Kamis, 06 Juni 2013

Time Machine [Part 5] -- Labyrinth Shock

Terkadang cinta sejatimu itu tinggal sejengkal, berjarak 1 meter dari pandangan tapi kita tak mampu menangkap dengan mata telanjang.

Mata Hyurin menatap kosong perkata didepannya. Membaca kalimat terakhir dari novel yang ia genggam. Rasa kantuk menyerang, sudah dua jam ia mengganggurkan diri diperpus. Mengeluarkan pikiran jenuh soal kematangan konsep open house untuk besok. Perihal pameran Paper craft.

“Seharian ini tidak bertemu para Venus, pasti sibuk dengan urusan masing-masing padahal sudah siang begini. Ah membosankan” cibir gadis itu ditengah kesendirian.

Nuansa perpus memang enak untuk tidur. Sunyi. Kelembaban dari buku-buku tua hingga terbaru bercampur jadi satu. Lelah membaca, diletakkannya buku merah jambu itu, diliriknya untaian kata ‘FATE’ disampul depan novelnya. Sambil mengerang ia berdiri lalu melenggang pergi. Berharap acara besok lancar.

 “HYAA!! Kenapa acara kita sampai jam empat sore? Bukannya sudah sepakat sampai penutupan! Mau mati ya?” Sora sudah mengacung-acungkan tangannya ke arah Hyesung, merampas kera bajunya. “..Sudah setengah mati kami bekerja, kenapa kelas dance yang harus dipotong jam pertunjukannya? ”.
“Tu..tunggu sebentar…” Berusaha melepas tangan ganas Sora. “I..itu karena kelas kontemporer ingin menggunakan sebagian taman” Bibir tipis ketua OSIS terkatup-katup.

Sorot mata Sora seketika menajam lantaran mendengar kata kelas kontemporer. “Ini pasti kerjaan si kunyuk Eric. Bilang padanya pertunjukan labirinku tidak diperuntukkan untuk kelas kon-tem-po-rer dan tidak untuk didatangi oleh Erric-Mun, Lee Minnn-woo, Park Junnn-jin” penekanan kata yang sangat faseh dan jelas. “.... Satu hal pertunjukanku dimulai jam dua tepat dan berakhir pukul 8 malam titik” kemudian gadis temper itu pergi.

Jantung Hyesung melorot begitu saja. Hembusan nafas panjangnya pertanda buruk. Bibir tipisnya manyun. Suara seru-seruan datang dari arah belakang. Tampang Hyesung mulai bergidik. Yang disebut-sebut muncul beriringan dari belakang. Siap menerkam kegagalan pemuda berponi klemis ini. Tiga pemuda penuh taktik mulai mengerumuni Hyesung. Salah satu tangan memberatkan pundaknya. Berdecak nyaring.

“Ckck…kau ketua OSIS seharusnya sikapmu harus lebih jantan” Ujar Junjin.
“Aku sudah berusaha. Sebenarnya mau kalian apa? Menggagalkan pertunjukan akan dikenakan sanksi keras” Bantahnya. Genggaman Junjin makin erat. Minwoo yang sibuk mengulum lolipop maju selangkah, matanya melotot kearah Hyesung. Sebelum terjadi hal mengerikan, Pemuda yang menjadi bosnya menengahi.
“Sudah, sudah kita lanjutkan plan B”.
“Eric, kau sudah keseringan mencari gara-gara bersama antek-antekmu. Sebenarnya ada masalah apa kau dengan kelompok Sora?”.
“Tidak ada. Kami hanya mencari kesibukan. Kami hanya penasaran apa yang ada didalam labirin”.
“Sungguh kekanak-kanakan. Atau jangan-jangan niatmu adalah untuk merebut pengunjung kan? Apa lagi kelas kon-tem-po-rer memilih jam malam yang hanya sejam dan itu untuk penutupan. Mereka juga tidak mengizinkan kalian-kalian ini masuk kepertunjukannya ah kasian sekali” Sindiran Hyesung membuat Eric naik darah. “Hyaaa!!”.

Sebelum adegan perampasan kera Hyesung terjadi dua kali. Mendadak Minwoo memberi isyarat untuk menghentikan ini semua. Segera sembunyi dan diam. Mereka berempat lenyap dibalik tembok kelas. Memperhatikan Paran dan Hyurin yang lewat begitu saja, ekspresinya terkesan serius.

“Sora, butuh bantuan. Akan ada simulasi untuk sesi malam hari. Labirinnya akan dijadikan seperti film Step Up Revolution” Suara nyaring Paran membuat empat orang yang sedang bersembunyi hanya melirik waspada dan makin dilanda penasaran. Sekejab Hyesung mengerang, dasinya yang rapi berubah menjadi tali anjing bagi Eric. Ia menariknya, “A..anii~~…..ash jinjja”.
“Kau dengarkan apa yang lewat barusan. Jadi kau harus masuk kedalamnya dan cari tau apa isi labirin itu. Kalau perlu kau ambil satu barang yang bisa membuat Sora frustasi”.
Hyesung menelan ludahnya perlahan.

Senja semakin dekat pertanda kegelapan tiba. Jari-jari Sora berderak tak karuan. Sedikit-sedikit mengetuk-ngetuk besi balkon kelas di lantai dua. Sambil lalu dia berteriak kearah benda kotak hitam digenggamannya. Ketua pertunjukan kelas dance ini memang sedang frustasi lantaran taman labirin ada sedikit perubahan konsep. Labirin bertema couple sejak siang hari menjadi favorit anak-anak SMP. Acara puncaknya dimalam hari. Bzzztt…bzzt…..

“Hyurin-a kau mendengarkanku bukan? Simulasi akan dilakukan satu menit lagi. Suruh semua crew bersiap” menatap taman labirinnya lekat-lekat dari lantai 2. “Jika ada kesalahan, akan ada evaluasi ditempat. Ceritakan apa yang kau lihat selama didalam labirin. Aku mengawasi dari lantai 2 laboratorium” perjelasnya.
“Ne..Arraseo”.
“Gomawo”.

Persiapan simulasi tinggal beberapa detik begitu pula dengan rencana licik dari anak-anak pengangguran karena event yang dibangun merupakan event yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun. Kelas desain yang terkenal akan acara fashion shownya, Kelas musik dan kontemporer selalu ditempatkan pada urutan terakhir di acara penutupan open house. Monoton. Persiapan mereka tak terlalu berbelit-belit justru persiapan mengacaunya yang diutamakan. Sekarang menggandeng Dongwan sebagai kambing hitam lainnya setelah Hyesung. Akal bulus Eric, Minwoo dan Junjin tak pernah lelah untuk berhenti.

“Sekarang tugas kalian..” Mengacung-acungkan walkie-talkie.“Masuk dan ceritakan apa saja yang ada didalam. Jangan lupa potret semua kejadian yang ada juga” Eric menjelaskan dengan wajah kekanakkanakan.
“Tanpa senter?” Hyesung berusaha bernego. Karena tak sabar kaki Junjin tak segan untuk menyepak pantat pemuda penakut itu. Mendorong mereka berdua dengan paksa melalui pintu keluar labirin yang saat itu luput dari pengawasan.

Cuaca makin redup cahayanya, yang terlihat hanya lampu-lampu hias yang menyala dibeberapa spot didalam labirin. Start. Simulasi dimulai. Hyurin masuk dengan perasaan nervous begitu pula Hyesung dan Dongwan yang merasa terpaksa hanya bisa mengggerutu dan was-was. Musik mengalun diawali nada rendah. Serba romantis. Lorong-lorong bercorak hijau asli semak-semak membentuk tembok-tembok berstruktur keras. Sora sibuk mengamati pos-pos yang sudah disiapkan untuk permainan.



“Hyurin-a..bayangkan kau masuk kedalam labirin bersama pasanganmu…”
“Tapi aku tidak bersama pasanganku” Gadis penakut itu merengek.
“Kan sudah kubilang bayangkan saja. Ada 3 pos yang harus kau kunjungi. Setiap pos ada benda-benda couple yang sebenarnya harus kau ambil tapi karena ini simulasi jadi lewati saja” Tegas Sora. ”Sebagai bukti kau sudah melewatinya nyalakan saja benda itu aku akan melihatnya dari atas sini”.
“Oke” .

Percakapan berakhir dengan bunyi Biip. Perjalanan kembali berlanjut, peristiwa mulai terjadi. Tiap lorong yang dia lewati awalnya diam, ternyata ada beberapa dancer yang memang menunggu pengunjung. Bergerak-gerak menyamar sebagai rerumputan kemudian menari-nari dihadapan Hyurin. Tak lama kembali lagi menjadi rumput, diam seperti patung. Wajah Hyurin kaget lalu tersenyum. Kejutan-kejutan manis memang untuk yang sedang kasmaran. Ah..menyebalkan.

Pos pertama berhasil Hyurin lewati dengan santai. Lumayan tersesat pada pos kedua. Boneka monyet bertahtakan mahkota mulai bersinar disusul lightstik berwarna pink 10 menit kemudian. Dari atas balkon kepala Sora mulai mengangguk-angguk.

“Sora-ya, Labirinmu so sweet sekali benar-benar untuk yang COUPLE” Menekankan kata couple.
“Hhahaha….i know”.

Sementara itu, Hyesung dan Dongwan sibuk menyelinap lalu terkaget-kaget sendiri ketika berhadapan dengan semak-semak dan beberapa properti yang bergoyang kemudian berdansa dengan sendirinya. Gerakan penari yang luwes dengan lampu-lampu lucu yang menghiasi kostum mereka. Kelap kelip seperti bintang pada riasan make up mereka. Mengaburkan seluruh gelapnya labirin. Setiap sudut ruang yang buntu diisi dengan hal-hal yang bercahaya. Panggung sederhana untuk boneka-boneka yang bergerak dengan sendirinya. Tari-tarian yang berbeda disetiap semak belukar yang mengejutkan. Menerobos dari satu gang ke gang lain. Ada yang melompat-lompat. Siluet beribu-ribu warna abstrak. Tulisan graffiti dari laser khusus. Ditambah bermacam-macam musik pelan dan keras. Meriah.

“Ini tempat apa?” leher Hyesung bergidik.
“Inilah seni yang sebenarnya. Lihat, ini untuk yang sedang berpasangan” Dongwan terkesima melihat hasil karya kelas dance. Alih-alih mengagumi, tangannya juga gatal untuk memotret.
“Huwooo…benar-benar untuk yang berpasangan tapi..”
Kedua mata mereka bertemu, “Hiyyyy..!! Andwae…!!” Teriak mereka berdua.
“Jangan berfikiran macam-macam!” Raung Dongwan.
“Bb…babo-ya!” Pipi gemuk Hyesung memerah.
Sejenak dalam keheningan, Hyurin mendengar desahan berisik yang tak wajar. Bzzztt….zzzt
 “Sora-ya, aku mendengar ada yang aneh, suara berisik. Apa itu termasuk kejutan lain?”
“Berisik seperti apa?” Mengamati.
“Teriakan. Suara kucing mungkin. Disini terlalu gelap. Mungkin kau harus menambah lampu”
Mata sang ketua mulai menyapu sudut-sudut labirinnya, ada beberapa lampu dari dancernya yang menyamar menyala, “Aku melihat sesuatu di bagian belakang. Tidak semua crew mengerti bahwa satu orang yang masuk untuk simulasi. Mungkin mereka melakukan simulasi sendiri. Abaikan saja”
*****
Dua orang pengacau hampir sampai ditengah-tengah labirin. Mulai menikmati perjalanan. Melihat-lihat pertunjukan secara curang. Para crew didalam labirin juga tak terlalu memikirkan siapa yang masuk. Perintah yang didengar adalah lakukan simulasi seolah-olah ada pengunjung. Check lampu dan aksesoris malam dengan baik agar tidak terjadi kesalahan. Tak salah jika mereka tidak tau ada penyusup seperti Dongwan dan Hyesung. Karena point penting disini adalah seni Light Dance. Tatanan taman yang biasa dan tak beraturan disulap menjadi labirin untuk sehari. Bzztt..zzzt…

“Check..check Tarzan menghubungi Yuric! Tarzan menghub…” Percakapan absurd mulai terjadi.
“Wei?!” suara lantang dari Eric mengejutkan Hyesung.
“Lapor, didalam labirin sangat indah. Konsepnya adaptasi dari film Step Up. Daebak!! Bersiap lah untuk kalah…”
“Hyaa!!! Jangan banyak bicara!!”
“Aku melihat sesuatu, itu seperti Hyurin. Kami berdua berada disemak-semak love lampion
“Apa maksudmu dengan love lampion, hah?” Eric tak sabar.
Kemudian suara berisik mengusik telinga Eric. Biip… Mati. Dua pemuda tadi berlari tak tentu arah. Bersembunyi.
“Dongwan-a sepertinya… ” tengok Hyesung “Hyaa..Jinjja! Dongwan-a dimana kau? Aiish…” mimiknya memucat setelah tau Dongwan tak ada disampingnya. Sementara Hyurin berjalan kearah tempat ia bersembunyi sendirian. Dibalik meja lampion. Unlucky Hyesung.

Seketika itu juga pemuda yang gugup antara takut ketahuan dan mengagumi dua lampion yang menyala-nyala berbentuk cinta itu hanya membungkam mulutnya erat-erat. Mendengar apa yang sedang terjadi.

“Soraya, kurasa aku sudah menemukan pos ketiga. Lampion yang cantik” mendongak kearah Sora yang jelas-jelas tak terlihat dari bawah sambil bicara pada walkie-talkienya. Melambaikan tangannya girang tak berarah. Bzztt…
“Aku akan menang dengan ini semua” Senyuman kecil menghiasi bibir Sora puas.
“Andai saja aku bisa masuk kemari dengan seseorang yang aku suka. Aku pasti akan bahagia”
Hyesung masih sibuk menyimak percakapan dalam diam. Terkadang tersenyum malu kemudian kembali ditutup lagi mulutnya itu. Baru pertama ia menguping pembicaraan wanita. Ada rasa penasaran dengan gadis ini. Dasar wanita…
“Bagaimana kau bisa memikirkan ini semua?” tambahnya
“Aku dan teman-teman memang suka mengkhayal dan bermitos yang tidak-tidak” Tawa keras menghujam telinga Hyurin.
“Maksudnya?” Alisnya mengkerut.
“Emm..jadi mitosnya…..”.
Jleb…belum sempat meneruskan pembicaraan tiba-tiba senyum Sora kembali menciut kala kedua lampion cinta itu meredup. Ditengah labirin benar-benar gelap gulita. Aku benci kegelapan teriak Hyesung dari dalam hati. Hyesung sudah merasa kakinya kesemutan pula.
“Hyaaa! Eonnie, apa ini bagian dari pertunjukan?” Hyurin kembali merengek.
“Tenanglah. Kau harus menyalakan saklarnya. Lampion itu lampion bekas nenekku jadi maklumlah sudah tua” Sora menahan tawanya berusaha berwibawa.
“Aiish..Jinjja”.

5 menit pertama, tangan gadis itu berusaha untuk meraba-raba sekeliling lampion sembari mulut yang tak henti-hentinya menggerutu. Makin dekat dengan pemuda yang sedang menahan kakinya yang kesemutan. 10 menit berlalu, Kaki kramnya tak bisa ditahan, berdirilah dia dalam gelap masih tak bersuara dengan wajah pucat menggigiti bibir bagian bawahnya. Aku tak ingin dikeluarkan dari sekolah hanya karena ini semua, Aku tak ingin kena pukul karena dianggap stalker, Dongwan sialan begitu juga dengan Eric, Minwoo dan Junjin, pikiran Hyesung mulai meliar, tubuhnya bergetar. Bersamaan dengan itu tombol saklar ditemukan. Cklak..cklak. Lampion berpijar lebih cerah lebih pink sedikit keemasan dari yang pertama. Hyesung terhenyak.

Keceriaan Hyurin meledak “DAE…..”
“…Bak…” kemudian meluncur seketika ketika dihadapannya muncul sosok laki-laki yang samar ia kenal. Cahaya yang masih remang-remang meski lampion berpijar terang benerang mambawa nuansa mistis untuk sekarang. Keduanya sama-sama mematung. Saling menatap mata masing-masing. Tak ada gerakan tak ada interkasi. Ada rasa ‘aku mengenalnya tapi entah dimana’. Walkie-talkie tergeletak ditanah. Sial bagi Hyesung, kejutan juga bagi Hyurin.
“SETAAAAAAANNN!!!!!” Lonjakan Hyurin membuat Hyesung shock.
“MIANHAE!” Ia meminta maaf kepada orang yang telah lari terbirit-birit.
*****
Tak terima ledakan lagi mungkin sekarang café Shinhwa kembali gempa ketika para venus menertawakan hal-hal yang menyangkut masa lalu mereka. Pengunjung melihat mereka dengan pandangan yang bermacam-macam; aneh, berisik, ikut tertawa hingga memalukan.

“Apa yang terjadi setelahnya?” tanya Paran antusias.
“Kau taulah, apa yang membuat kelas kontemporer didiskualifikasi? Kelas musik kehilangan nilai? begitu juga kelasku itu semua perkara kestalkeran” sengit Jie Eun. “ Mahabodohnya mereka” Kemudian tertawa.
“Jadi apa mitos sebenarnya yang ingin kau ceritakan padaku waktu itu?” Menyeruput gelas kopi untuk yang kesekian kali. Sora menerawang jauh, berusaha mengingat dengan menatap satu persatu mata sahabat-sahabatnya yang masih nyaman dengan kursi kayunya.
“Kata nenekku, jika lampion itu tiba-tiba mati kemudian kau menyalakannya lagi dan saat cahaya itu menyala kau melihat ada seseorang didepanmu atau yang pertama kali kau lihat. Itu adalah cinta sejatimu”

Bukan lagi ledakan tawa tapi hujan godaan dan siulan yang kini diterima Hyurin hingga mukanya seperti kepiting rebus :)

Selasa, 04 Juni 2013

Ke(m)Bali Dari Belgia


Selamat datang kamu yang identik dengan budaya 
Peninggalan asli layaknya kastil yang terkokoh sepanjang abad
Melekat erat aroma religius
Persepsi utama adalah Bali 
Tentu saja!
Photo hunter sedang ada di Bali !!! :p









 Ya, saya bohong :D 

*****
Episode kali ini menjelajah ke tiga candi masih diMalang-malang saja yang masih Indonesia; Candi Badut, Candi Jago dan Candi Kidal. Berada ditengah pemukian masih berdiri kokoh bangunan dengan arsitektur yang sejarah 'banget' :D. Yang berbeda dari episode kali ini adalah kedatangan tamu dari negeri antah brantah 'Belgia' :) Welcome to our history!



Perjalanan dimulai, Candi Badut jadi sasaran utama lensa. Kali pertama lensa ini menangkap bangunan bersejarah dan itu langsung candi-candi. Sempat bingung bagaimana memulai feel agar menyatu dengan masa lalu. 


Tak pernah terpikirkan ruangan ini dibuat apa waktu jaman lampau. Semua serba batu, keras dan lumutan. Aromanya benar-benar lembab.


Beralih ke Candi selanjutnya, lebih besar dari pada yang pertama dan lebih indah. Seketika langitnya membiru, cuaca sangat cerah tak tampak kalau ini di Malang semacam berada di Bali atau di Jogja mungkin.


Candi terakhir bahkan lebih kecil seperti gapura. Yang menonjol adalah muka seram yang tak taulah siapa gerangan terpampang dengan taring yang super, mata melotot ingin loncat. Aromanya lebih unik dari yang pertama dan kedua. Bau-bauan dupa bercampur kandang ayam. So sweet kan :D karena ini berada ditengah-tengah dua kandang ayam masyarakat.

Lantas apa yang menarik dan membuat photo hunter makin unik?


 Setelah seolah-olah ke (m) Bali langsung diluar skenario, melanconglah ke Masjid turen dengan mitos bangunan yang dibangun dari Jin. Hal terseru dan menyenangkan tanpa persiapan. 




Singkat cerita dibalik ini semua adalah para photo hunter. Yang bikin beda adalah munculnya Briox teman baru dari negeri asal coklat Magnum berada. Belgia :D



Benar-benar seharian bareng bule itu unforgettable moment. Baru 18 tahun tapi cara menjawabnya lebih dewasa dari pada yang dikira. Awal perkenalan berasa shock culture tapi lama-lama terbiasa jadi bercanda. Dengan modal bahasa inggris yang sama sama acak kadut semakin cepat akrab dengan cara yang menarik.   Lucunya karena tanpa persiapan untuk perjalanan jauh, kaki ini mendadak jadi belang akibat sandal jepit, begitu juga kaki Briox yang mulai terbakar sinar matahari. Banyak yang diungkapkan, berbincang soal budaya. Belajar bahasa perancis hingga yang paling romantis.


We love Indonesia :p

Dengan begini kita menjadi tau melalui pengalaman yang baru
Teman baru dari jauh bukan sekedar sejengkal atau dua jengkal menyebrang provinsi tapi antar negara
Meski hanya sehari tapi akan menjadi pengalaman seumur hidup
Ada rasa damai dan tenang saat menikmati hal-hal yang unik 
Seperti tak ingin kembali, ingin tetap disitu
Kebali-balian dan kebelgia-belgiaan
Menyenangkan

''Ketika kamu sendiri orang akan cenderung lebih menghormati dan bersikap terbuka dari pada kamu bergerombol, so i am a loner" -- Briox

Selasa, 28 Mei 2013

I Heard You’re a Player

Sudah 3 tahun dan itu melelahkan. Lewat-lewat didepanku tanpa ampun dan aku hanya bisa melihat dan merasakan. Bayanganmu dengan segala keangkuhan yang melekat. Mengapa selalu berputar-putar dan aku hanya melihat mata tajam, serangkaian alis tebal yang menyilaukan. Aku perempuan pendendam, menyimpan rasa yang dalam. Hatiku tertahan atas rasa dingin dan gengsi bukan kehangatan yang kurasakan saat bertemu sekilas denganmu. Bukan rasa menenangkan dan kasmaran yang menjelaga. Aku bukan perempuan biasa. Penuh tantangan cintaku ini hingga lelah rasanya.

Playboy. Sosok itu selalu menerkamku. Iya, aku paham kau suka bermain cinta mari bermain denganku sekali saja lantas kulepaskan rasa murni yang kupendam ini. Menarik bukan!. Hari itu datang hari permainan kita. Kumunculkan sosok wajah angkuh yang kupunya. Senyum meremehkan tepat didepan laki-laki yang selama 3 tahun benar-benar menyita perhatianku.

“I heard you’re a player. So lets play a game. Lets sweet talk. Lets play fight. Lets talk 24/7. Lets tell each other good morning and good night every day. Lets talk walks together. Lets give each other nicknames. Lets hang out with each others friend. Lets go on dates. Lets talk on the phone all night long. Lets kiss and hug. And whoever falls in love first? Loses”

Antara meradang dan canggung. Mata yang kudewakan menatap lekat-lekat bibir tipisku yang kini berusaha tidak bergetar. Dia berdeham. Dehamannya yang kutunggu seperti mengerti maksud keisenganku.Saling tersenyum meremehkan sekarang. Aku sudah gila…

“Jika itu yang kau mau. Seminggu? Sebulan?”
“Sebulan” jawabku singkat masih dengan wajah yang paling datar.
Call!”

Sebut saja Kris dengan sosoknya yang paling menyebalkan tiada tara. Ia melenggang pergi sambil menggandeng perempuan disebelahnya yang tampak mengecewakanku. Puas.
***
Seminggu dengan segala kemesraan yang dibuat-buat. Aku mencintainya, segala sikap sombong dan sisi gelap identitas playboynya. Fisiknya yang paling mencolok diantara deretan pria yang pernah aku kencani juga. Kita sama sama ‘player’ tapi tak pernah ingin mengenal, apa yang membuatmu berbeda? Mungkin baru pertama ini aku jatuh hati pada yang sama sama memiliki identitas ‘player’. Mengasikkan.

“Apa tujuanmu membuat permainan ini?” tanya Kris penasaran. Mataku mengerjap cepat masih tak mengubah mimik datarku. Yang ada mata kami saling melirik.
“Bosan. Mati rasa. Terlalu kesepian. Monoton” jari-jariku mulai menghitung. Sampai dijari keempat kudapati mata Kris sejenak kosong lalu kembali mengulum senyum absurd.
“Menarik. Aku jadi bingung apa yang mendasariku menyetujui ini semua”
Whoever falls in love first? Loses. Remember it” sinisku pada kekasih jadi-jadian ini. Tawa Kris menghambur kemudian memelukku erat. Tubuhnya bidang dan hangat. Nikmatnya kepalsuan ini membuatku semakin menyayanginya. Rasa apa sebenarnya ini. Kekalahan yang sejak awal kurasakan sebelum permainan dimulai.
***
“Sudah 3 minggu. Wah hampir berakhir dan tak ada rasa apapun. Bisa kita ulang kiss and hug barusan?” pintaku.

Hentakan itu membuat Kris menegang. Dan aku suka menggodanya. Wajahnya mulai gusar. Kuperhatikan lekat-lekat dia hanya diam. Kusentuh pipinya yang dingin lalu turun menyusuri bibirnya yang merah jambu. Bibir ini yang menyentuh bibirku sedetik lalu. Jari-jariku mendatangi dadanya yang bidang. Berhenti disitu. Ah sayang mati rasa. Seperti dugaanku, Kris mulai mengangguk makin memahami ada sesuatu yang mengganjal tentang ini semua.

“Seadainya aku kalah, apa kita bisa bersama?”
Aku dengan segala kekuatanku mulai terhenyak. Palung-palung pertahananku hampir runtuh. Tidak mungkin Kris menyukaiku. Cintaku bertepuk sebelah tangan dan itu pasti. Segala rasa yang terpendam dalam seminggu kedepan akan segera kulepaskan “Dalam 3 minggu ini kita melakukan hal-hal yang wajar. Berkencan, berciuman, berpelukan, saling kontak. Perlakuanmu sama dengan wanita-wanita lain. Kenapa hampir menyerah?”
“Hanya seandainya” balasnya singkat.
“Apa yang membuatmu berfikir seperti itu?”
“Aku tidak canggih menggomabali wanita yang kusuka. Kau merusak hari-hariku ketika aku bersama wanita lain. Dan satu hal mimikmu yang dingin, kaku dan sinis itu seperti berkata ‘sebenarnya aku mencintaimu, Kris dari hati yan paling dalam’” cengir Kris.

Kupegangi hatiku rapat-rapat. 3 tahun cintaku terabai. Permainan ini hanya sebatas keisenganku untuk menguatkan perasaan ini. Berpendar kembali setelah ucapanmu itu. Tidak bisa! Aku harus melepaskan ini semua secepatnya. Mata Kris masih tertuju kepadaku yang kebingungan. Aku tersenyum manis-manis.

I cant explain what I feel” tambahnya. Gombalan manis yang sering kudengar dari mulut Kris sangat membuatku terbiasa. Kemudian tangan dinginnya merengkuhku untuk kesekian kali.
***
“Ternyata cepat ya sebulan” ucapku masih datar.
Hari perpisahan tiba seperti hari pengakuan dosa bagiku. Aku sangat mencintai laki-laki playboy ini. Tak bisa aku hentikan kemahabodohanku ini. Begitu sesak didada.
“Ada yang ingin kau sampaikan sebelum berpisah?”
Ada apa dengannya? Ada apa dengan dandanan formal yang ia perlihatkan padaku. Tampan. Hawa bad boy masih tetap melekat. Aku juga cantik. Rapi dengan segala hawa ke-bad girl-an yang kupunya. Lalu apa yang kutakutkan dari perpisahan ini. Aku mulai sedikit ragu.
“Ada yang ingin kusampaikan sebelum kita berpisah” aku memulai pembicaraan.
“Pengakuan dosa?”
“Sampai sini saja aku mencintaimu selama 3 tahun tanpa kau tau. Berhenti dititik ini. Aku sudah jenuh dengan pemendaman rasaku” kuhembuskan nafas panjang, “dengan cara ini aku ingin merasakan seberapa dalam perasaanku hingga mati rasanya. Segalanya sangat menyakitkan, sayang. Aku akan merindukan cinta pertamaku, Kris si laki-laki dengan identitas penjahat wanita ”kuakhiri dengan senyum masam didepannya.

Ah air apa ini? Jatuh dipipi  terasa asin dimulut. Tak ingin kuakui ini adalah air mata yang tak pernah kukeluarkan untuk laki-laki manapun. Bibirku masih tersenyum.

Jarakku dengan Kris hanya semeter. Betapa close up wajahnya akan selalu kuingat. Ekspresi tertegun serta kelincahan lidahnya saat meluncurkan kata-kata gombalan khas. Dititik ini aku akan menghapus dan meninggalkan segala perasaan yang disebut cinta menjadi kehancuran. Seperti masuk kejurang.

Kris tertegun, “Kau kalah dari awal permainan tapi kau telah mengalahkan hatiku saat ini. Tanggung jawablah!” lalu seakan katanya menamparku begitu saja.
“Kau sudah gila?! Semuanya terlambat. Ini semua hanya permainan. Aku tidak akan pernah lagi mencintaimu begitu juga kau yang tak pernah merasakan apapun! Just fake!” hertakku sengit.

Ada yang salah dengan rencana awalku. Ini semua gara-gara tangisan yang tak berguna. Pelukan Kris menghujamku yang kaku. Semakin sesak. Semakin tak tega meninggalkan tapi aku harus. Karena kita tak mungkin bersama itu rencanaku. Aku akan tetap bersikap gengsi dan angkuh dihadapannya meski aku suka meski aku menyayanginya.

“Jika itu yang kau inginkan akan ku tunggu sampai kau bisa memaafkanku”
“Terserah” Kulepas pelukan yang paling kuinginkan dalam hidup dan otomatis paling kurindukan. Melepas cinta pertamaku, kembali ke alam dimana hanya ada rasa yang telah mati dan laki-laki yang mudah dibohongi. Im a bad girl again..
***
Sejak saat itu yang kutau Kris tak pernah lagi mendekati wanita lain kecuali diriku. Menempel seperti lem “I heard you’re a player. So lets play a game” celetuk Kris disela-sela kesibukanku membaca buku dibawah pohon. Kulempar senyum yang paling mencela. Bolehkan aku mempermainkannya lagi?

by : Indah
Inspirasi datang dari serangkaian kata-kata yang muncul di instagram saya hehe :)




Jumat, 24 Mei 2013

Andai Aku Pria


Saat itu, saat rasa ini sedang kalut berusaha meraup kebebasan yang paling kuinginkan hanya sebatas menatap angkasa. Kupejamkan mata ini lantas ku memulai gambaran paling absurd. Seandainya aku menjadi seorang pria…

Im a man in my mind :)

Aku menjadi pria dengan segala pemikiran kepekaan milik wanita, kesensitifan seperti seorang ibu tapi bukan karena aku yang pria ini lantas menjadi feminim. Aku menyukai sisi-sisi lembut dan perhatian yang bisa kujadikan pegangan untuk memperlakukan wanitaku nantinya. Istilah ‘karena wanita ingin dimengerti’ terbuktikan? Jika semua pria didunia peka dan pemerhati.

Aku akan menjadi pria yang menghobi perihal seni yang romantis seperti berlomba-lomba belajar gitar dengan petikan-petikan syahdu akustik. Love song hingga happy song kumainkan dengan hati agar orang disekitarku merasa nyaman dan santai. Mungkin merambah ke piano. Ya! Piano menjadi image pangeran kuda putih. Manis dentingan tuts hitam putih. Kumainkan untuk siapapun yang mau mendengarkan termasuk yang ter ter spesial wanitaku. Wanita yang duduk disampingku sambil lalu kuajari cara bermain dengan benda besar berwarna putih gading itu. Romantis bukan…

Kuperlakukan senyata mungkin dia yang cantik itu. Sebagai pria aku akan selalu memberinya kejutan rahasia agar dia selalu terkaget dan tertawa hanya karena keisenganku untuknya. Mungkin selembar catatan kecil atau puisi tertulis atau apa yang kurasakan saat hari-hariku mulai diisi olehnya pada selembar sticky note lalu kutempel dibagian tubuhnya atau barang kesayangannya secara sengaja setiap bertemu. Misalnya seperti ini :

To my lady J
Aku berusaha romantis walau pada akhirnya tidak
Tapi dengan begini aku akan mencoba memahami sosok yang ada didepanku..

Atau

To my lady J
Selamat pagi yang paling cantik….
Matamu hanya sekedar mata yang tak menjanjikan apapun..
Tapi bagaimana bisa kedipan itu selalu membuatku berenang-renang didalamnya :p

Aku pasti sudah gila dengan keahlian menggombalku. Tapi yang kurasa antara gombalan dan kebenaran sepertinya beda tipis. Tidak berhenti dikejutan manis alakadarnya ini, ada kejutan-kejutan lain bahkan ber-part part jika wanitaku bersamaku. Apa gunanya aku bisa bermain gitar jika tidak kumainkan saat bersamamu begitu pula piano. Sesekali kita kencan dengan menggunakan sepeda pancal maukan? Menikmati suasana sore dengan es potong digenggaman dan beberapa jajanan anak TK seperti gula-gula kapas atau permen lollipop ditangan. Setelah itu aku akan mengajakmu datang melihat pertandingan mobil balap karena aku adalah seorang pembalab dalam anganku. Betapa bad guy-nya priamu ini.

Selain menggombal, aku memiliki kemampuan fotografi yang cukup baik kemudian mengabadikan setiap momen menarik antara aku dan wanitaku. Diam-diam aku mengoleksi setiap frame kenangan kita, benda yang melekat tentang kita ataupun wanitaku sendiri dan kebersamaan. Menariknya wanitaku selalu tersipu lalu mendadak merampas kameraku begitu saja.

Kadang kala kita akan menuai pertengkaran yang hebat tapi dengan segenap hatiku, aku sebagai pria dengan keberanian yang kumiliki, aku tak segan untuk mengucapkan maaf dan memintamu kembali kedalam pelukan. Seandainya wanitaku tetap enggan maka aku akan berusaha untuk tegar. Aku tidak akan menyesal, tidak akan mengumpat ataupun membencimu karena telah jatuh hati padamu.

Setiap jengkal perhatian yang wanitaku butuhkan selalu tercurah dariku. Jangan pernah takut aku tak ada disampingmu bahkan sampai wanitaku terlelap aku selalu merapal doa untuknya. Membiarkan mimpi mendatanginya agar esok wanitaku dapat tersenyum kembali.

Ah..andai aku seorang pria…
Masih adakah pria yang seperti ini dengan kelengkapan sisi romantis tanpa kemahajaiman yang melekat atau yang mendewakan gengsi? Kurasa aku belum menemukannya.

by : Indah

Selasa, 14 Mei 2013

Aku Yang Tak Sempurna


Bagaimana mungkin dari hasil pertemuan tak sengajaku denganmu menjadi sebuah rasa yang membuncah lantas menggelembung seperti balon udara. Bagaimana bisa dirimu menyegarkan hari-hari kelabuku mengisinya dengan sejuta canda dan cerita.
Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata

Pastinya dirimu sudah biasa berretorika dengan wanita-wanita lain bahkan wanita yang kini disampingmu. Yang fix akan menjadi cinta dan sandaran akhirmu.  Diriku yang tak sempurna, tak bisa bersuara. Hanya cukup menyunggingkan senyum sembari memandangi dirimu dari jauh. Untuk pertama kalinya diriku menjadi mata-mata. Bersamaan dengan itu, pernahkah kau tau meski aku bisu tanganku menari-nari indah diatas kertas dengan penanya.
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski sering kali kau malah asik sendiri
Karena kau tak lihat
Terkadang malaikat tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silahkan kau adu
Malaikat juga tau siapa yang jadi juaranya

Mendiskripsikan sosokmu yang kukenal yang kucinta dan untuk pertama kalinya lagi perasaan itu kuyakini lebih besar dari pada rasa apapun. Corat coret ku menumpahkan segalanya, mulai dari fisikmu dimataku yang sejatinya sempurna bersanding denganku. Hanya denganku. Percakapan pendek yang kuanggap berkesan diam-diam kucatat dalam note. Mataku yang selalu sibuk menelusuri lekukmu mengagumi setiap jengkal kemaskulinanmu.
Hampamu tak kan hilang semalam oleh pacar impian tetapi kesempatan
Untukku yang mungkin tak sempurna tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri cintaku lah yang sejati
Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silahkan kau adu
Malaikat juga tau siapa yang jadi juaranya

Terkadang kudengar kau mengaduh rindu kepada seorang kekasih. Terselip kecemburuanku tampak dari cara mata dan gerak tanganku yang kikuk. Kurasa kau mendengar jeritannya, jeritan hatiku yang sedikit demi sedikit mengilu. Marahku sesekali pada dirimu hendakku tinggalkan karena tak tahan sakitnya namun semuanya luntur karena lebih sering ku pergoki ada kehampaan yang kau dulang dalam masa kejayaanmu sebagai pemimpin.
Kau selalu meminta terus kutemani
Dan engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakanku pergi karena tak sanggup sendiri
Bukan mengeluh pada yang sering kau rindukan tapi padaku. Aku tak pernah tega membiarkanmu sendiri, menanggung beban yang sepertinya sulit kau tempuh. Walaupun tenaga dan kemampuanku tak akan pernah sederajat dengan orang-orang sepertimu. Hanya lantunan perasaan sayangku padamu.

Karena kau tak lihat
Terkadang malaikat tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silahkan kau adu
Malaikat juga tau akukan jadi juaranya

Datanglah padaku, mengaduh pada tubuh ini. Tubuh tanpa ocehan kataku. Relaku untuk menuliskan setiap kata yang ingin kuucapkan untukmu. Kusediakan waktu luang hanya untuk berjumpa hanya untuk bercanda hanya untuk bertukar kisah. Meski ku tak sempurna meski ku tak bisa bicara bolehkan aku memendam rasa ini, rasa yang suka melompat dan melambung keangkasa?. Kurasa kau tak perlu menjawab.

by : Indah

Backsound : Malaikat Juga Tau --- Dewi Lestari

Jumat, 10 Mei 2013

Petualangan Sherina Hingga Twilight :)


Jadi teringat petualangan Sherina yang menghebohkan masa kecil. Perkebunan teh serba hijau menjanjikan kesegaran disetiap ujung daun mudanya. Tapi tetap saja ketakutan saat tau ada makhluk berbulu yang merajai batang-batangnya. Ulat bulu.


Melompat-lompat setiap bertemu dengan hewan buluan itu. Bukan hanya kaki ini yang menjingkrak tapi kaki kawanku juga. Sama-sama phobianya. Yang namanya fotografer dalam keadaan ketakutan sekalipun untuk mendapat foto yang baik harus rela melawan rasa phobianya.




Alih-alih ingin foto makroan tapi takut ulat bulunya muncul alhasil lebih mengambil sudut pandang langit dari lipit-lipit pepohonan. 


Hari itu panas, mampirlah ke kedai teh 'Tea House'. Meski es teh tapi rasanya benar-benar seperti makan daun teh mentah. Tawar. Diselingi gorengan dan perbincangan kesana-kemari. Gossip Girl.


Kenang-kenangan dari kisah petualangan ala anak kos ini. Stop! Belum cukup kisahnya masih ada air terjun yang masih di Malang. Trawas akan segera ku datangi air jatuhnya. 


Berganti imajinasi sebentar, setelah Petualangan Sherina beralih ke Twilight. Ingatanku tertuju pada adegan Bella dan Edward berenang di air terjun. Khayalan ini menggeliat-nggeliat tak tentu arah. 
Sejuk kurasakan airnya jatuh berbulir-bulir. Menyenangkan berburu moment-moment alam.


Makin kebawah makin deras. Batu-batunya terpapras habis hingga lumutan. 


Kisah berakhir dibantaran hutan pinggir jalan. Piknik sebentar disepetak tanah yang cukup lapang. Mengisi perut dengan perbekalan dari kosan. Lagi-lagi kutangkap moment Twilight yang lain. Seolah-olah ditengah hutan, barisan pohon masih tegap mencengkram bumi.


by : indah



Senin, 06 Mei 2013

100 Puisi Sepenggal Cerita (Part 5)


Sudah kubilang jangan pernah datang. Upayaku melupakan, sinarnya menyoroti bola mata redupku. Menghujani jantungku. Hendaknya kau tau kekuatanmu ada padaku. Datang lagi membawa sejuta beban. Meminta untuk ditenangkan. Kau yang tak bisa kutolak terus kujamah dan kuraba. Kita sama sama mengulum rasa semu. Nikmati saja dosa termanis yang pernah kita lakukan. Sampai batas waktu yang ditentukan, sampai aku menemu cinta yang baru lalu kutinggalkan kau untuk kedua kalinya. Namun masih tak kuasa. (Masih Belum Putus) --- Dosa Termanis.

81. Kurapal namanya ditiap doa tidurku.Kupercayakan raganya pada malaikat malam.Dimimpi kita bersua hingga pagi menjelma #puisimalam

82. Terjaga ditengah tidurku. Merasakan rindu yang malang melintang. Mahamalam merengkuh setiap angan #puisimalam

83. Mata lelah terpejam lelap. Tidur pulas dalam mimpi yang kelam. Dengkurannya meradang melawan bisikan malam #puisimalam

84. Lelapku pada tidur yang dalam. Memimpikan apa yang membuatku terbayang. Kamu dengan daya pikatmu #puisimalam

85. Ikutiku sampai jauh. Melesat menembus cahaya. Mendekapku dalam impian nyata. Bersamamu aku ada #puisimalam

86. Rinduku ikut tenggelam. Menyibak angan melepas kepedihan. Berlarian dipadangnya malam kesendirian #puisimalam

87. Ternyata malam masih sempurna. Bukan ada bintang ataupun bulan. Yang lebih beda. Iya! kabutnya, suara jangkrik dan asap rokok penjaga malam #hening

88. Sepasang bola mata. Terkandung lini duka,terselip pada setiap rongga. Kedipannya luruh mengundang rahasia #puisimalam

89. Sayu sempurna. Indah dan cemerlang. Sudut lengkungnya semburat keceriaan. Bagaimana aku bisa lupa pancaran mata itu? #puisimalam

90. Tatapan itu miliknya. Kosong tak berisi. Berpendar bola matanya. Menyapu seluruh perasaan #puisimalam

91. Kisah ini bertanya tanya. Mata hatiku meragu kala sinarnya meredup menjelma menjadi abu. #puisimalam

92. Jika senja hendak memudar. Tanggalkan cahayanya. Luruhkan rasa nostalgia. Tenggelam termakan khatulistiwa #Lembarpuisi

93. Kadang hanya malam temani sepiku. Meleburkan segala kecemasan. Menanti sang surya membelai rasa #Lembarpuisi

94. Dalam pelukan aku bersimpuh. Menelan pahitnya dunia. Apa yang perlu kutunggu jika kamu terus menghapus jejakku #PuisiJejak

95. Wajahnya keras.Terukir garis garis halus disetiap lekuknya. Menatapku luruh. Berucap sayang dan rindu. Ayah #PuisiAyah

96. Kuatkanku pada sejuta kata. Cerita dibalik kalimat. Kisah dibalik buku lusuh. Memicu kehidupan dalam kebisuan #PuisiBisu

97. Sakitku belum luntur. Masih disini menjelaga. Tak pernah kau ingat seberapa nadi ini terus mengaliri pahit getirnya cibiran dan hinaanmu #PuisiMarah

98. Masih cinta segitiga. Sampai mana tujuannya. Rasamu padaku dan padanya. Tunjuk satu tinggalkan seribu kenangan antara kita atau kau dan dia #Puisimalam

99. Kita merangkai memori. Buang kesedihan bangun keindahan. Bersama melawan segala musuh yang mengguncang #Puisimalam

100. Seratus puisi ini untuk malaikat. Tanpa sayap tanpa cincin suci dikepala. Aku yang paling romantis menjadi puitis untuk yang termanis #100PuisiEnd