Selasa, 11 Agustus 2015

Hari Setelah Keputusanku (Dont Cry)

Aku hanya terdiam setiap malam. Membayangkan kenangan kita selama ini.
Sekilas tak hanya indah tapi begitu terluka. Cinta membuat kita berubah.
Keputusanku merupakan hal yang gila. Membuat semuanya hampa.
Tak ingin kembali mencinta rasanya. Hanya menyalahkan keadaan dan jarak.
Iya, nyatanya aku membenci jarak kita. Jarak yang sulit kau tempuh begitu juga denganku.
Andai kau ada di sini atau mencoba sekedar membujukku dengan rayuan suaramu.
Karena tulisan tak berarti apa apa. Tulisan tak mengubah apapun, mereka tak pernah nyata.
Bahasa tulisan tak pernah membuatku berkutik atau luluh.

Our LOVE changed so easily
Only scars remained within our greediness gotta let you go and please dont cry
I was so mean to you
I hurt you because i foolishly didnt know what to do with myself and please dont cry

Mempersiapkan diri untuk kembali padamu adalah hal yang kuidam-idamkan. Tapi apa dirimu sudah menutup semua pintu?
Pintu maaf dan kesempatan masih terbuka untukmu, perjuangkan aku tanpa lelah.
Setiap detailmu masih kuingat jelas dan tersusun rapi di dalam saraf otakku.
Tak kubiarkan orang lain menyentuhmu, sayang.
Jangan bersedih.

Is this the end of us? Just until the time the world lets us be together
It's okay baby, please dont cry
The long journey has ended but we will run into each other someday
Lets meet again if we're born again
Beberapa bulan ke depan, aku ingin kita bertemu lagi dengan keadaan baik baik saja. Masih seperti dulu...
Dengan kemantapan diri dan segala persiapannya. Aku dengan bangga membawamu menjadi pendampingku.
Itu hanya jika kau ingin kembali. Tanpa mengingat betapa buruknya jika kita bertentangan.

We fought every single day
I dont know why i was that mad but i cried every night
Baby i cried..
You were so indifferent towards me
You left me alone for many nights
Baby i cried...

I'll think of our beautiful memories
Whenever i cry please stop being hurt now and please dont cry
Its okay baby, please dont cry


Ketahuilah, semua bukan final. Masih banyak jalan untuk Tuhan mempertemukan kita. Optimislah.
Fokuslah dengan keadaan sekarang. Jangan jatuh sekarang..masih banyak kesempatan.
Untukmu 2 tahunku.

By : Indah
Song : Park Bom - Dont Cry

Rabu, 08 Juli 2015

CODE

Kepada Tuhan yang beralamat jauh di sana.

Aku sepenuhnya tidak tau apa yang akan ku bicarakan. Aku mencoba berkomunikasi denganmu melalui doa di setiap sholatku but sometimes i need more than pray jadi ku tulis.

Kita mencoba berbicara ala aku dan kamu terdengar lebih bersahabat. Mencoba untuk lebih dekat. Oke...mmm memasuki malam seribu bulan. Aku tau kamu tidak akan menjatuhkan malam itu padaku. Di luar sana banyak yang lebih beriman dan bertaqwa duluan dari pada aku tapi banyak pertanyaan yang muncul di benakku. Seperti apa rasanya mendapat malam lailatul qadar? Apa tanda dan apa yang harus ku lakukan untuk mendapatkannya? Bisakah membedakan mana yang dapat malam qadar dan mana yang tidak? Aku membacanya melalui internet dan bertanya pada seorang teman. Aku bertanya seperti orang bodoh because i am nothing. 

Aku berkata jujur tentang diriku yang masih jauh dari kata beriman dan bertaqwa tapi aku tidak malu. I want to fix something. Problem in my life. Berharap padamu untuk memberiku kesempatan. Ini semacam negosiasi. Yaa..can you..can you give me little thing about that night? Mungkin suatu malam aku terjaga kemudian ada cahaya dari langit yang menunjukkan bahwa "indaah itu itu...ini saatnya atau itu petunjuknya..." walaupun bukan aku yang mendapatkannya. Mungkin lewat mimpi. You know i am dreamer *sigh* 

Terlepas dari itu, lagi lagi doaku tetap sama meminta restumu ketika orang tua belum merestui maka aku harus meminta padamu. Untuk segala kehidupanku. Aku tidak bisa berada di kondisi ini terus. Harus move on. I have choice for my everything. Aku harus bekerja, usaha. Meminimalisir dosa, Aku ingin menikah. Mencoba sesuatu hal yang lebih baik, better than before. Menyempurnakan ibadahku.

This is code. You know C.O.D.E. I want to fix something, Lailatul Qadar, husband? I mean...my future with your permission hehehe

Without YOU i am just a dust 
Love you, God :* :*

By : Indah



Rabu, 01 Juli 2015

Wild Tales : We Can All Lose Control



Aku berusaha cerita tanpa adanya urutan skenario film Wild Tales .  Aku juga tidak akan berbicara soal kapan waktu tayang atau dari mana film ini berasal bisa dilihat di Google.

Wild Tales,  jika mendengar namanya  itu seperti salah satu fim yang menyangkut  hal-hal mengenai keliaran atau kekejian tapi secara garis besar, film ini merupakan gabungan 6 cerita yang menurutku tentang adanya “sebab-akibat”. Orang  menjadi tertekan karena keadaan lingkungan dan pada akhirnya kehilangan kendali atas dirinya.


Cerita pertama, mengisahkan adanya pembajakan pesawat oleh seorang pemuda (Pilot pesawat). Kenapa membajak pesawat? Karena dia dendam dengan semua orang yang pernah membuat masalah dengan dirinya. Orang – orang (penumpang pesawat) yang pernah menghancurkan kisah percintaannya hingga orang-orang yang menghancurkan karir kehidupannya. Dikumpulkan menjadi satu sebagai penumpang di salah satu pesawat boeing. Bagaimana caranya dia menyatukan seluruh penumpang? Di film itu tidak dijelaskan secara spesifik tapi apa yang membuat ketahuan bahwa seluruh penumpang baru menyadari kalau pesawat dibajak kemudian dijatuhkan oleh Pilot? Dialog acak. Dialog 2 orang  penumpang yang bercerita tentang satu nama yaitu nama pilot itu dan secara spontan lawan bicaranya merasa kenal dengan nama tersebut tapi dengan peran dan kepentingan yang berbeda. Serunya di sini. Ketika dialog itu terjadi, ada beberapa penumpang yang menguping pembicaraan dialog acak antar dua orang ini, kemudian menyadari bahwa orang yang dimaksudkan adalah orang yang sama yang juga pernah mengalami masalah berat dengan dirinya begitu juga dengan seluruh penumpang yang ada di Pesawat tapi dengan kasus yang berbeda-beda. Ketika mereka sadar bahwa mereka memang sengaja dipertemukan di Pesawat, di saat itulah nyawa seluruh penumpang beserta pilot tidak lagi terselamatkan.

Ini baru cerita pembuka dan menurutku luar biasa karena membuatku berpikir bahwa suatu saat akan ada kejadian seperti ini, karena “kendali seseorang  terhadap dirinya mempunyai batasan” begitu terasa di film ini. Tampak nyata.

Cerita kedua sampai lima, aku harap kalian harus menonton sendiri karena tidak akan berkesan jika aku terlalu banyak spoiler. Langsung ke cerita penutup yang paling favorit menurutku. Tentang cinta.



Pesta pernikahan antara Romina dan Ariel. Romina benar-benar bahagia dalam hidupnya karena menikah dengan pria idamannya Ariel. Pesta berlangsung meriah dan benar-benar membuat semua orang ikut berdansa untuk kebahagiaan kedua mempelai. Tak lama ketika acara dansa usai, Romina bergegas memenuhi panggilan salah seorang tamu yang ingin dikenalkan dengan teman-teman sejawatnya termasuk teman-teman Ariel yang di undang di pesta. Ketika Romina menjelaskan salah satu teman wanita Ariel yang bernama Lourdes, Romina melihat dari kejauhan betapa Ariel menyentuh Lourdes dengan sangat mesra dan lembut layaknya pasangan kekasih. Di situlah insting seorang Romina yang mencintai Ariel sepenuh hati berkata bahwa Lourdes adalah selingkuhan Ariel selama ini.

Romina menguatkan diri untuk membuktikan asumsinya dengan mengambil handphone dan mencoba menelpon salah satu normor yang diberi nama “guru gitar Ariel” nampaknya asumsi Romina benar. Tak lama, dering handphone itu diangkat oleh Lourdes yang sedang duduk sebagai tamu undangan di salah satu meja bundar. Dari jauh Romina tersentak, amarah tak tertandingi mengontrol jiwa dan hatinya. Hanya ada rasa sakit dan amarah. Cintanya tak lagi tampak, pernikahan indahnya tak lagi bahagia. Lourdes segera menutup telpon, dia tau bahwa ketahuan Romina. Senyum keruh tampak pada bibir Romina, dia mengajak dansa Ariel untuk pembuktian berikutnya bahwa benar Ariel selingkuh. Romina memberikan beberapa pertanyaan menyangkut siapa guru gitarnya?  Ariel berkilah dan berkilah hingga Romina menarik kesimpulan tidaklah mungkin di dunia ini banyak orang menjual handphone berbagai merk dan seorang guru menjual handphone bekas kepada Lourdes jika bukan guru itu adalah Lourdes sendiri. Ariel membeku, wajahnya membiru. Romina melontarkan pertanyaan terakhir di tengah-tengah dansanya apakah Ariel pernah bercinta dengannya? Ariel menjawab Iya dengan pasrah.

Seketika Romina tertunduk dan menangis sejadi-jadinya, luntur semua riasan di wajah dan rambutnya. Mahakacau. Berusaha menampik amarah yang ada di dada dan rasa panas yang tersangkut di kerongkongannya. Dia berlari ke atap gedung pernikahan hendak melompat lantas di cegah oleh seorang koki. Ditenangkanlah batin dan pikirannya. Bahwa kasus wanita diselingkuhi bukanlah dia saja. Sejenak Romina berpikir jernih, menatap koki tersebut dalam-dalam kemudian menciumnya dan bercinta dengannya di atap gedung. Alih-alih untuk menunjukkan bahwa aku juga pernah bercinta dan melampiaskan semuanya. Kita satu sama.

Ariel menyusul Romina setelahnya, sampai di atap gedung melihat secara langsung bagaimana Romina bercinta dengan sang koki. Dramatis. Romina menegadah, bangkit dari tubuh rebahnya, si koki terbelenggu bersalah. Romina menatap Ariel bukan seperti Romina yang dulu melainkan sudah menjadi iblis bagi Ariel. Murka wajahnya memaki Ariel, mengancam, mengutuk dan menyumpah seumur hidupnya hingga akan menyengsarakan sampai ajal menjemput. Tak berhenti sampai di situ, dia akan menguasai seluruh harta kekayaannya setelah Ariel meninggal. Betapa gelap hati Romina kala itu.

Gaun tile pengantinnya mengepak menghina Ariel. Sudah compang camping memang tapi Romina mampu berjalan kembali ke pesta, menyuruh sang DJ memainkan musik paling meriah. Dengan tampang seolah “baik baik saja” dia mengajak teman-temannya menari-nari berputar. Para undangan mulai menyadari hal yang aneh. Tubuh Romina tertuju pada Lourdes, dia berjalan ke arah Lourdes. Lourdes ketakutan merasa ada yang tidak beres. Diajaknya menari Lourdes, berputar-putar, pusing, mual, Romina meneriaki Lourdes “Kau harus tau bagaimana rasanya taman hiburan rollercoaster seketika ditutup!” sedetik itu, dihantamkannya Lourdes di cermin sebesar jendela jaman Belanda. Pecah, berdarah dan keduanya terluka.

Sampai sini, aku tidak akan bercerita lebih dalam kelanjutan dan akhir ceritanya. Dapat diambil pelajaran bahwa ketika wanita yang sensitif atau bahasa gaulnya “baper” akan ada masa dia tidak bisa lagi menahan sakitnya. Aku menonton film ini karena opini objektif dan subjektif. Objektifnya, film ini bisa diambil hikmah bahwa setiap apa yang kita perbuat menyakiti atau disakiti pasti akan ada hasil yang kita tuai di kemudian hari. Subjektifnya, salah satu kelemahanku menyangkut perasaan adalah membenci perselingkuhan dengan adanya film ini aku bisa menunjukkan pada orang yang saat ini ingin serius denganku maka seriuslah “percepat kata serius itu” dan aku berusaha menunjukkan gambaran nyata melalui film ini. Aku juga tidak pernah tau, film ini dibuat dengan skenario seperti itu dan aku secara acak memilih film di list movie-ku untuk kutonton dan kupilih WILD TALES.

By : indah
Source : Gambar jelas Google


Minggu, 14 Juni 2015

Do it Yourself #DIY

Membuang waktu dengan membuat sesuatu yang lebih berguna. Bertambah lagi hobi baruku. Banyak orang menyebutnya #DIY atau Do it Yourself yang artinya bikin sendiri. Barang apapun bisa di daur ulang atau sekedar di tambah aksesoris sana sini.

Awalnya cuma bikin buat properti foto aja tapi lama kelamaan nagih yang lain lainnya. Bikin craft dari beberapa barang kosan sampai barang rumah yang kelihatannya terlalu polos untuk dilihat mata. Meskipun hasilnya tidak terlalu artistik secara bukan desainer tapi bolehlah buat nambah hobi baru.

1. Pink Charger 
Bagi yang bosen sama charger yang gitu gitu aja bisa tuh pake washitape lucu-lucu. Washitape, sejenis isolasi motif yang lagi trend dikalangan para pecinta #diy. Motifnya banyak banget mulai dari renda-renda yang aku pake sampe gambar-gambar lucu. Bisa beli di gramed-gramed terdekat atau di online shop dengan harga kira kira 10 sampai 20ribu per piece.


2. Headset Polkadot
     Pas nganggur bisa nih pake kutek buat main main. Cukup pake kutek yang dipunya + headset yang polos kemudian bisa dicat sesuai selera. Jadi deh kayak di gambar. So simple...


3. Jepit Tampak Baru
Masih sama kayak yang di atas. Cuma butuh kutek + jepit warna putih terus dioles olesin sesuka hati. Bagi yang susah dapet inspirasi, mudah kok tinggal download aplikasi Pinteres, searching- searching craft yang mau di buat kayak apa. 


4. Flower Ball
Aku cuma butuh wadah bentuk bola yang bisa didapetin dari wadah body creamnya oriflame + bunga-bungaan plastik yang kebetulan bekas dari flower crown yang nggak terpake lagi. Untuk alatnya bisa pake lem tembak. Mudah dan bisa di taruh di meja kecil.


5. Love Bottle
Untuk hiasan meja belajar nggak melulu harus bunga juga, bisa pake botol bekasnya UC1000 + kertas karton nganggur + sisa pengharum ruangan buat bulet-buletnya. Semuanya bekas kok nggak perlu beli baru :) 


6. Letter Love 
Siapa bilang surat cinta harus pake amplop. Kali ini aku bikin yang lebih lucu biar nggak bosen. Bikin sama temen biar nggak kesepian. Pake kertas bekas biar lebih hemat. Ada washitape renda untuk mempercantik gulungannya + wadah toples. Kalau meja udah nggak cukup bisa dikasi ke temen sebagai kartu ucapan yang nggak harus bentuk surat. Cewek kan suka barang yang lucu - lucu.


7. Jepit Mini
Aku nemu 2 jepit mini ini di kolong meja. Sayang kalo di buang akhirnya dimodif dikitlah. Pake lem tembak + pernak pernik bunga. Niatnya aku kasih keponakan tapi keponakan nggak tawar rambutnya dikasi beginian. Berfungsi juga buat pembatas buku, biar nggak kartu indosat mulu yang jadi pembatasnya hehe.


8. Pop Up Card
Pop Up Card jadi salah satu favoritku. Yang ini, aku bikin sama temenku buat pacarnya yang lagi ulang tahun. Berharap si cowok ngasi ginian ke cewek tapi ini kebalik. Okelah aku bagian bantuin bikin beginian. Hasilnya memuaskan. Biasanya ukuran normal sih sebesar kartu ucapan biasa tapi yang ini, Pop up cardnya sebesar 2 kali A3 dan dilipet mirip buku. Kalo dibuka muncullah balon balon + kata-kata happy birthday yang menggantung-gantung. Pop up card ini pada dasarnya kayak 3D gitu. Kalo dibuka kartunya nanti bisa muncul gambar atau tulisan yang ingin di pop. Bisa dijadikan ladang bisnis nih supaya kartu ucapan nggak melulu flat gitu gitu aja.  Ada yang mau pesan? Hehe.


9. Dompet Plastik
Kalau yang ini mungkin udah banyak yang tau. Terbuat dari botol-botol plastik yang dipotong terus di gabungin menggunakan resleting. Jadilah dompet buat uang receh. Tapi yang ini aku bikin sama juga dari botol fanta bekas gitu. Dekornya biar nggak polosan aku beri lilitan benang wol putih terus aku cat air. Biar makin cantik di tambah kancing-kancing di atasnya. Bisa dibuat celengan juga. Cuma menghabiskan uang Rp. 3800 aja buat beli resleting+kancing. Terkadang nggak semua craft yang dibikin bekas secara keseluruhan, kalo mau makin rame ya perlu uang lebih. Bisa dengan menyisakan uang, bikin beginian nggak sampe makan uang ratusan ribu kok. Mentok 50ribu, yang bikin agak mahal adalah alatnya, macam lem tembak.


10. Magnet Kulkas
Jangan sungkan-sungkan menghalangi teman yang akan membuang sesuatu, yang baginya nggak berguna. Jadi ceritanya, ada beberapa magnet-magnet kecil yang bagi temenku si Hanip nggak tau mau diapain. Dari pada dibuang mending buat aku aja. Sayang kalau dibuang bisa bikin magnet kulkas. Gimana caranya? Menggunakan tutup botol bekas kemudian aku kasih aksen warna-warna dari kutek + kertas bentuk bunga yang aku gunting buat tutup bagian bawah, sebelumnya aku kasih cat air warna merah biar lebih menarik minat. Lumayan Raisya, keponakanku suka dan kulkas jadi nggak tampak kosong. 



10 benda yang bisa dibuat sendiri di rumah. Do it yourself !. Sebenernya masih banyak sih yang bisa aku share, mungkin di postingan selanjutnya. Pesanku sih jangan sia siakan barang yang masih berguna. Kalau bukan kita yang memulai untuk kreatif siapa lagi? Cuma butuh telaten aja, kalau soal inspirasi bisa didapatkan di situs-situs web DIY salah satunya di Pinteres. Banyak dari Pinteres yang membuatku memperoleh inspirasi. Karya lain biasanya aku posting di ig : indahivo

Ingat kalo bukan kita yang memulai untuk kreatif siapa lagi?

By : Indah
Photo by : Henpina Asus Z6





Selasa, 02 Juni 2015

Ayah Rasa Mantan 2

Semakin ku pikir panjang akan apa yang terjadi semakin kencang dering handphoneku. Hallo?. Suaraku mendadak sedikit penasaran dan lebih dalam daripada biasanya. Semakin dalam aku mendengarkan, emosiku makin tak tertahan. Beliau mengucapkan beberapa kalimat yang membuatku tersulut. Intinya merasa marah dan kecewa denganku. Kenapa harus berhubungan dengan lelaki yang kurang beliau setujui? Masalahnya sepele hanya karena latar belakang keluarga yang dia pandang sebelah mata. Lelaki itu seorang wirausaha, sedangkan yang diharapkan beliau adalah dari kalangan pegawai alias karyawan tetap sebuah perusahaan. 
Panjang lebar dia berkata, sedikit kasar dan merendahkan iya! Responku akhirnya menantang juga. Melawan balik, memprotes yang tidak seharusnya aku lakukan akhirnya aku lakukan. Iya, melawan orang tua. Ayahku sendiri.

Mengapa? Karena menurutku sudah tidak jaman memandang orang dari satu sudut pandang. Hanya karena dia wirausaha dia juga berhak untuk sukses melalui jalannya. Terlebih lagi usaha tersebut menurutku menjanjikan daripada sekedar menjadi karyawan. Yang lebih mulia, lelakiku telah bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain yang membutuhkan pekerjaan daripada karyawan yang notabene ikut orang. Tidak adil jika ayah berkomentar panjang lebar tapi tidak tahu realita yang ada. Dunia ini lebih luas daripada yang dipikirkan, manusia harus lebih kreatif. Jangan mau termakan sistem dan stereotype.

Setelah sekitar 1 jam bertengkar hebat via telpon. Sambil menangis tersedu-sedu, aku menutup telpon itu. Tak perlu kuceritakan kalimat apa saja yang terlontar dan terbalas karena cukup menyakitkan untuk didengar. Menurutku biasa, pasalnya memang hubunganku dengan orang tua terkadang ada gap, beda pendapat yang teramat jauh. Mereka yang mendidikku teramat keras, menuntut sekolah seperti ini seperti itu, harus pintar, serius , sempurna bla bla bla sedangkan nyatanya aku jauh dari kata sempurna dan tidak pernah mendapat dukungan atas apa yang aku pilih. Sudah saatnya aku dengan pilihanku dan mereka harus menghargainya.  

1 jam setelah pertengkaran....
Akhir Mei...

Sohib sohib kosan datang untuk menenangkanku. Mereka justru seperti the real family yang mampu menenangkan disaat jiwaku melampaui batas. Berbagai nasehat kudengar, berbagai komentar kudengar. Meyakinkan bahwa aku bisa melewati ini. Memperpanjang jarak bukan akhir dari hubungan dengan lelakiku. Butuh rencana. Aku hanya meyakini ketika batu yang terus menerut ditetesi air akan berlubang begitu juga hati Beliau.

H-2 Kepindahanku...
Akhir Mei...

Kuperbanyak menenangkan diri, berdiskusi dengan lelakiku. Mendengar cerita dari teman teman yang memiliki masalah lebih besar. Umur 20 sekian merupakan masa transisi. Tak perlu lagi aku melihat teman teman yang tidak memikirkan soal pernikahan karena mereka ingin berkarir, tapi yang kulihat adalah kesempatanku ternyata tidak sama dengan mereka. Aku dihadapkan dengan sosok lelaki yang siap menikah dan itu yang harus aku hadapi, bukan lagi lelaki yang sepantaran denganku yang baru lulus dan masih hahahihi mencari pekerjaan bahkan sebagian dari mereka masih menganggur. Ketahuilah kondisiku berbeda, itulah yang membuatku merencanakan masa depan yang lebih pasti daripada yang lain.

H-1 kepindahanku...
Akhir Mei...

Kubangun rencana ku bongkar lagi, sedikit menangis banyak berpikir ulang dan ulang. Mulai terbiasa dengan ini. Memikirkan bagaimana cara menghadapi Beliau nantinya dan apa yang akan kulakukan di rumah. Rasa bingung merayapi tapi aku tetap yakin semua akan berjalan sesuai apa yang ada. Aku tidak sendiri, berdiskusi dengan Tuhan melegakanku. Waktunya Packing.

Siang hari, 31 Mei hari kepindahanku...

Mencoba untuk tidak bersedih dan tegar. Mengiklaskan semuanya dan legowo. Siang itu, jemputan langsung datang, 15 menit kuangkut barangku tanpa interaksi dengan Beliau. Sama sama tanpa interaksi. Ada yang berbeda, seperti Ayah rasa mantan. Iya. Ibarat kata bertemu mantan yang masih sayang. Tak ada kata, canggung, gengsi, tak ada yang berani memulai tapi masih saling ada. Ada untuk saling menyayangi. 

Kami sama sama gengsi untuk mengulik pertengkaran kemarin. Hingga sekarang 2 hari semenjak kepindahanku. Perang dingin. Rasanya seperti orang lain, cuek tak ingin bicara satu sama lain. Hampir 23 tahun kami erat dan dekat saling bercerita kini tak ada. Hilang, lenyap kenangan itu. 
Baru pertama kali aku dibuat begini oleh ayahku sendiri. Secara fisik, aku baik baik saja, benar benar sehat tapi secara hati terjungkir rasanya diperlakukan sedemikian rupa. Yang menguatkanku adalah pilihan, pilihan untuk tetap bertahan karena pada dasarnya kami sama sama keras. Dan tidak ada satu pun yang mau mengalah. Menset Ayah yang melihat dari satu sudut pandang sedangkan aku yang melihat dari beribu sudut pandang dan kami sama sama tak terkalahkan.

Entahlah, endingnya seperti apa. Kubiarkan diam aku juga akan diam hingga pada akhirnya rencana yang kususun sudah siap untuk dilepaskan. Benih yang aku tanam siap untuk dipanen. Maka disitulah kartuku akan kubuka semua bersama pilihanku di depan Ayahku yang serasa mantan. 

By : Indah

Ayah Rasa Mantan

Malam sebelum keberangkatan ke Malang..
Akhir Mei 2015..

Perasaan campur aduk. Karena ini terakhir kali aku ke Malang. Terakhir kali aku bertemu orang-orang yang aku sayang dan terakhir kali aku bisa memperluas jarak pandangku, bernafas di alam bebas sebelum pada akhirnya aku berkemas dan kembali ke penjara. Beliau sudah tau mengapa dan mestinya beliau sadar betapa rumah seperti penjara bagiku. Tak ada kemajuan di sana yang ada hanya aturan, teralis kamar yang mengekang, jarak pandang hanya 10meter saja. Bukan pula layak disebut dunia kecil yang nyaman tapi penjara yang pantas. Jadi tak berhaklah dia mempertahankan aku di rumah. Aku diam saja masih perang batin rasanya. 

Pagi sebelum berangkat...
Akhir Mei 2015...

Beliau datang dengan suara mengicau pikiranku. Bertanya statusku jika pergi dari rumah. Bekerja tidak, Mahasiswa apalagi! Jangan membuat beban!. Lantas kepentingan apa di sana?. Keluarlah kata kata kembali ke rumah, kamu harus kembali ke rumah. Berpindah, kerja ataupun tidak. Matanya yang tajam meneriakiku seketika.

Aku berpikir sejenak, di rumah aku malah jadi apa? Informasi apa di rumah soal pekerjaan? Tak ada teman sebaya, keluar rumahpun tak boleh. Aku baru lulus dan dituntut kerja secepatnya, apa tak melalui PROSES?. Hargailah sebuah PROSES! Laki laki ini benar benar keras kepalanya. Kolot hati dan jiwanya. Memandang dunia hanya satu sudut pandang sedangkan fungsi mata tidak hanya untuk melihat tapi juga cerminan untuk melihat dunia yang lebih luas.

Di sisi lain Beliau sudah mendengar bahwa aku memiliki calon yang ingin ku kenalkan tapi tidak untuk sekarang, aku masih menyusun rencana masa depan dulu sebelum benar-benar siap menikah setidaknya sampai tahun depan, pikirku waktu itu. Tapi yang ada beliau malah menyuruhku untuk menikah jika itu pilihanku dengan syarat harus mengurus Ibuku lalu Beliau akan bertolak ke Banyuwangi untuk menyendiri di sana.

Sinetron! Hidupku seperti sinetron! Aku masih diam tak bergeming. Air mata yang berbicara tapi tetapku diamkan saja segala gaya bicaranya mengalir melewati tekingaku. Bengkak rasanya.

Sore hari sejak pergi dari Rumah...
Akhir Mei

Perjalanan dari rumah ke Malang, lumayan menguras tenaga tapi lelah itu sirna ketika melihat kamar kosan yang sempurna. Duniaku kembali di kamar kos. Jauh dari Rumah, tanpa aturan tanpa kendali. Besi-besi yang merantai leher mencair. Jadilah diriku sendiri. Santai, tertawa terbahak-bahak. Hingga tawa itu mati seketika, ketika handphone ini bergetar, kuterima sms dari Beliau yang berisi tanggal kepindahanku sudah ditetapkan. Hari minggu akhir Mei. Aku tercekat. Kenapa maju, kesepakatan awal  kepindahan awal bulan Juni. Tak lama handphone berdering cukup kencang. Jantung makin deg degan. Akan ada kejadian, bau bangkai tercium juga.

To be continued.....

By : Indah






Sabtu, 09 Mei 2015

Benar Benar Curhat

Berawal dari keadaan setelah wisuda. Hal yang lumrah ketika seorang sarjana mempertanggungkan gelarnya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu dunia kerja. Akupun begitu mencoba melamar pekerjaan di sana dan di sini. Hanya saja ceritaku sedikit mengandung kegelisahan.

 Semangatku untuk mencari kerja tidak sesemangat ketika aku berbisnis. Aku mencari kerja seolah olah hanya tuntutan orang tua dan tuntutan keadaan "setelah sarjana wajib cari kerja!" Seperti termakan sistem rasanya. Sudah ku sentil kedua orang tua terutama Ayah bahwa aku sedang berbisnis online tapi nyatanya beliau seperti kebal telinganya, menganggap tidak akan berpengaruh terhadap kehidupanku. Akupun hanya bisa diam, tenggorokan rasanya kering, maunya hanya menunduk dan menjalankan perintah yang tak kuinginkan. 

Hingga pada akhirnya aku melamar pekerjaan secara brutal sampai jauh dari rumah demi melihat Ayahku senang. Tak lama, ada panggilan tes kerja di salah satu BUMN. Letaknya 4 sampai 5 jam dari rumah. Hatiku berteriak, semakin ku tolak semakin aku lolos tes. Tes admin, interview awal, psikotes, tes kesehatan dan terakhir interview user. Kini pengumuman sedang ku tunggu. 

Ayahku girang setengah mati "sudah enak kau nanti di sana...BUMN. Hidup mapan. Tinggal di sana juga daerahnya enak". Aku seolah menyalahkan diriku sendiri, seharusnya aku tidak melamar di sana. Di sisi lain kesempatan besar ada di depan mata tapi kenapa hati masih tak bisa menerima bahwa aku akan pergi dari hal hal yang menjadi kenyamananku.

 Perubahan ini terlalu cepat rasanya. Dicabut begitu saja. Baru pertama dalam hidupku untuk bingung berdoa kepada Tuhan, berharap segera di loloskan dan mendapat kerja demi kebahagiaan orang tua namun aku tak nyaman atau berdoa jangan di loloskan kemudian menuai kekecewaan besar dari orang tua tapi hatiku lega. 

Apa ini bentuk ketidaksiapan? Tuhan lebih tau aku siap atau tidak. Benar benar tidak bisa memilih dan hanya bisa menjalani. Tangis menjadi saksi sejadi jadinya. Berbagai pendapat banyak mendoakan agar diterima kerja, aku hanya tersenyum. Semoga diberi jalan yang terbaik. Bangga mampu melewati tes sampai sejauh ini tapi mengapa perasaan tak bisa berbohong bahwa aku seperti "kehilangan". Kalau orang jawa bilang "gelo". 

Apa yang aku perkarakan? Perang batin jadinya. Kini hanya bisa menunggu....menunggu email terakhir. Aku diterima mau tak mau menjalaninya karena sudah terlanjur. Tak diterimapun aku cukup merasa bersalah terhadap orang tua dan berjanji mencari pekerjaan dengan penuh pertimbangan lagi sebagai pelajaran sebelumnya. 

Seakan itu solusi tapi sakit hati. Menjalani bukan waktu yang singkat bukan waktu yang padat tapi bertahan dengan semua rintangan yang menghujat. Aku berencana dengan perlahan agar orang tua mampu memahami keinginan anak sekaligus rencana agar kehidupanku nanti walau tidak seperti yang diharapkan orang tua tapi setidaknya mereka lebih legowo dengan pilihan yang aku ambil. 

Sampai saat ini belum ada yang benar benar membuatku yakin dengan satu pilihan. Semuanya terlalu rancu dan ambigu. Pikiran dan hati sedang kontras rupanya. Aku butuh jalan keluar, adakah yang bisa membantu?

By : Indah
Note : Tulisan jadi besar besar karena ngetik pake hape -_-"