tua hingga terbaru bercampur jadi satu. Lelah membaca, diletakkannya buku merah jambu itu, diliriknya untaian kata ‘FATE’ disampul depan novelnya. Sambil mengerang ia berdiri lalu melenggang pergi. Berharap acara besok lancar.

 “HYAA!! Kenapa acara kita sampai jam empat sore? Bukannya sudah sepakat sampai penutupan! Mau mati ya?” Sora sudah mengacung-acungkan tangannya ke arah Hyesung, merampas kera bajunya. “..Sudah setengah mati kami bekerja, kenapa kelas dance yang harus dipotong jam pertunjukannya? ”.
“Tu..tunggu sebentar…” Berusaha melepas tangan ganas Sora. “I..itu karena kelas kontemporer ingin menggunakan sebagian taman” Bibir tipis ketua OSIS terkatup-katup.

Sorot mata Sora seketika menajam lantaran mendengar kata kelas kontemporer. “Ini pasti kerjaan si kunyuk Eric. Bilang padanya pertunjukan labirinku tidak diperuntukkan untuk kelas kon-tem-po-rer dan tidak untuk didatangi oleh Erric-Mun, Lee Minnn-woo, Park Junnn-jin” penekanan kata yang sangat faseh dan jelas. “.... Satu hal pertunjukanku dimulai jam dua tepat dan berakhir pukul 8 malam titik” kemudian gadis temper itu pergi.

Jantung Hyesung melorot begitu saja. Hembusan nafas panjangnya pertanda buruk. Bibir tipisnya manyun. Suara seru-seruan datang dari arah belakang. Tampang Hyesung mulai bergidik. Yang disebut-sebut muncul beriringan dari belakang. Siap menerkam kegagalan pemuda berponi klemis ini. Tiga pemuda penuh taktik mulai mengerumuni Hyesung. Salah satu tangan memberatkan pundaknya. Berdecak nyaring.

“Ckck…kau ketua OSIS seharusnya sikapmu harus lebih jantan” Ujar Junjin.
“Aku sudah berusaha. Sebenarnya mau kalian apa? Menggagalkan pertunjukan akan dikenakan sanksi keras” Bantahnya. Genggaman Junjin makin erat. Minwoo yang sibuk mengulum lolipop maju selangkah, matanya melotot kearah Hyesung. Sebelum terjadi hal mengerikan, Pemuda yang menjadi bosnya menengahi.
“Sudah, sudah kita lanjutkan plan B”.
“Eric, kau sudah keseringan mencari gara-gara bersama antek-antekmu. Sebenarnya ada masalah apa kau dengan kelompok Sora?”.
“Tidak ada. Kami hanya mencari kesibukan. Kami hanya penasaran apa yang ada didalam labirin”.
“Sungguh kekanak-kanakan. Atau jangan-jangan niatmu adalah untuk merebut pengunjung kan? Apa lagi kelas kon-tem-po-rer memilih jam malam yang hanya sejam dan itu untuk penutupan. Mereka juga tidak mengizinkan kalian-kalian ini masuk kepertunjukannya ah kasian sekali” Sindiran Hyesung membuat Eric naik darah. “Hyaaa!!”.

Sebelum adegan perampasan kera Hyesung terjadi dua kali. Mendadak Minwoo memberi isyarat untuk menghentikan ini semua. Segera sembunyi dan diam. Mereka berempat lenyap dibalik tembok kelas. Memperhatikan Paran dan Hyurin yang lewat begitu saja, ekspresinya terkesan serius.

“Sora, butuh bantuan. Akan ada simulasi untuk sesi malam hari. Labirinnya akan dijadikan seperti film Step Up Revolution” Suara nyaring Paran membuat empat orang yang sedang bersembunyi hanya melirik waspada dan makin dilanda penasaran. Sekejab Hyesung mengerang, dasinya yang rapi berubah menjadi tali anjing bagi Eric. Ia menariknya, “A..anii~~…..ash jinjja”.
“Kau dengarkan apa yang lewat barusan. Jadi kau harus masuk kedalamnya dan cari tau apa isi labirin itu. Kalau perlu kau ambil satu barang yang bisa membuat Sora frustasi”.
Hyesung menelan ludahnya perlahan.

Senja semakin dekat pertanda kegelapan tiba. Jari-jari Sora berderak tak karuan. Sedikit-sedikit mengetuk-ngetuk besi balkon kelas di lantai dua. Sambil lalu dia berteriak kearah benda kotak hitam digenggamannya. Ketua pertunjukan kelas dance ini memang sedang frustasi lantaran taman labirin ada sedikit perubahan konsep. Labirin bertema couple sejak siang hari menjadi favorit anak-anak SMP. Acara puncaknya dimalam hari. Bzzztt…bzzt…..

“Hyurin-a kau mendengarkanku bukan? Simulasi akan dilakukan satu menit lagi. Suruh semua crew bersiap” menatap taman labirinnya lekat-lekat dari lantai 2. “Jika ada kesalahan, akan ada evaluasi ditempat. Ceritakan apa yang kau lihat selama didalam labirin. Aku mengawasi dari lantai 2 laboratorium” perjelasnya.
“Ne..Arraseo”.
“Gomawo”.

Persiapan simulasi tinggal beberapa detik begitu pula dengan rencana licik dari anak-anak pengangguran karena event yang dibangun merupakan event yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun. Kelas desain yang terkenal akan acara fashion shownya, Kelas musik dan kontemporer selalu ditempatkan pada urutan terakhir di acara penutupan open house. Monoton. Persiapan mereka tak terlalu berbelit-belit justru persiapan mengacaunya yang diutamakan. Sekarang menggandeng Dongwan sebagai kambing hitam lainnya setelah Hyesung. Akal bulus Eric, Minwoo dan Junjin tak pernah lelah untuk berhenti.

“Sekarang tugas kalian..” Mengacung-acungkan walkie-talkie.“Masuk dan ceritakan apa saja yang ada didalam. Jangan lupa potret semua kejadian yang ada juga” Eric menjelaskan dengan wajah kekanakkanakan.
“Tanpa senter?” Hyesung berusaha bernego. Karena tak sabar kaki Junjin tak segan untuk menyepak pantat pemuda penakut itu. Mendorong mereka berdua dengan paksa melalui pintu keluar labirin yang saat itu luput dari pengawasan.

Cuaca makin redup cahayanya, yang terlihat hanya lampu-lampu hias yang menyala dibeberapa spot didalam labirin. Start. Simulasi dimulai. Hyurin masuk dengan perasaan nervous begitu pula Hyesung dan Dongwan yang merasa terpaksa hanya bisa mengggerutu dan was-was. Musik mengalun diawali nada rendah. Serba romantis. Lorong-lorong bercorak hijau asli semak-semak membentuk tembok-tembok berstruktur keras. Sora sibuk mengamati pos-pos yang sudah disiapkan untuk permainan.



“Hyurin-a..bayangkan kau masuk kedalam labirin bersama pasanganmu…”
“Tapi aku tidak bersama pasanganku” Gadis penakut itu merengek.
“Kan sudah kubilang bayangkan saja. Ada 3 pos yang harus kau kunjungi. Setiap pos ada benda-benda couple yang sebenarnya harus kau ambil tapi karena ini simulasi jadi lewati saja” Tegas Sora. ”Sebagai bukti kau sudah melewatinya nyalakan saja benda itu aku akan melihatnya dari atas sini”.
“Oke” .

Percakapan berakhir dengan bunyi Biip. Perjalanan kembali berlanjut, peristiwa mulai terjadi. Tiap lorong yang dia lewati awalnya diam, ternyata ada beberapa dancer yang memang menunggu pengunjung. Bergerak-gerak menyamar sebagai rerumputan kemudian menari-nari dihadapan Hyurin. Tak lama kembali lagi menjadi rumput, diam seperti patung. Wajah Hyurin kaget lalu tersenyum. Kejutan-kejutan manis memang untuk yang sedang kasmaran. Ah..menyebalkan.

Pos pertama berhasil Hyurin lewati dengan santai. Lumayan tersesat pada pos kedua. Boneka monyet bertahtakan mahkota mulai bersinar disusul lightstik berwarna pink 10 menit kemudian. Dari atas balkon kepala Sora mulai mengangguk-angguk.

“Sora-ya, Labirinmu so sweet sekali benar-benar untuk yang COUPLE” Menekankan kata couple.
“Hhahaha….i know”.

Sementara itu, Hyesung dan Dongwan sibuk menyelinap lalu terkaget-kaget sendiri ketika berhadapan dengan semak-semak dan beberapa properti yang bergoyang kemudian berdansa dengan sendirinya. Gerakan penari yang luwes dengan lampu-lampu lucu yang menghiasi kostum mereka. Kelap kelip seperti bintang pada riasan make up mereka. Mengaburkan seluruh gelapnya labirin. Setiap sudut ruang yang buntu diisi dengan hal-hal yang bercahaya. Panggung sederhana untuk boneka-boneka yang bergerak dengan sendirinya. Tari-tarian yang berbeda disetiap semak belukar yang mengejutkan. Menerobos dari satu gang ke gang lain. Ada yang melompat-lompat. Siluet beribu-ribu warna abstrak. Tulisan graffiti dari laser khusus. Ditambah bermacam-macam musik pelan dan keras. Meriah.

“Ini tempat apa?” leher Hyesung bergidik.
“Inilah seni yang sebenarnya. Lihat, ini untuk yang sedang berpasangan” Dongwan terkesima melihat hasil karya kelas dance. Alih-alih mengagumi, tangannya juga gatal untuk memotret.
“Huwooo…benar-benar untuk yang berpasangan tapi..”
Kedua mata mereka bertemu, “Hiyyyy..!! Andwae…!!” Teriak mereka berdua.
“Jangan berfikiran macam-macam!” Raung Dongwan.
“Bb…babo-ya!” Pipi gemuk Hyesung memerah.
Sejenak dalam keheningan, Hyurin mendengar desahan berisik yang tak wajar. Bzzztt….zzzt
 “Sora-ya, aku mendengar ada yang aneh, suara berisik. Apa itu termasuk kejutan lain?”
“Berisik seperti apa?” Mengamati.
“Teriakan. Suara kucing mungkin. Disini terlalu gelap. Mungkin kau harus menambah lampu”
Mata sang ketua mulai menyapu sudut-sudut labirinnya, ada beberapa lampu dari dancernya yang menyamar menyala, “Aku melihat sesuatu di bagian belakang. Tidak semua crew mengerti bahwa satu orang yang masuk untuk simulasi. Mungkin mereka melakukan simulasi sendiri. Abaikan saja”
*****
Dua orang pengacau hampir sampai ditengah-tengah labirin. Mulai menikmati perjalanan. Melihat-lihat pertunjukan secara curang. Para crew didalam labirin juga tak terlalu memikirkan siapa yang masuk. Perintah yang didengar adalah lakukan simulasi seolah-olah ada pengunjung. Check lampu dan aksesoris malam dengan baik agar tidak terjadi kesalahan. Tak salah jika mereka tidak tau ada penyusup seperti Dongwan dan Hyesung. Karena point penting disini adalah seni Light Dance. Tatanan taman yang biasa dan tak beraturan disulap menjadi labirin untuk sehari. Bzztt..zzzt…

“Check..check Tarzan menghubungi Yuric! Tarzan menghub…” Percakapan absurd mulai terjadi.
“Wei?!” suara lantang dari Eric mengejutkan Hyesung.
“Lapor, didalam labirin sangat indah. Konsepnya adaptasi dari film Step Up. Daebak!! Bersiap lah untuk kalah…”
“Hyaa!!! Jangan banyak bicara!!”
“Aku melihat sesuatu, itu seperti Hyurin. Kami berdua berada disemak-semak love lampion
“Apa maksudmu dengan love lampion, hah?” Eric tak sabar.
Kemudian suara berisik mengusik telinga Eric. Biip… Mati. Dua pemuda tadi berlari tak tentu arah. Bersembunyi.
“Dongwan-a sepertinya… ” tengok Hyesung “Hyaa..Jinjja! Dongwan-a dimana kau? Aiish…” mimiknya memucat setelah tau Dongwan tak ada disampingnya. Sementara Hyurin berjalan kearah tempat ia bersembunyi sendirian. Dibalik meja lampion. Unlucky Hyesung.

Seketika itu juga pemuda yang gugup antara takut ketahuan dan mengagumi dua lampion yang menyala-nyala berbentuk cinta itu hanya membungkam mulutnya erat-erat. Mendengar apa yang sedang terjadi.

“Soraya, kurasa aku sudah menemukan pos ketiga. Lampion yang cantik” mendongak kearah Sora yang jelas-jelas tak terlihat dari bawah sambil bicara pada walkie-talkienya. Melambaikan tangannya girang tak berarah. Bzztt…
“Aku akan menang dengan ini semua” Senyuman kecil menghiasi bibir Sora puas.
“Andai saja aku bisa masuk kemari dengan seseorang yang aku suka. Aku pasti akan bahagia”
Hyesung masih sibuk menyimak percakapan dalam diam. Terkadang tersenyum malu kemudian kembali ditutup lagi mulutnya itu. Baru pertama ia menguping pembicaraan wanita. Ada rasa penasaran dengan gadis ini. Dasar wanita…
“Bagaimana kau bisa memikirkan ini semua?” tambahnya
“Aku dan teman-teman memang suka mengkhayal dan bermitos yang tidak-tidak” Tawa keras menghujam telinga Hyurin.
“Maksudnya?” Alisnya mengkerut.
“Emm..jadi mitosnya…..”.
Jleb…belum sempat meneruskan pembicaraan tiba-tiba senyum Sora kembali menciut kala kedua lampion cinta itu meredup. Ditengah labirin benar-benar gelap gulita. Aku benci kegelapan teriak Hyesung dari dalam hati. Hyesung sudah merasa kakinya kesemutan pula.
“Hyaaa! Eonnie, apa ini bagian dari pertunjukan?” Hyurin kembali merengek.
“Tenanglah. Kau harus menyalakan saklarnya. Lampion itu lampion bekas nenekku jadi maklumlah sudah tua” Sora menahan tawanya berusaha berwibawa.
“Aiish..Jinjja”.

5 menit pertama, tangan gadis itu berusaha untuk meraba-raba sekeliling lampion sembari mulut yang tak henti-hentinya menggerutu. Makin dekat dengan pemuda yang sedang menahan kakinya yang kesemutan. 10 menit berlalu, Kaki kramnya tak bisa ditahan, berdirilah dia dalam gelap masih tak bersuara dengan wajah pucat menggigiti bibir bagian bawahnya. Aku tak ingin dikeluarkan dari sekolah hanya karena ini semua, Aku tak ingin kena pukul karena dianggap stalker, Dongwan sialan begitu juga dengan Eric, Minwoo dan Junjin, pikiran Hyesung mulai meliar, tubuhnya bergetar. Bersamaan dengan itu tombol saklar ditemukan. Cklak..cklak. Lampion berpijar lebih cerah lebih pink sedikit keemasan dari yang pertama. Hyesung terhenyak.

Keceriaan Hyurin meledak “DAE…..”
“…Bak…” kemudian meluncur seketika ketika dihadapannya muncul sosok laki-laki yang samar ia kenal. Cahaya yang masih remang-remang meski lampion berpijar terang benerang mambawa nuansa mistis untuk sekarang. Keduanya sama-sama mematung. Saling menatap mata masing-masing. Tak ada gerakan tak ada interkasi. Ada rasa ‘aku mengenalnya tapi entah dimana’. Walkie-talkie tergeletak ditanah. Sial bagi Hyesung, kejutan juga bagi Hyurin.
“SETAAAAAAANNN!!!!!” Lonjakan Hyurin membuat Hyesung shock.
“MIANHAE!” Ia meminta maaf kepada orang yang telah lari terbirit-birit.
*****
Tak terima ledakan lagi mungkin sekarang café Shinhwa kembali gempa ketika para venus menertawakan hal-hal yang menyangkut masa lalu mereka. Pengunjung melihat mereka dengan pandangan yang bermacam-macam; aneh, berisik, ikut tertawa hingga memalukan.

“Apa yang terjadi setelahnya?” tanya Paran antusias.
“Kau taulah, apa yang membuat kelas kontemporer didiskualifikasi? Kelas musik kehilangan nilai? begitu juga kelasku itu semua perkara kestalkeran” sengit Jie Eun. “ Mahabodohnya mereka” Kemudian tertawa.
“Jadi apa mitos sebenarnya yang ingin kau ceritakan padaku waktu itu?” Menyeruput gelas kopi untuk yang kesekian kali. Sora menerawang jauh, berusaha mengingat dengan menatap satu persatu mata sahabat-sahabatnya yang masih nyaman dengan kursi kayunya.
“Kata nenekku, jika lampion itu tiba-tiba mati kemudian kau menyalakannya lagi dan saat cahaya itu menyala kau melihat ada seseorang didepanmu atau yang pertama kali kau lihat. Itu adalah cinta sejatimu”

Bukan lagi ledakan tawa tapi hujan godaan dan siulan yang kini diterima Hyurin hingga mukanya seperti kepiting rebus :)

Selasa, 04 Juni 2013

Ke(m)Bali Dari Belgia


Selamat datang kamu yang identik dengan budaya 
Peninggalan asli layaknya kastil yang terkokoh sepanjang abad
Melekat erat aroma religius
Persepsi utama adalah Bali 
Tentu saja!
Photo hunter sedang ada di Bali !!! :p









 Ya, saya bohong :D 

*****
Episode kali ini menjelajah ke tiga candi masih diMalang-malang saja yang masih Indonesia; Candi Badut, Candi Jago dan Candi Kidal. Berada ditengah pemukian masih berdiri kokoh bangunan dengan arsitektur yang sejarah 'banget' :D. Yang berbeda dari episode kali ini adalah kedatangan tamu dari negeri antah brantah 'Belgia' :) Welcome to our history!



Perjalanan dimulai, Candi Badut jadi sasaran utama lensa. Kali pertama lensa ini menangkap bangunan bersejarah dan itu langsung candi-candi. Sempat bingung bagaimana memulai feel agar menyatu dengan masa lalu. 


Tak pernah terpikirkan ruangan ini dibuat apa waktu jaman lampau. Semua serba batu, keras dan lumutan. Aromanya benar-benar lembab.


Beralih ke Candi selanjutnya, lebih besar dari pada yang pertama dan lebih indah. Seketika langitnya membiru, cuaca sangat cerah tak tampak kalau ini di Malang semacam berada di Bali atau di Jogja mungkin.


Candi terakhir bahkan lebih kecil seperti gapura. Yang menonjol adalah muka seram yang tak taulah siapa gerangan terpampang dengan taring yang super, mata melotot ingin loncat. Aromanya lebih unik dari yang pertama dan kedua. Bau-bauan dupa bercampur kandang ayam. So sweet kan :D karena ini berada ditengah-tengah dua kandang ayam masyarakat.

Lantas apa yang menarik dan membuat photo hunter makin unik?


 Setelah seolah-olah ke (m) Bali langsung diluar skenario, melanconglah ke Masjid turen dengan mitos bangunan yang dibangun dari Jin. Hal terseru dan menyenangkan tanpa persiapan. 




Singkat cerita dibalik ini semua adalah para photo hunter. Yang bikin beda adalah munculnya Briox teman baru dari negeri asal coklat Magnum berada. Belgia :D



Benar-benar seharian bareng bule itu unforgettable moment. Baru 18 tahun tapi cara menjawabnya lebih dewasa dari pada yang dikira. Awal perkenalan berasa shock culture tapi lama-lama terbiasa jadi bercanda. Dengan modal bahasa inggris yang sama sama acak kadut semakin cepat akrab dengan cara yang menarik.   Lucunya karena tanpa persiapan untuk perjalanan jauh, kaki ini mendadak jadi belang akibat sandal jepit, begitu juga kaki Briox yang mulai terbakar sinar matahari. Banyak yang diungkapkan, berbincang soal budaya. Belajar bahasa perancis hingga yang paling romantis.


We love Indonesia :p

Dengan begini kita menjadi tau melalui pengalaman yang baru
Teman baru dari jauh bukan sekedar sejengkal atau dua jengkal menyebrang provinsi tapi antar negara
Meski hanya sehari tapi akan menjadi pengalaman seumur hidup
Ada rasa damai dan tenang saat menikmati hal-hal yang unik 
Seperti tak ingin kembali, ingin tetap disitu
Kebali-balian dan kebelgia-belgiaan
Menyenangkan

''Ketika kamu sendiri orang akan cenderung lebih menghormati dan bersikap terbuka dari pada kamu bergerombol, so i am a loner" -- Briox

Selasa, 28 Mei 2013

I Heard You’re a Player

Sudah 3 tahun dan itu melelahkan. Lewat-lewat didepanku tanpa ampun dan aku hanya bisa melihat dan merasakan. Bayanganmu dengan segala keangkuhan yang melekat. Mengapa selalu berputar-putar dan aku hanya melihat mata tajam, serangkaian alis tebal yang menyilaukan. Aku perempuan pendendam, menyimpan rasa yang dalam. Hatiku tertahan atas rasa dingin dan gengsi bukan kehangatan yang kurasakan saat bertemu sekilas denganmu. Bukan rasa menenangkan dan kasmaran yang menjelaga. Aku bukan perempuan biasa. Penuh tantangan cintaku ini hingga lelah rasanya.

Playboy. Sosok itu selalu menerkamku. Iya, aku paham kau suka bermain cinta mari bermain denganku sekali saja lantas kulepaskan rasa murni yang kupendam ini. Menarik bukan!. Hari itu datang hari permainan kita. Kumunculkan sosok wajah angkuh yang kupunya. Senyum meremehkan tepat didepan laki-laki yang selama 3 tahun benar-benar menyita perhatianku.

“I heard you’re a player. So lets play a game. Lets sweet talk. Lets play fight. Lets talk 24/7. Lets tell each other good morning and good night every day. Lets talk walks together. Lets give each other nicknames. Lets hang out with each others friend. Lets go on dates. Lets talk on the phone all night long. Lets kiss and hug. And whoever falls in love first? Loses”

Antara meradang dan canggung. Mata yang kudewakan menatap lekat-lekat bibir tipisku yang kini berusaha tidak bergetar. Dia berdeham. Dehamannya yang kutunggu seperti mengerti maksud keisenganku.Saling tersenyum meremehkan sekarang. Aku sudah gila…

“Jika itu yang kau mau. Seminggu? Sebulan?”
“Sebulan” jawabku singkat masih dengan wajah yang paling datar.
Call!”

Sebut saja Kris dengan sosoknya yang paling menyebalkan tiada tara. Ia melenggang pergi sambil menggandeng perempuan disebelahnya yang tampak mengecewakanku. Puas.
***
Seminggu dengan segala kemesraan yang dibuat-buat. Aku mencintainya, segala sikap sombong dan sisi gelap identitas playboynya. Fisiknya yang paling mencolok diantara deretan pria yang pernah aku kencani juga. Kita sama sama ‘player’ tapi tak pernah ingin mengenal, apa yang membuatmu berbeda? Mungkin baru pertama ini aku jatuh hati pada yang sama sama memiliki identitas ‘player’. Mengasikkan.

“Apa tujuanmu membuat permainan ini?” tanya Kris penasaran. Mataku mengerjap cepat masih tak mengubah mimik datarku. Yang ada mata kami saling melirik.
“Bosan. Mati rasa. Terlalu kesepian. Monoton” jari-jariku mulai menghitung. Sampai dijari keempat kudapati mata Kris sejenak kosong lalu kembali mengulum senyum absurd.
“Menarik. Aku jadi bingung apa yang mendasariku menyetujui ini semua”
Whoever falls in love first? Loses. Remember it” sinisku pada kekasih jadi-jadian ini. Tawa Kris menghambur kemudian memelukku erat. Tubuhnya bidang dan hangat. Nikmatnya kepalsuan ini membuatku semakin menyayanginya. Rasa apa sebenarnya ini. Kekalahan yang sejak awal kurasakan sebelum permainan dimulai.
***
“Sudah 3 minggu. Wah hampir berakhir dan tak ada rasa apapun. Bisa kita ulang kiss and hug barusan?” pintaku.

Hentakan itu membuat Kris menegang. Dan aku suka menggodanya. Wajahnya mulai gusar. Kuperhatikan lekat-lekat dia hanya diam. Kusentuh pipinya yang dingin lalu turun menyusuri bibirnya yang merah jambu. Bibir ini yang menyentuh bibirku sedetik lalu. Jari-jariku mendatangi dadanya yang bidang. Berhenti disitu. Ah sayang mati rasa. Seperti dugaanku, Kris mulai mengangguk makin memahami ada sesuatu yang mengganjal tentang ini semua.

“Seadainya aku kalah, apa kita bisa bersama?”
Aku dengan segala kekuatanku mulai terhenyak. Palung-palung pertahananku hampir runtuh. Tidak mungkin Kris menyukaiku. Cintaku bertepuk sebelah tangan dan itu pasti. Segala rasa yang terpendam dalam seminggu kedepan akan segera kulepaskan “Dalam 3 minggu ini kita melakukan hal-hal yang wajar. Berkencan, berciuman, berpelukan, saling kontak. Perlakuanmu sama dengan wanita-wanita lain. Kenapa hampir menyerah?”
“Hanya seandainya” balasnya singkat.
“Apa yang membuatmu berfikir seperti itu?”
“Aku tidak canggih menggomabali wanita yang kusuka. Kau merusak hari-hariku ketika aku bersama wanita lain. Dan satu hal mimikmu yang dingin, kaku dan sinis itu seperti berkata ‘sebenarnya aku mencintaimu, Kris dari hati yan paling dalam’” cengir Kris.

Kupegangi hatiku rapat-rapat. 3 tahun cintaku terabai. Permainan ini hanya sebatas keisenganku untuk menguatkan perasaan ini. Berpendar kembali setelah ucapanmu itu. Tidak bisa! Aku harus melepaskan ini semua secepatnya. Mata Kris masih tertuju kepadaku yang kebingungan. Aku tersenyum manis-manis.

I cant explain what I feel” tambahnya. Gombalan manis yang sering kudengar dari mulut Kris sangat membuatku terbiasa. Kemudian tangan dinginnya merengkuhku untuk kesekian kali.
***
“Ternyata cepat ya sebulan” ucapku masih datar.
Hari perpisahan tiba seperti hari pengakuan dosa bagiku. Aku sangat mencintai laki-laki playboy ini. Tak bisa aku hentikan kemahabodohanku ini. Begitu sesak didada.
“Ada yang ingin kau sampaikan sebelum berpisah?”
Ada apa dengannya? Ada apa dengan dandanan formal yang ia perlihatkan padaku. Tampan. Hawa bad boy masih tetap melekat. Aku juga cantik. Rapi dengan segala hawa ke-bad girl-an yang kupunya. Lalu apa yang kutakutkan dari perpisahan ini. Aku mulai sedikit ragu.
“Ada yang ingin kusampaikan sebelum kita berpisah” aku memulai pembicaraan.
“Pengakuan dosa?”
“Sampai sini saja aku mencintaimu selama 3 tahun tanpa kau tau. Berhenti dititik ini. Aku sudah jenuh dengan pemendaman rasaku” kuhembuskan nafas panjang, “dengan cara ini aku ingin merasakan seberapa dalam perasaanku hingga mati rasanya. Segalanya sangat menyakitkan, sayang. Aku akan merindukan cinta pertamaku, Kris si laki-laki dengan identitas penjahat wanita ”kuakhiri dengan senyum masam didepannya.

Ah air apa ini? Jatuh dipipi  terasa asin dimulut. Tak ingin kuakui ini adalah air mata yang tak pernah kukeluarkan untuk laki-laki manapun. Bibirku masih tersenyum.

Jarakku dengan Kris hanya semeter. Betapa close up wajahnya akan selalu kuingat. Ekspresi tertegun serta kelincahan lidahnya saat meluncurkan kata-kata gombalan khas. Dititik ini aku akan menghapus dan meninggalkan segala perasaan yang disebut cinta menjadi kehancuran. Seperti masuk kejurang.

Kris tertegun, “Kau kalah dari awal permainan tapi kau telah mengalahkan hatiku saat ini. Tanggung jawablah!” lalu seakan katanya menamparku begitu saja.
“Kau sudah gila?! Semuanya terlambat. Ini semua hanya permainan. Aku tidak akan pernah lagi mencintaimu begitu juga kau yang tak pernah merasakan apapun! Just fake!” hertakku sengit.

Ada yang salah dengan rencana awalku. Ini semua gara-gara tangisan yang tak berguna. Pelukan Kris menghujamku yang kaku. Semakin sesak. Semakin tak tega meninggalkan tapi aku harus. Karena kita tak mungkin bersama itu rencanaku. Aku akan tetap bersikap gengsi dan angkuh dihadapannya meski aku suka meski aku menyayanginya.

“Jika itu yang kau inginkan akan ku tunggu sampai kau bisa memaafkanku”
“Terserah” Kulepas pelukan yang paling kuinginkan dalam hidup dan otomatis paling kurindukan. Melepas cinta pertamaku, kembali ke alam dimana hanya ada rasa yang telah mati dan laki-laki yang mudah dibohongi. Im a bad girl again..
***
Sejak saat itu yang kutau Kris tak pernah lagi mendekati wanita lain kecuali diriku. Menempel seperti lem “I heard you’re a player. So lets play a game” celetuk Kris disela-sela kesibukanku membaca buku dibawah pohon. Kulempar senyum yang paling mencela. Bolehkan aku mempermainkannya lagi?

by : Indah
Inspirasi datang dari serangkaian kata-kata yang muncul di instagram saya hehe :)