Selasa, 02 Juni 2015

Ayah Rasa Mantan 2

Semakin ku pikir panjang akan apa yang terjadi semakin kencang dering handphoneku. Hallo?. Suaraku mendadak sedikit penasaran dan lebih dalam daripada biasanya. Semakin dalam aku mendengarkan, emosiku makin tak tertahan. Beliau mengucapkan beberapa kalimat yang membuatku tersulut. Intinya merasa marah dan kecewa denganku. Kenapa harus berhubungan dengan lelaki yang kurang beliau setujui? Masalahnya sepele hanya karena latar belakang keluarga yang dia pandang sebelah mata. Lelaki itu seorang wirausaha, sedangkan yang diharapkan beliau adalah dari kalangan pegawai alias karyawan tetap sebuah perusahaan. 
Panjang lebar dia berkata, sedikit kasar dan merendahkan iya! Responku akhirnya menantang juga. Melawan balik, memprotes yang tidak seharusnya aku lakukan akhirnya aku lakukan. Iya, melawan orang tua. Ayahku sendiri.

Mengapa? Karena menurutku sudah tidak jaman memandang orang dari satu sudut pandang. Hanya karena dia wirausaha dia juga berhak untuk sukses melalui jalannya. Terlebih lagi usaha tersebut menurutku menjanjikan daripada sekedar menjadi karyawan. Yang lebih mulia, lelakiku telah bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain yang membutuhkan pekerjaan daripada karyawan yang notabene ikut orang. Tidak adil jika ayah berkomentar panjang lebar tapi tidak tahu realita yang ada. Dunia ini lebih luas daripada yang dipikirkan, manusia harus lebih kreatif. Jangan mau termakan sistem dan stereotype.

Setelah sekitar 1 jam bertengkar hebat via telpon. Sambil menangis tersedu-sedu, aku menutup telpon itu. Tak perlu kuceritakan kalimat apa saja yang terlontar dan terbalas karena cukup menyakitkan untuk didengar. Menurutku biasa, pasalnya memang hubunganku dengan orang tua terkadang ada gap, beda pendapat yang teramat jauh. Mereka yang mendidikku teramat keras, menuntut sekolah seperti ini seperti itu, harus pintar, serius , sempurna bla bla bla sedangkan nyatanya aku jauh dari kata sempurna dan tidak pernah mendapat dukungan atas apa yang aku pilih. Sudah saatnya aku dengan pilihanku dan mereka harus menghargainya.  

1 jam setelah pertengkaran....
Akhir Mei...

Sohib sohib kosan datang untuk menenangkanku. Mereka justru seperti the real family yang mampu menenangkan disaat jiwaku melampaui batas. Berbagai nasehat kudengar, berbagai komentar kudengar. Meyakinkan bahwa aku bisa melewati ini. Memperpanjang jarak bukan akhir dari hubungan dengan lelakiku. Butuh rencana. Aku hanya meyakini ketika batu yang terus menerut ditetesi air akan berlubang begitu juga hati Beliau.

H-2 Kepindahanku...
Akhir Mei...

Kuperbanyak menenangkan diri, berdiskusi dengan lelakiku. Mendengar cerita dari teman teman yang memiliki masalah lebih besar. Umur 20 sekian merupakan masa transisi. Tak perlu lagi aku melihat teman teman yang tidak memikirkan soal pernikahan karena mereka ingin berkarir, tapi yang kulihat adalah kesempatanku ternyata tidak sama dengan mereka. Aku dihadapkan dengan sosok lelaki yang siap menikah dan itu yang harus aku hadapi, bukan lagi lelaki yang sepantaran denganku yang baru lulus dan masih hahahihi mencari pekerjaan bahkan sebagian dari mereka masih menganggur. Ketahuilah kondisiku berbeda, itulah yang membuatku merencanakan masa depan yang lebih pasti daripada yang lain.

H-1 kepindahanku...
Akhir Mei...

Kubangun rencana ku bongkar lagi, sedikit menangis banyak berpikir ulang dan ulang. Mulai terbiasa dengan ini. Memikirkan bagaimana cara menghadapi Beliau nantinya dan apa yang akan kulakukan di rumah. Rasa bingung merayapi tapi aku tetap yakin semua akan berjalan sesuai apa yang ada. Aku tidak sendiri, berdiskusi dengan Tuhan melegakanku. Waktunya Packing.

Siang hari, 31 Mei hari kepindahanku...

Mencoba untuk tidak bersedih dan tegar. Mengiklaskan semuanya dan legowo. Siang itu, jemputan langsung datang, 15 menit kuangkut barangku tanpa interaksi dengan Beliau. Sama sama tanpa interaksi. Ada yang berbeda, seperti Ayah rasa mantan. Iya. Ibarat kata bertemu mantan yang masih sayang. Tak ada kata, canggung, gengsi, tak ada yang berani memulai tapi masih saling ada. Ada untuk saling menyayangi. 

Kami sama sama gengsi untuk mengulik pertengkaran kemarin. Hingga sekarang 2 hari semenjak kepindahanku. Perang dingin. Rasanya seperti orang lain, cuek tak ingin bicara satu sama lain. Hampir 23 tahun kami erat dan dekat saling bercerita kini tak ada. Hilang, lenyap kenangan itu. 
Baru pertama kali aku dibuat begini oleh ayahku sendiri. Secara fisik, aku baik baik saja, benar benar sehat tapi secara hati terjungkir rasanya diperlakukan sedemikian rupa. Yang menguatkanku adalah pilihan, pilihan untuk tetap bertahan karena pada dasarnya kami sama sama keras. Dan tidak ada satu pun yang mau mengalah. Menset Ayah yang melihat dari satu sudut pandang sedangkan aku yang melihat dari beribu sudut pandang dan kami sama sama tak terkalahkan.

Entahlah, endingnya seperti apa. Kubiarkan diam aku juga akan diam hingga pada akhirnya rencana yang kususun sudah siap untuk dilepaskan. Benih yang aku tanam siap untuk dipanen. Maka disitulah kartuku akan kubuka semua bersama pilihanku di depan Ayahku yang serasa mantan. 

By : Indah

Ayah Rasa Mantan

Malam sebelum keberangkatan ke Malang..
Akhir Mei 2015..

Perasaan campur aduk. Karena ini terakhir kali aku ke Malang. Terakhir kali aku bertemu orang-orang yang aku sayang dan terakhir kali aku bisa memperluas jarak pandangku, bernafas di alam bebas sebelum pada akhirnya aku berkemas dan kembali ke penjara. Beliau sudah tau mengapa dan mestinya beliau sadar betapa rumah seperti penjara bagiku. Tak ada kemajuan di sana yang ada hanya aturan, teralis kamar yang mengekang, jarak pandang hanya 10meter saja. Bukan pula layak disebut dunia kecil yang nyaman tapi penjara yang pantas. Jadi tak berhaklah dia mempertahankan aku di rumah. Aku diam saja masih perang batin rasanya. 

Pagi sebelum berangkat...
Akhir Mei 2015...

Beliau datang dengan suara mengicau pikiranku. Bertanya statusku jika pergi dari rumah. Bekerja tidak, Mahasiswa apalagi! Jangan membuat beban!. Lantas kepentingan apa di sana?. Keluarlah kata kata kembali ke rumah, kamu harus kembali ke rumah. Berpindah, kerja ataupun tidak. Matanya yang tajam meneriakiku seketika.

Aku berpikir sejenak, di rumah aku malah jadi apa? Informasi apa di rumah soal pekerjaan? Tak ada teman sebaya, keluar rumahpun tak boleh. Aku baru lulus dan dituntut kerja secepatnya, apa tak melalui PROSES?. Hargailah sebuah PROSES! Laki laki ini benar benar keras kepalanya. Kolot hati dan jiwanya. Memandang dunia hanya satu sudut pandang sedangkan fungsi mata tidak hanya untuk melihat tapi juga cerminan untuk melihat dunia yang lebih luas.

Di sisi lain Beliau sudah mendengar bahwa aku memiliki calon yang ingin ku kenalkan tapi tidak untuk sekarang, aku masih menyusun rencana masa depan dulu sebelum benar-benar siap menikah setidaknya sampai tahun depan, pikirku waktu itu. Tapi yang ada beliau malah menyuruhku untuk menikah jika itu pilihanku dengan syarat harus mengurus Ibuku lalu Beliau akan bertolak ke Banyuwangi untuk menyendiri di sana.

Sinetron! Hidupku seperti sinetron! Aku masih diam tak bergeming. Air mata yang berbicara tapi tetapku diamkan saja segala gaya bicaranya mengalir melewati tekingaku. Bengkak rasanya.

Sore hari sejak pergi dari Rumah...
Akhir Mei

Perjalanan dari rumah ke Malang, lumayan menguras tenaga tapi lelah itu sirna ketika melihat kamar kosan yang sempurna. Duniaku kembali di kamar kos. Jauh dari Rumah, tanpa aturan tanpa kendali. Besi-besi yang merantai leher mencair. Jadilah diriku sendiri. Santai, tertawa terbahak-bahak. Hingga tawa itu mati seketika, ketika handphone ini bergetar, kuterima sms dari Beliau yang berisi tanggal kepindahanku sudah ditetapkan. Hari minggu akhir Mei. Aku tercekat. Kenapa maju, kesepakatan awal  kepindahan awal bulan Juni. Tak lama handphone berdering cukup kencang. Jantung makin deg degan. Akan ada kejadian, bau bangkai tercium juga.

To be continued.....

By : Indah






Sabtu, 09 Mei 2015

Benar Benar Curhat

Berawal dari keadaan setelah wisuda. Hal yang lumrah ketika seorang sarjana mempertanggungkan gelarnya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu dunia kerja. Akupun begitu mencoba melamar pekerjaan di sana dan di sini. Hanya saja ceritaku sedikit mengandung kegelisahan.

 Semangatku untuk mencari kerja tidak sesemangat ketika aku berbisnis. Aku mencari kerja seolah olah hanya tuntutan orang tua dan tuntutan keadaan "setelah sarjana wajib cari kerja!" Seperti termakan sistem rasanya. Sudah ku sentil kedua orang tua terutama Ayah bahwa aku sedang berbisnis online tapi nyatanya beliau seperti kebal telinganya, menganggap tidak akan berpengaruh terhadap kehidupanku. Akupun hanya bisa diam, tenggorokan rasanya kering, maunya hanya menunduk dan menjalankan perintah yang tak kuinginkan. 

Hingga pada akhirnya aku melamar pekerjaan secara brutal sampai jauh dari rumah demi melihat Ayahku senang. Tak lama, ada panggilan tes kerja di salah satu BUMN. Letaknya 4 sampai 5 jam dari rumah. Hatiku berteriak, semakin ku tolak semakin aku lolos tes. Tes admin, interview awal, psikotes, tes kesehatan dan terakhir interview user. Kini pengumuman sedang ku tunggu. 

Ayahku girang setengah mati "sudah enak kau nanti di sana...BUMN. Hidup mapan. Tinggal di sana juga daerahnya enak". Aku seolah menyalahkan diriku sendiri, seharusnya aku tidak melamar di sana. Di sisi lain kesempatan besar ada di depan mata tapi kenapa hati masih tak bisa menerima bahwa aku akan pergi dari hal hal yang menjadi kenyamananku.

 Perubahan ini terlalu cepat rasanya. Dicabut begitu saja. Baru pertama dalam hidupku untuk bingung berdoa kepada Tuhan, berharap segera di loloskan dan mendapat kerja demi kebahagiaan orang tua namun aku tak nyaman atau berdoa jangan di loloskan kemudian menuai kekecewaan besar dari orang tua tapi hatiku lega. 

Apa ini bentuk ketidaksiapan? Tuhan lebih tau aku siap atau tidak. Benar benar tidak bisa memilih dan hanya bisa menjalani. Tangis menjadi saksi sejadi jadinya. Berbagai pendapat banyak mendoakan agar diterima kerja, aku hanya tersenyum. Semoga diberi jalan yang terbaik. Bangga mampu melewati tes sampai sejauh ini tapi mengapa perasaan tak bisa berbohong bahwa aku seperti "kehilangan". Kalau orang jawa bilang "gelo". 

Apa yang aku perkarakan? Perang batin jadinya. Kini hanya bisa menunggu....menunggu email terakhir. Aku diterima mau tak mau menjalaninya karena sudah terlanjur. Tak diterimapun aku cukup merasa bersalah terhadap orang tua dan berjanji mencari pekerjaan dengan penuh pertimbangan lagi sebagai pelajaran sebelumnya. 

Seakan itu solusi tapi sakit hati. Menjalani bukan waktu yang singkat bukan waktu yang padat tapi bertahan dengan semua rintangan yang menghujat. Aku berencana dengan perlahan agar orang tua mampu memahami keinginan anak sekaligus rencana agar kehidupanku nanti walau tidak seperti yang diharapkan orang tua tapi setidaknya mereka lebih legowo dengan pilihan yang aku ambil. 

Sampai saat ini belum ada yang benar benar membuatku yakin dengan satu pilihan. Semuanya terlalu rancu dan ambigu. Pikiran dan hati sedang kontras rupanya. Aku butuh jalan keluar, adakah yang bisa membantu?

By : Indah
Note : Tulisan jadi besar besar karena ngetik pake hape -_-"

Rabu, 29 April 2015

Sometimes this House feels like a prison.


Sometimes this House feels like a prison.


Kalimat itu yang akhir akhir ini ku rasakan. Like a prison. Terlalu banyak aturan yang harusku rasa. Tak banyak dukungan tak banyak hal yang kulakukan. Terlalu banyak ini itu yang tak kunjung menghentikan kesedihan.


Rumah biasa yang bukan istanaku. Ada isinya tapi bukan milikku. Aku butuh area di mana setidaknya itu "milikku" tempat pribadiku menghinggap di sana. Di mana aku sering menyebutnya, mengenangnya bahkan merindukan setiap inci sudut ruangan. Yang ini tidak...tidak ku rasa demikian.
Apa yang membuatku tak betah? Suasana, aturannya atau orangnya? Semua. Tak diberi kesempatan untuk bercerita tentang aku, diriku seutuhnya mengenai apapun. Pendapat atau harapan bahkan mimpi yang sering dipatahkan semangatnya.


Aku lebih rindu kamar kosku dibanding rumah asliku. Aku rindu ruang 3x3 meter yang itu "milikku" sendiri. Batas teritori yang ku puja dan ku abadikan kegiatan benda matinya. Ada lemari, kasur single yang tak begitu empuk, 2 meja kayu yang saling rebut untuk ditempati barang-barang unik yang ku simpan. Pernak pernik yang selalu ku mainkan jika aku bosan. Itu hanya kamar kos yang sepele tapi di dalamnya ada "aku". Aku seperti pulang kampung rasanya. Hanya diam-pun tak masalah di sana selama benda benda itu tetap menemaniku tetap menjadi ladang ekspresi maha karyaku. 


Rumah bukan berarti istanaku, rumah kadang seperti penjara yang penuh aturan. Walau bentuknya tersusun rapi tapi bukan "milikku" tapi milik orang tuaku. Tak boleh di rombak tak boleh ini itu dan tak boleh memberontak. 


Sometimes this House feels like a prison.



Kamis, 26 Maret 2015

Tak Terhingga Versi SD

Memori yang seharusnya udah di tulis dari dulu tapi baru tertulis sekarang :)
"Tak terhingga" kenangan yang masih saya ingat waktu SD :

1. 2 kali pindah SD karena pindah rumah. Faktanya bahwa saya anak nomaden.
2. Suka jajan jajanan tahun 90an  ex : mie biting, opak, sate telor, gulali dan sohib sohibnya.
3. Pernah bisa lihat "hantu" sampe kelas 3 SD. Terus kok nggak bisa lihat lagi? Soalnya udah kebanyakan dosa.
4. Habis pelajaran Olahraga basah basahan di kali+nangkep ikan terus di bagi bagiin ke orang yang g mampu *berjiwa KWN bangetkan*
5. Bawa bola basket di sekolah terus dilihatin anak-anak, katanya aku keren. *gaul sama norak beda tipis di jaman 90an*
6. Rambut panjang di kepang dua kadang dililit-lilit pake pita pita kayak maria bellen *SD masih imut imutnya*
7. Mainan drama telenovela "Amigos". Aku yang jadi temennya Anna *siapa tuh lupa...*
8. Sejak kecil udah kreatif bikin mainan sendiri ex : masak-masakan dari "gedebok" + tanah liat, bikin gelembung-gelembung dari getah daun waru, bikin rumah-rumahan dari pasir *bakat arsitek nggak kesampean*.
9. Suka nongkrong di depan TV dari jam 5 subuh sampe jam 12 siang, nongkongin Anime.
10. Penyakit asma belum tuntas sembuhnya.
11. Temen kecil di sekitar rumah yg masih diinget tapi kalo ketemu sekarang (di umur 22) canggung dan pura pura nggak kenal. Kresna, Reza (Alm), Rudi, Pipit, Titin, Reni, Betty dan Paat.
12. Pernah nggak di jauhin temen sekelas dan nggak diterima dikelompok manapun *bullying*. Bullying ini yg bikin aku survive dan nggak ngerasa lemah lagi waktu SMA atau SMA, yg ada malah gantian ngebully + tumbuhlah soul goddess of war.
13. Udah ngenal "cinta monyet" pas kelas 6. Sempet pacaran cuma seminggu kalo nggak salah. Kirim surat dan gambar sketsa orang yg disuka. 
14. Ditunjuk ibu guru jadi perwakilan baca puisi di depan pak bupati. *Momen itu udah mahakeren di jamannya*
15. Gerak jalan merupakan momen wajib bagi para anak SD dan aku dulu masih kecil kecilnya jadi di barisan paling belakang. 
16. Paling benci matematika! Paling suka olahraga, Bahasa inggris, kesenian. Paling nggak bisa agama (nulis arab) soalnya merupakan anak yg paling mbulet suruh ngaji *dari sini udah kelihatan nggak solehahhh). Paling bisa nggambar sama nyanyi sekaligus nari (udah kelihatan perbandingan anak solehahhh dan anak yg lunjak lunjak)
17. Rumah waktu itu di tengah-tengah sawah. Jadi paham betul seluk beluk kegiatan pertanian. Nggak hanya tumbuhannya tapi juga hewan hewan yg kayak kebun binatang di sana. Sejak saat itu jiwa lunjak-lunjak terkombinasi dengan back to nature terbentuk. Kalo di film Divergent saya mau masuk Dauntless! Tpi paling takut sama ulat bulu -_-
18. Anak paling jujur sedunia dan nggak bisa bohong. Pernah berniat memanipulasi nilai matematika yg angkanya 30 seenggaknya jadi 70lah tapi apa daya malah kena hukum suruh tidur siang <- Anti tidur siang. Saking antinya tidur siang di situ saya merasa sedih.
19. Nggak pernah dapet juara apapun dari lomba apapun. Sudah terlalu biasa ikut lomba terus dapet dapet piala, lebih memilih mainan layang layang di sawah + nanem bunga matahari. *Gaya pedesaan banget kan*
20. Bener bener nggak pernah ngerasain dan dibolehin jadi Pramuka siaga satu atau kelas elang yang jambore jambore dan kemah kemah sabtu minggu. Katanya "gawe opo pindah nggon turu? Enak turu kasur!" <- Padahal seneng berpetualang sok sokan tersesat dan minta tolong ke orang yg cuma bayangan alias halusinasi.
21. Kenangan paling menyedihkan waktu momen pindah pindah sekolah. Rasanya udah kayak Sherina perpisahan sama temennya. Nyesek nggak bisa ketemu lagi dan harus ngulang perkenalan

Baru 21 point yang teringat mungkin bisa aku sunting kalo ada yg tertinggal. Sunting?! Emangnya wikipedia. Tulisan ini bukan bermaksud untuk narsis atau eksis. Biar saya nggak lupa aja. Sama momen momen berkesan yang nantinya bisa di share sama cucu saya nanti. *Mikirnya udah 50 tahun ke depan*

Senin, 16 Februari 2015

Live free or you die! (The Walking Dead)

Mungkin sudah terlambat untuk menulis film yang satu ini, "The Walking Dead". Saya tidak akan bercerita tentang kapan film ini dibuat, siapa artis atau sutradara yang terlibat di dalamnya atau
kapan si Walker ini dapat berhenti. Tapi saya ingin menulis tentang "Bagaimana jika kita diposisi mereka?" Pilihan apa yang kamu ambil, dibunuh atau membunuh. Bahkan hal itu berlaku untuk orang yang sangat dicintai, ayah, ibu, saudara, pacar bahkan sahabat.

Banyak adegan yang menggambarkan bagaimana mereka diserang "Walker" (red : zombie), bermodalkan senjata api berbagai rupa dan peralatan tajam lainnya. Betul, Walker di sini tidaklah seagresif yang dibayangkan. Dia hanya berjalan lambat, menyeret-nyeret kakinya yang patah, badan berlumuran darah, tulang pipinya terkoyak,  mengeluarkan suara mendesis dan mengeram. Solusinya adalah kamu hanya perlu mendekati dan menusuk kepalanya tapi "just imagine" walker itu adalah ibumu..orang yang teramat kamu sayangi, walker itu adalah salah satu bagian dari keluargamu. Seberapa tega untuk mengambil keputusan  kamu harus menusuk kepalanya dengan besi tajam atau menembak kepalanya hingga hancur? sedangkan di sisi lain kamu harus bertahan  dalam sebuah kelompok kecil, mungkin sekitar 10 sampai 15 orang dan kamu harus bersama untuk mempertahankan kehidupan. Satu terinfeksi dan kamu tidak segera bertindak hanya karena itu ibumu?? semuanya akan mati. Begitu emosional.



Kelompok yang dibahas merupakan kelompok dari orang yang terinfeksi tapi dia masih hidup, orang yang belum berubah menjadi Walker. Memiliki kesempatan untuk sembuh. Mereka terdiri dari orang-orang yang berbeda latar belakang, sifat, RAS, tingkat tempramen yang berbeda-beda, termasuk wanita dan anak-anak. Menyatukan berbagai perbedaan tidak lah mudah hingga pada akhirnya beberapa orang yang tidak mau beradaptasilah yang gugur. Selain adegan penyerangan, yang paling menyentuh adalah cerita mereka bertahan, benar-benar rasional bagaimana cara komunikasi mereka, bagaimana perubahan sikap orang yang sabar, lugu dan bijaksana menjadi amburadul ketika berhadapan dengan situasi yang sulit dan penuh dengan tekanan. Konflik batin, orang-orang menjadi sensi dan saling tuduh, mennyalahkan, tertekan, stress digambarkan sedalam mungkin dalam film ini. 
Mereka sudah tidak bisa berfikir secara rasional lagi. Banyak kemungkinan, penjahat makin jahat, penjahat menjadi baik, orang baik menjadi lebih kejam dari penjahat "asline wong iku apikan tapi karena dek e tertekan ae maleh dadi ngunu", yang baik semakin baik. Ada!.Tidak ada pecitraan! yang hanya dipikiran mereka adalah "Bagaimana aku bisa terus bertahan hidup dengan orang-orang ini".

Bayangkan kalau kamu jadi salah satu dari kelompok itu, apa yang harus kamu lakukan? Di sini tidak ada pemimpin atau anggota semua berhak mengeluarkan pendapat yang terbaik dari yang paling baik. Pendapat yang paling mendekati kehidupan akan diikuti, karena sekali salah langkah hancurlah semua.  Kok bisa? Misalnya :
Ada adegan di mana mereka menemukan sebuah penjara yang dipenuhi Walker dan hari sudah mulai gelap. Logikanya adalah "koen gelem gak gelem kudu manggon kunu kan?" yang manja-manja menggerumun "koen golek mati, penjara penuh dengan bla..bla..bla..tidak aman, lebih aman di alam terbuka...dll".  Belum lagi pendapat yang lain mengatakan "Wes aku pasrah ae...pasrah kepada tuhan, berdoalah semoga....". Nothing to do. Bahkan ada yang emosi "Janc*k, f*uck*ng Sh*t...i dont wanna do this". Dia Menembak ke langit seolah-olah dengan tembakan itu menyelesaikan masalah justru yang ada para Walker semakin berdatangan karena tertarik dengan suara tembakan. Satu kesalahan kecil mengakibatkan satu kelompok  diserang. Tapi dalam film ini tentu ada lakon utama yang alhamdulillah masih memiliki emosi yang waras dari pada yang lain.

Selalu mengambil dari sisi positifnya, Misalnya "mungkin kita menemukan penjara yang penuh tahanan zombie, kita bisa mengambil resiko dengan membunuh beberapa dan merebut separuh lahan. Soal keamanan, kita bisa menggunakan pagar besi penjara untuk sementara dan secara bergantian melakukan pengawasan bahkan penjara itu akan banyak senjata yang bisa kita gunakan. Soal makanan, jika di alam terbuka resiko lebih besar namun di dalam penjara pasti para sipir memiliki gudang makanan untuk dikonsumsi dalam waktu lama begitu juga soal kebutuhan medis. Menemukan penjara seperti menemukan emas".
Jelas, berkomentar seperti ini terlihat mudah,  simpel tapi kenyataannya..ini pendapat pribadi jika saya berada dalam kondisi itu, saya butuh seseorang yang bisa mendinginkan kepala saya terlebih dahulu baru bisa berpikir dengan akal sehat.

Film ini benar-benar mengajarkan tentang arti dari pilihan di tengah-tengah tekanan dan zona nyaman. No internet, No cell phone, Homeless, Chaos, No rules, Walker in every place and every time. Live free or you die!

Kamis, 09 Oktober 2014

22

Boneka anjing dari segala boneka anjing.Bernama Qitmir.....
Hai Qitmir....

Qitmir berbulu coklat keemasan kontras dengan bulu telinganya yang coklat tua.
Suka coklat...suka coklat...
Teman tidur, teman bermimpi...
Berjalan sendiri tanpa tali..

Qitmir punya filosofi...
Anjing dari segala anjing...Raja anjing milik ashabul kahfi.
Satu-satunya anjing yang masuk surga.
Qitmir menemani dan melindungi. Jadi jangan takut bermimpi.
Anjing mana yang tak kenal Qitmir, jadi namai saja Qitmir.

Kata sang pemberi...




by : Indah
Kapan-kapan bisa upload fotonya Qitmir
Selamat berkendara diangka 22
Segalanya Indah :)